Mohon tunggu...
Erlina Febrianovida
Erlina Febrianovida Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wanita yang masih harus banyak berbenah :-)

Moga yang saya tulis dan bagikan jadi maslahat serta pemberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak, Aamiin... :-)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Check List Penting Saat Dropshipping

10 Februari 2017   14:45 Diperbarui: 10 Februari 2017   15:13 719
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dunia per-onlain-an a.k.a dunia maya memang memberi ragam celah yang bisa di-handle siapapun, nak anak terlebih orang2 dewasa (sepertinya semua lumrah tau soal ini), mulai dari tambah teman – teman baru, ketemu teman lama, salah satu jalan yang Allah beri supaya ketemu seseorang yang akhirnya jadi pasangan kita, menulis mandiri (entah di blog seperti kompasiana, blogspot, wordpress, atau mengusungnya lewat e-book), sampai Alhamdulillah bisa jadi alternatif penambah pundi – pundi hepeng bisa lewat dunia maya. Namun sebaliknya, kalau hanya sampai senang saja lantas “tak perduli” dengan upaya kita dalam ranah maya, itu juga gak asyik sob.

Apa maksud saya “tak perduli” disini?, misalnya saja karena ingin ikut2an trend eksis maka semua medsos yang nge-trend saat itu diikuti, entah ini prioritas atau nggak. Pengecualian kalau memang ada tujuan semisal membangun citra atau brand seperti aktris atau aktor gitu, atau bertujuan untuk bisnis apalagi tujuannya ikut memampukan orang banyak agar lebih sejahtera, ih itu sih bagus bingitss gaes…, tapi kadang ada pula terjadi ke”brutalan” misalkan dalam menambah “teman2” yang kita gak tahu dampaknya dan belum pernah tau sebelumnya sama sekali. Emang gak boleh? Ya bolehlah, sesukanya (lawong saya juga dulu gitu hehehe…), tetapi setelahnya kita pun perlu “rem” supaya apa yang kita kerjakan di dunia per-maya-an tidak jadi celah kejahatan tapi justru jadi manfaat, buat kita syukur2 buat umat. Jadi bila ada kejadian tak enak yang diterima lantaran “hingar bingar” dalam per-online-an tanpa kontrol tentu jadi wajar pula.

Baiklah, cukup disitu saja pengantarnya, yang diatas barusan cenderung kepada sikap personal masing – masing terhadap fenomena dunia maya yang saat ini sudah jadi “ikon” kekinian. Saya ingin saya bagikan disini cakupannya lebih kecil (padahal pangsanya sih kakap bangettss) yakni Bisnis Online. Hhhmmm… langsung deh semua pasti ngeh. Saya juga salah satu pelakunya, tapi masih kelas teri banget, bahkan masuk dalam jajaran penjual online gurem qiqiqi…

Dari sekian hiruk pikuk istilah online, banyak pula yang mafhum soal dropship. Yuhuu… Dropship itu layaknya oase di pandang pasir (halah lebay…), maksudnya kesempatan yang cukup empuk ditengah – tengah kondisi keuangan seorang wirausaha yang modalnya masih belum bertumpuk – tumpuk (lagi lagi saya termasuk yang sedang “demen” dropship karena varian barang yang saya jual gak semuanya ready di rumah, apalagi buat mbeli’nya masih mikir2 dokunya untuk yang lain2, pun sebabnya stok yang di rumah belumlah habis).

Dropship enak dijalankan karena sistem jualannya kita tak perlu nyetok barang, cukup jajakan saja barang2 dagangan supplier, lantas bila akhirnya ada yang membeli, tinggal order saja ke supplier tersebut tanpa perlu packing karena pihak supplier-lah yang akan melakukan packing juga pengirimannya. Enak kan?.

Ya, tetapi saya pun sadari tak ada didunia ini yang mudah begitu saja tanpa perlu perjuangan minimal upaya hati – hati. Kok gitu? Ini yang saya maksud juga sebagai sikap “tak perduli” (bisa juga kurang perdulinya atau murni masih polos belum tau). Dropship seperti juga bisnis online, diantara modalnya adalah kepercayaan membuat yang berpikir bahwa bisnis online itu apik – apik wae istilah kata “pasti benerlah agenku” ini jadi ogah susah atau ribet dikit, padahal dalam dropship ada brand kita yang dipertaruhkan loh (cieee bahasanya…). Dalam dropship, supplier kita itulah yang proses packing hingga pengirimannya, termasuk urusan nulis – nulisin kepada siapa kiriman itu ditujukan dan termasuk menuliskan dari siapa yang ngirim.

Nah… karena kita tak hadir disana maka bila ketemu agen atau supplier “nakal” bisa jadi supplier kita tersebut mencantumkan identitasnya dia yang seharusnya nama / toko kita, yang memungkinkan customer kita beralih ke supplier atau agen tersebut. Emang sih rezeki toh tak kemana, bener juga bahwa itu adalah salah satu resiko bila masih ber-dropshiping ria, tetapi dicelah itulah kadang kita gak kritis (hehehe… biarpun modal minim kan kudu kritis juga bangbro mbaksist) karena sudah seneng banget dapet pelanggan dan agen yang mau diajak dengan sistem dropship jadi lupa deh hati – hatinya.

Berikut adalah poin yang saya dapat dalam sistem dropship dimana supplier yang “bilang”nya akan mencantumkan nama kita tetapi tetep ajah ada embel – embel si supplier itu :

  • Tertulis nama / toko kita di paket tetapi di surat jalan ekspedisi tertulis jelas nama si supplier, Bagus sih kalau customer kita gak ngeh tapi kalau dia tanya “sist kok  antara nama pengirim di paket dengan di surat jalan ekspedisi gak sama yah?” gimana duonggg?
  • Tertulis nama / toko kita di paket juga di surat jalan, tapiiii… dia sms-in customer kita langsung pakai nama dia (pakai website lagi) dan nomornya dia pulak, yang isinya paketnya sudah dikirim bla bla…

Loh kok saya bisa nulis gitu? Karena saya sudah mencobanya. Sebelum akhirnya supplier itu jadi pemasok kepercayaan, saya awali dulu dengan test. Saya beli lewat nama / toko saya dengan alamat rumah saya, lalu saya minta dia agar dropship ditujukan ke alamat kantor saya atau teman (kadang tetap nama saya tapi nama panggilan yang pasti si supplier itu gak tau kalau itu adalah saya atau teman saya). Dari situlah saya jadi paham dan lebih berhati – hati memilih supplier karena saya menerima sendiri tertulis pengirimnya saya tetapi surat jalannya nama dia (si supplier), dan saya di sms-in pula yang didalamnya ia cantumkan website si supplier, namun sms.nya ke nomor si penerima bukan ke saya sebagai pengirim (saya  menggunakan no. mobile yang beda sebagai si penerima)

Ini saya gak lagi mengajak berburuk sangka loh ya, tapi menyarankan agar sikap hati – hati itu tetap kudu harus wajib “sten bei” di situasi, kondisi, atau lingkungan yang seramah apapun, karena bukti diatas juga salah satu “real” di dunia online bahwa banyak juga pemain online yang sudah merangkak besar tapi maaf harus saya katakan belum konsisten mem”build” etika bisnisnya.

Oraitlah, kalau memang tidak mau diperlakukan seperti itu ya kudu beli dan nyetok sendiri. Namun seperti terurai diatas bahwa online shop saat ini kan menjadi salah satu upaya seseorang dalam mandiri finansial sebagai wirausaha, dan gak semuanya langsung bisa beli banyak barang, jadi bagi saya lumrah bila beberapa kali dia pakai dropship guna menyambung usahanya (jiiaahh paparannya segitunya…), misalnya saat saya menjual tas bayi warna pink dan saat ada yang minat beli ternyata warna pink dan motifnya sudah habis, lantas saya tawarkan yang ready stok di rumah saya yang berwarna hijau, juga saya tawarkan yang punya supplier saya yang berwarna coklat, akhirnya dia memilih warna coklat tentu tak apa2 juga kan bila kondisinya demikian? Terlebih si supplier memang menerima sistem dropship, jadi pas deh, namun realisasinya bisa tidak seciamik demikian. Bila memang belum berniat utuh menjadi supplier/agen dari si dropshipper itu, ya jangan pasang iklan mau atau bisa beli dengan sistem dropship dong pren….

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun