Mohon tunggu...
Erick Tan
Erick Tan Mohon Tunggu... Teknisi - Pengamat Penelusur Pelurus Sejarah

PRIBADI BIASA MENOLAK SEGALA SISTEM PENINDASAN SEGALA BIDANG DAN ASPEK KEHIDUPAN DALAM SEGALA EKSPRESI HIDUP MAKHLUK BERTUHAN.NASIONALIS DAN RELIGIUS MENDAMBAKAN RAHMATAN LIL ALLAMIN DALAM BERSOSIALITAS DAN SEGALA BENTUK WADAH NYA.BUMI ADALAH TEMPAT BERPIJAK YANG HARUS DI BERSIHAKAN DARI ANGKARA MURKA DAN KESERAKAHAN AKIBAT KEMUNGKARAN.HIDUP DINAMIS BERSAMA ALAM DAN PEMILIK NYA.AMIEN

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hujan Deras dalam Hatiku

31 Maret 2019   13:55 Diperbarui: 31 Maret 2019   13:57 70
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Waktu menunjukan angka 01.50 dan mata ini masih saja tak bisa terpejam. Begitu banyak kegaduhan berkecamuk dalam otak ini. Hujan mulai deras yang sebelum nya di awali oleh angin yang seakan bebas mengumbar amarah ingin merontokan lipatan lipatan atap dari seng di gubuk ini.

Ya, gemuruh makin ramai terdengar, seolah seirama dengan detak jantung ini yang kian tak beraturan. Masih terfikir akan kalut oleh beberapa pertikaian kecil yang sering terjadi dan tak kunjung dapat termusnahkan. Meski ego sudah aku lenyapkan sebagai bukti kedewasaan diri dan lelaki yang kini berstatus suami telah mencoba melakukan peran nya sebaik mungkin.

Aku menerima nya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang mungkin dia punya. Janji ku kepada Yang Maha Kuasa mengalahkan segala sifat dan sikap ku yang sebelum nya juga telah cukup matang. Namun aku juga manusia yang mempunyai banyak kekurangan dalam sudut kerapuhan hati dalam hidup ini.

Setidaknya ini lah aku yang masih terlihat hidup dan bernafas. Engkau kekasih hati yang tak jua segera mengerti dan merubah sikap. Engkau anggap semua seperti laju kereta yang kau kemudikan sendiri melampaui peran mu agar seakan mudah kau permainkan roda roda nya sesuai keinginan mu. Usia yang makin tua tak cukup membuat mu menjadi dewasa, pengalaman serta angin yang berhembus tak mampu menembus batas batas sisi hatimu untuk sekedar mengerti siapa dirimu seharusnya.

Sikap yang condong begitu keras seakan mengalahkan sisi lembut mu sebagai seoarang wanita. Seakan kau tak kenal kodrat mu sendiri, atau mungkin kau tak tau lelaki atau perempuan kah dirimu. Segala yang kau lakukan penuh ambigu yang tak berkesudahan, hingga aku tak mampu mengartikan dengan pasti apa sebenarnya keinginan mu.

Yah, sosial media membentuk manusia baru, himpunan manusia kesepian larut dalam kemanjaan pikir, menelan mentah mentah jutaaan tulisan para musafir media. Internet mengubah manusia menjadi zombie yang haus akan berita tak berguna, virus yang sampai kini belum ditemukan anti serum nya hingga manusia itu sendiri yang membuat batas batas tertentu paparan radiasi nya. Internet yang memiliki dua sisi wajah yang berbeda itu telah berhasil merubah dan menciptakan dunia nya sendiri, membuat isi nya rapuh dan rapuh.

Mengumpulkan dan menciptakan manusia baru yang katanya makin peduli dengan sesama ternyata hanya mabuk di atas papan ketik smartphone dan tanpa aksi yang nyata. Mereka selalu siap menelan dan menuruti semua jutaaan petuah petuah kosong yang sama sekali berbeda dengan kehidupan nyata.

Engkau semakin terjerumus di dalam nya, engkau musnah kan jalinan jalinan kasih. Engkau lupakan dirimu, dan semakin salah dalam mengartikan emansipasi wanita. Ya ideologi baru tempat para wanita karir sembunyikan keburukan nya, hingga tak peduli banyak ibu ibu rumah tangga telah menjadi korban kebodohan nya.

Bertahun berselang entah sebagai seleksi alam atau sekedar hukum sebab akibat, para suami yang seharusnya melindungi juga kehilangan kemuliaan nya, apakah ini murni sebuah kemunduran moral atau sekedar sebab akibat dari ideologi baru nan konyol itu hingga menanamkan kaki seorang perempuan diatas kepala laki laki dan melupakan kodrat nya. Ah siapa mau memikirkan hal semacam ini saat ini, semua orang sibuk dengan isi dompet nya masing masing sibuk memperkaya diri pamer mobil mobil dan perhiasan dunia yang wah bahkan hanya sekedar mendapat label tajir. astaga..

Aku kembali menyulut api pada moncong tembakau ku seiring hujan yang makin deras, Terasa dingin sekarang dan aku hanya berselubung kain sarung saja. Yah baru sadar sedari tadi listrik juga padam, lengkap sudah semua penderitaan ini. Namun mungkin lebih baik agar dunia normal kembali, bukan kah internet akan mati jika listrik padam selamanya, semoga saja.

Ah, sial kopi yang tinggal ampas nya lupa aku minum lagi, entah apa yang membuat fikiran ini seakan bagai selokan yang penuh sampah tak mampu mengalir dan meluap ke semua arah. Hmmm aku bosan, mencoba kembali meraih angan yang tadi sempat menjadi tranding topic di fikiranku. Sekarang aku temukan, mungkin aku bosan dengan sikap nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun