M. Husni Mubarok
M. Husni Mubarok profesional

Pembelajar, Pemerhati , dan praktisi masalah psikologi dan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jujur Ku Katakan, It Works for Me It Works for You.

7 April 2012   01:47 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:56 4984 0 1

Mempelajari Bahasa Inggris di jaman sekarang ini bukanlah sesuatu yang baru. Namun, dalam mempelajarinya tetap saja diperlukan metode-metode yang inovatif, agar hasil pembelajaran itu efektif dan produktif. Saya melihat bahwa metode yg  baik adalah bersifat sederhana, dapat diusahakan oleh semua pembelajar, dapat diukur, dan berlangsung dalam waktu singkat. Berdasarkan pengalaman yang saya miliki sebagai seorang pembelajar dan pengajar Bahasa Inggris, saya merasa metode yang saya gunakan, Oxford Dictionary Application Method, patut dicoba oleh teman-teman yang mau belajar secara lebih berhasil dan tepat sasaran. Cara ini sudah kuterapkan sejak akhir tahun 2003 dan tetap aku pertahankan hingga sekarang bahkan ingin aku sharing kepada siapa saja yang berminat.


Berawal dari pengalaman selepas wisuda S1, aku segera melamar pekerjaan di beberapa sekolah terutama yang sudah punya nama. Tidak lama waktu berjalan, akupun mendapat panggilan untuk datang mengikuti seleksi di sekolah Madania International School di daerah Parung, Bogor. Katanya, gajih guru disana cukup lumayan tetapi proses pembelajarannya menggunakan Bahasa Inggris.


Sebagai sekolah yang menggunakan bahasa internasional tentu saja mensyaratkan guru-guru nya mampu berbicara bahasa tersebut. Sebab itu, dalam perekrutan karyawan baru Bahasa Inggris merupakan salah satu variabel yg diukur. Aku ikut ambil bagian dalam seleksi itu.


Itu kali pertama aku mengikuti tes Bahasa Inggris yang akrab dikenal orang dengan nama “TOEFL”, Test of English as Foreign Language. Saat itu, aku sendiri belum bisa membayangkan seperti apa tes tersebut. Hasil seleksi, ternyata tidak memuat namaku sebagai kandidat yang maju ke tahap berikutnya. Artinya, aku telah gagal dalam tes bahasa tersebut. Padahal panitia mensyaratkan skor yang diterima minimal 480.


Aku sudah memprediksi kalau akan gagal, karena selama tes berlangsung aku cukup panik dan kerepotan terutama untuk bagian listening nya. Mungkin hanya bagian grammar saja yang aku agak pede sedikit.


Mengalami kegagalan itu tentu saja aku merasa terpukul  dan yang lebih menyakitkan lagi adalah aku membawa nama almamaterku UIN Syahid Jakarta, terlebih aku dinobatkan sebagai wisudawan terbaik fakultas psikologi saat itu tahun 2003.


“Masa sih wisudawan terbaik Bahasa Inggrisnya hancur”.  Geramku dalam hati. Rupanya bahasa tersebut tidak bisa disepelekan.


Ku akui, saat memasuki pendidikan S1,  aku kurang memperhatikan skill Bahasa Inggrisku. Aku baru menyadari pentingnya akan hal itu setelah lulus kuliah S1 sehabis gagal menembus sekolah di Parung itu. Tentu saja aku merasa terpecut dengan kejadian tersebut.


Sejak saat itu, aku bertekad untuk memperbaiki skill bahasa Inggrisku dalam semua aspek berbahasa yaitu: Listening, speaking, reading, dan writing.


Tak ingin berlama-lama dalam kegalauan, akhirnya aku kembali ke Bekasi, tanah kelahiranku, setelah sempat kutingalkan selama 3.5 tahun.


Di Bekasi, aku langsung bergabung dengan lembaga kursus PEC (Practical English Center) cabang Harapan Baru. Disana, aku mengajar di tingkat SD hingga SMA. Ini kulakukan hanya selama 6 bulan.


Selanjutnya, aku bergabung dengan bimbingan belajar Primagama Rawa Lumbu. Disini, aku juga mengajar bahasa Inggris di tingkat SD hingga SMA. Terus terang, banyak ilmu yang kudapat saat bekerja disini apalagi modul yang kupelajari dan metode bimbel yang menggunakan cara cepat untuk mengerjakan soal membuatku banyak belajar dan menciptakan metode-metode pengajaran baru. Untuk menambah rasa percaya diri, aku juga ikut kursus di LIA Galaxy kalimalang Bekasi.


Bersamaan itu pula, aku bergabung di almamaterku tercinta, MA At-Taqwa pusat putra Ujungharapan. Saat masuk disitu aku diminta membantu Mr. Nurul Amin untuk mengisi jabatan BK (Bimbingan dan Konseling). Selain itu, aku disuruh memegang pelajaran adab yang menggunakan kitab Idzatun Nasyiin. Sempat kagok juga mendapat tugas mengajar pelajaran itu, karena sudah hampir 5 tahunan tidak mempraktikkan Bahasa Arab. Meskipun begitu, grammar Bahasa Arab Insya Allah aku masih bisa ikuti.


Tidak lama bergabung dengan At-Taqwa aku dipercayakan mengelola program siswa unggulan dalam bidang bahasa Inggris. Tentu saja,  kesempatan itu tidak aku sia-siakan walau siswanya hanya sekitar 7 orang.


Dalam program itu, aku mengekspresikan semua ide & gagasan ku untuk dapat berbahasa inggris dengan baik yang meliputi 4 aspek (listening, reading, speaking, dan writing).


Kemudian, aku mendapat tawaran mengajar Bahasa Inggris di MAN 1 Kota Bekasi di daerah Wisma Asri.


Aku bertambah bergairah untuk mempelajari bahasa ini dan bisa lebih berkreasi lagi. Jika dihitung, selama tahun 2003-2008 aku merasa cukup intensif mempelajari Bahasa yang rada susah nyebut pelafalan nya ini. Ada empat tempat yang bisa mewadahi aku berkreasi menggunakan bahasa ini yaitu: LIA Galaxy, Primagama, At-Taqwa, dan MAN 1 Kota Bekasi serta beberapa privat yang aku jalani. Rasanya aku merasa mantap untuk mencoba lagi keberuntunganku di belantika perbahasa Inggrisaan.


Pada tahun 2006, aku mencoba melamar bea siswa ke Jepang tapi pada tes pertama langsung gugur. Padahal materinya cuma Bahasa Inggris saja.


Dari kegagalan ini, aku dapat mengevaluasi kemampuan berbahasa inggrisku. Rupanya masih belum layak dipasaran. Ini memotivasiku lagi untuk meningkatkan semangat dan cara belajarku.


Di tahun 2007 aku ada kesempatan untuk memburu beasiswa S2 ke luar negeri. Seleksi yang cukup panjang dan lama aku jalani dengan sabar dan tawakkal kepada Allah SWT. Lebih kurang  1 tahun seleksi itu berjalan. Puji syukur aku panjatkan. Aku lulus seleksi pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang berbentuk wawancara berlokasi di hotel Indrapuri Bandar Lampung.


Di pertengahan tahun 2008 aku lihat di situs penyelenggara beasiswa itu namaku tertera diantara 32 orang lainnya yang mewakili tiap-tiap provinsi dari seluruh Indonesia. Rupanya, dari sejumlah 4.850 orang pemburu beasiswa ternyata hanya 32 orang yang diterima.


Selanjutnya apa yang terjadi? Sebelum berangkat ke luar negeri untuk memulai studi S2, seluruh penerima bea siswa dikarantinakan selama 6 bulan di Jakarta.


Di sana, tepatnya di Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia kami mendapat gemblengan Bahasa Inggris secara intensif dari mulai pukul 08.00 pagi s/d pukul 15.00 sore, setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu. Kami diajarkan oleh dosen-dosen UI yang rata-rata lulusan Amerika dan Eropa. Tentu saja target yang ingin dicapai adalah agar kami mempunyai skor Toefl/IELTS yang bagus disamping kemampuan berbicara, membaca, menulis, tata bahasa, serta presentasi yang meyakinkan.


Selama menempuh program master di Malaysia tahun 2008-2010 aku masih mendapat kesempatan kursus bahasa Inggris di British Council Kuala Lumpur Malaysia. Aku sengaja memilih British Council untuk tempat kursus karena seluruh pengajarnya adalah native speaker.


Merasa tidak puas dengan pengalaman yang aku peroleh di Malaysia, meski pengantar kuliahku dalam bahasa Inggris, aku  diberi kesempatan untuk kuliah Bahasa Inggris selama 3 bulan di University of Arkansas kota Fayetteville negara bagian Arkansas, USA.


Di university of Arkansas, aku merasa belajar bahasa Inggris yang sebenarnya baik di kampus maupun di apartment tempat aku tinggal. Meskipun keadaan iklim cukup ekstrim, aku merasa enjoy berada disana.


Pada saat itu pula aku menguji teori dan metode Bahasa Inggris yang sejak tahun 2003– 2008 aku terapkan secara diam-diam. Aku temui langsung dosen grammarku. Namanya David Grahame. Dia asli warga negara Amerika.


Suatu pagi aku datang ke kantor David setelah membuat appointment terlebih dahulu. Saat berada di muka pintu kantornya, dia mempersilahkan aku masuk dan duduk di kursi yang trersedia.


“Please come in Husni and take a seat”. David mempersilahkan aku masuk dan memberi tempat duduk. Rata-rata orang sana lebih senang langsung dipanggil namanya. Awalnya sih, aku merasa canggung karena terkesan songong apalagi untuk memanggil seorang yang menjadi guru tapi akhirnya aku terbiasa.


Segera aku menjelaskan maksud kedatanganku dan berkonsultasi banyak tentang Bahasa Inggris. Kemudian aku meminta, “David, please show me the most difficult word that you have ever found.” Segera saja David mengambil kamus dan menunjukkan satu kata yang menurutnya paling sulit. Dia mengetesku sambil menunjukkan satu kata di kamus yang sedang dia pegang. “Husni, please pronounce this word correctly”.


Aku langsung mengucapkan kata itu dan David pun membenarkan pelapalanku. Merasa kurang puas aku meminta David untuk mengetes aku dua kali lagi. Rupanya, semua kata yang ditunjukkan dapat aku lapalkan secara benar dan fasih persis seperti native speaker. Akhirnya, aku baru merasa puas karena telah menguji kebenaran teori yang sudah lama aku pegang. Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk membuktikannya langsung di Amerika Serikat.


Kepergianku ke Amerika merupakan penutup program S2 yang aku jalani. Di penghujung akhir 2010 sekitar bulan November, aku kembali ke tanah air. Ada dua area yang aku pikir cukup aku tekuni selama berada di luar negeri yaitu bidang psikologi konseling yang merupakan profesi utama ku dan juga Bahasa Inggris sebagai skill pendukung.


Sepulang dari perantauan selama 2 tahun di negara orang sampai saat ini aku belum sempat sharing akan pengalaman belajar Bahasa Inggris ini.


Belajar Bahasa Inggris memang perlu keberanian dan kesungguhan disamping juga metode yang tepat. Oxford Dictionary Application method perlu dicoba untuk orang-orang yang berani dan sungguh-sungguh serta mau maju dalam ber cas cis cus. Aku berani mengatakan, “It works for me it works for you”.