Edy Priyatna
Edy Priyatna karyawan swasta

Kata yang indah adalah keluar dari mulut manismu............... Buku GEMPA, SINGGAH KE DESA RANGKAT, BUKU PERTAMA DI DESA RANGKAT.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Serentak Mengucurkan Air Mata

17 April 2018   10:45 Diperbarui: 17 April 2018   10:45 406 5 2
Puisi | Serentak Mengucurkan Air Mata
ilustrasi: Nasyiah Pati

Puisi : Edy Priyatna

 

Senja ini kulihat bulan rahmat

walau kadang samar terlihat sinarnya

dari hulu mengalir deras

butir-butir cahaya jernih

melengkapi langit berhias bintang

limpahan rachmat

tanda-tanda malam-malam suci tiba

sedang berbaris menunggu giliran

bertemu kembali denganku

menuju pengampunan jiwa

membawa catatan-catatan

demi meraih pembebasan diri

akan dipersembahkan padanya

setiap pagi menjelang........

 

Bagikah catatan-catatan itu

aku goreskan dengan segenap cinta

dapatkah kumerajut amal soleh

pada muara menyeruak lepas

doa dan dzikir

bias sinar rembulan

ilmu nan bermanfaat

menghilangkan kegelapan

kitab suci dan sujud

bahagiakan kaum fakir

menampakan jejak alami

guna menerangi gejolak kalbu

berbuat baik terhadap sesama

persembahan diriku padanya.........

 

Ataukah aku akan alpa

hingga akhirnya asa menjelma

membiarkan malam-malam suci berlalu

serentak mengucurkan air mata

nyata dengan indah

tiada hingga akibat rasa malu

pada sang penguasa

adalah upaya mengenal jiwa

bersihkan seluruh raga

makin meyakinkan hati

ketika harus mempersembahkan

catatan-catatan kosong padanya

melalui revolusi benak pikiran

nan telah banyak memberi........

 

(Pondok Petir,22 Maret 2018)