Mohon tunggu...
Erma Mardiyyah
Erma Mardiyyah Mohon Tunggu... Guru - Guru dan Pecinta Baca

Seorang Guru di rumah dan di sekolah. Berharap untuk bisa menjadi bagian dari umat terbaik dengan terus belajar dan berdakwah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ketika Aktivis Rohis Jatuh Cinta

5 April 2022   19:50 Diperbarui: 7 April 2022   03:06 1001
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kau adalah misteri, kukagumi sekaligus kutakuti

Kau adalah impian... namun tak pernah ingin kugapai

Kau adalah bintang ... yang indah jika tetap berada di kejauhan.

...

Dia melangkah sambil tersenyum. Dirangkulnya kedua sahabatnya sambil bercanda. Lesung pipit yang selalu tampak saat ia tersenyum menambah pesona intelektualnya yang tak terbantahkan. Berbagai ajang lomba akademik mewakili sekolah tak jarang dimenangkan olehnya. Dari olimpiade, LCC, karya tulis dan siswa teladan. Belum kalau dihitung keshalehannya. Sosoknya yang selalu terlihat ketika shalat zhuhur, dhuha dan tilawah. Ah, jika boleh dikatakan sempurna, dialah kesempurnaan yang dapat kulihat. 

Katakan aku berlebihan. Bukankah tak ada yang sempurna dalam hidup ini kecuali Allah? Benar. Namun, setidaknya dia dengan pintar dapat menutupi semua kelemahannya itu. Astaghfirullah ... aku melafazkan istighfar. Entah kali ke berapa aku terpukau lagi oleh pesona makhlukNya dan melupakan sumber segala keindahan itu. Segera aku menyusul rombongan mereka sambil tak lupa mengucap salam.

"wa'alaikumussalam,... eh mila ya?... " aku menghentikan langkah, menoleh sedikit sambil tetap menundukkan pandangan lalu mengangguk kecil.

ketika aku melanjutkan langkahku yang tertunda ,.. Iqbal melanjutkan ucapannya "dapet salam dari Rafli nih" ia menyikut temannya yang tadi sempat mengacaukan pikiranku.

Aku tersenyum tipis dan bergegas menuju kelas ... tanpa berniat untuk melihat reaksi Rafli. Perasaan ini belum waktunya... meski, ya.. meski... jujur hatiku melambung sangat tinggi. Seketika rumus-rumus kimia yang sudah kuhafalkan rontok. Hafalan juz 28 yang baru saja kumulai begitu susah payah kupanggil. Innnaalillaaahi. Ya Allah tolong aku. 

Lafalku berulang saat aku memasuki ruang kelas, menyapa teman sebangkuku, Raya dan mempersiapkan aktifitas menuntut ilmuku. Aku melayang, tak berpijak. Ucapan Iqbal berputar terus menerus menyirami perasaan kagumku terhadap Rafli yang sudah mulai tumbuh. Ah, ada apa dengan hatiku.

...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun