Mohon tunggu...
Ety Budiharjo
Ety Budiharjo Mohon Tunggu... profesional -

Cinta Dengan Menulis, Menulis Dengan Cinta. My Blog is : etybudiharjo.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Antara Gerimis, Gemerincing Rupiah dan Organ Reproduksi

25 Juli 2016   16:30 Diperbarui: 26 Juli 2016   05:19 86
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Begitu pula dengan mental anak remaja saat ini, kita melihatnya cenderung labil dan cengeng. Mudah emosi dan terpancing oleh sesuatu yang buruk, padahal mereka tahu bahwa itu buruk. Sebenarnya kedua permasalahan ini sama saja, semua pendidikan tentang akhlak dan mental harus dibangun dari rumah—baca keluarga. Hanya keluargalah yang bisa memberikan kasih sayang pada anggota keluarga yang lainnya. Jadi menurut saya semua pembelajaran itu harus dari RUMAH !

Karena jika hal ini terabaikan, maka akan membentuk opini negatif di masyarakat. Jangan salahkan masyarakat jika mereka mengatakan, ah keluarganya aja nggak mau ngurusin apalagi kita. Anak bukan, saudara juga bukan biarin aja lah dia begitu bukan urusan kita. Nah lo, kalau masyarakat sudah memiliki perspektif negatif seperti ini itu karena faktor keluarga tidak hadir di situ.

Faktor kedua adalah ekonomi, siapa bilang ekonomi tidak ada hubungannya dengan kesehatan reproduksi. Sebagai seorang perempuan saya tahu betul bagaimana merawat organ reproduksi. Dari sejak pertama kali menstruasi, ada perawatan khusus yang harus dilakukan untuk menjaga reproduksi tetap sehat. Lalu setelah saya memasuki usia 30 tahun ada pemeriksaan khusus juga terhadap organ reproduksi. Begitupula saat menginjak usia 40 tahun, beberapa waktu lalu saya melakukan cek organ reproduksi dengan melakukan 'papsmear'. 

Perlakuan khusus yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan organ reproduksi tersebut butuh biaya besar. Belum lagi tiap bulannya, perempuan normal harus membeli pembalut jika sedang menstruasi. Ditambah lagi dengan sabun pembersih khusus juga. Bicara soal biaya, pastilah ada nilai uang di situ dan nota bene menyangkut faktor ekonomi. Sejak masa remaja, dewasa dan menua biaya yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan organ reproduksi akan semakin mahal. Bahkan di klinik tidak terkenal saja biaya tersebut sangat mahal. Setahu saya hanya masyarakat dengan ekonomi menengah ke ataslah yang bisa melakukan pemeriksaan tersebut. 

Berdasarkan pengalaman saat menjadi relawan pendampingan rehabilitasi narkoba pada anak, rata-rata mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Alasannya sangat sepele, daripada keinginan mereka tidak terpenuhi ingin memiliki barang mewah lebih baik beli narkoba. Karena dengan begitu mereka bisa mengkhayal memiliki barang tersebut. Ekonomi yang sehat akan bisa menjaga mental yang sehat pula, meskipun hal ini tidak seratus persen tercapai. 

Sayangnya, semua keburukan sudah terjadi kejahatan trafficking, perkosaan, mabuk alkohol dan obat-obatan terlarang kini menjadi lingkungan sehari-hari. Belum lagi pelecehan seksual yang bahkan dilakukan di ruang kelas plus divideokan. Astagfirrulloh al adzim…! Sebegitu nistakah perilaku anak-anak remaja Indonesia saat ini ?   Melihat fenomena tersebut, sebagai orang tua tentu saja saya menahan sedih teramat sangat. Saya ingin berbuat sesuatu, menyelamatkan anak-anak usia dini dari masalahnya. Terlebih lagi terhadap remaja putri yang sudah menjadi korban trafficking atau perkosaan, seperti anak remaja Yuyun.

Jujur saja saya marah, saya sedih kemana orang tua mereka ? Ngapain aja orang tua mereka ? Apa yang dicari oleh orang tua mereka ? Satu hal yang selalu saya ingat, bahwa anak-anak tidak pernah minta dilahirkan. Dan…anak-anak adalah titipan Tuhan yang harus dipertanggung jawabkan kelak. Saya pikir kemarahan dan kesedihan saya tidak ada gunanya jika saya tidak secepatnya berbuat. Oleh karena itulah saya memutuskan untuk bergabung menjadi relawan di salah satu yayasan sosial yang berkecimpung dalam hal penyelamatan, pencegahan dan pemulihan korban trafficking maupun pekosaan.

Di yayasan sosial ini, saya dan relawan lainnya mengedukasi anak-anak tentang seks. Kami tidak tabu mengajarkan mereka tentang seks dan bahayanya. Memperkenalkan organ reproduksi melalui gambar beserta fungsinya. Mengajarkan untuk selalu dijaga jangan sampai ada yang menyentuhnya meskipun tangan sendiri dan seterusnya. 

Kepada anak-anak perempuannya, kami ajarkan bagaimana bersikap saat berhadapan dengan laki-laki. Jangan mudah terbujuk oleh orang yang tak dikenal meskipun diiming-imingi materi. Jangan mau diajak berdua-dua an atau diajak ketempat sepi. Berpakaian yang baik, berdandan sewajarnya dan yang paling penting menjaga kesehatan.

Biasakan buang air kecil di jamban atau kloset di tempat yang tertutup. Setelah itu biasakan 'cebok' dengan air bersih dan mengalir.    Kesimpulannya mengajarkan dengan cara nyata jauh lebih baik daripada mengkhayalkannya.

Ya, mereka benar-benar harus diedukasi dengan penuh kasih sayang. Begitupula dengan korban trafficking, mereka dipulihkan lahir batinnya. Semua diperlakukan seperti anggota keluarga, bukan orang lain. Terlebih lagi bagi korban yang dijual oleh keluarganya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun