Mohon tunggu...
Eko Nurwahyudin
Eko Nurwahyudin Mohon Tunggu... Lainnya - Pembelajar hidup

Lahir di Negeri Cincin Api. Seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa dan Alumni Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Motto : Terus Mlaku Tansah Lelaku.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tamu dari Bawah Tanah

21 Juli 2020   12:29 Diperbarui: 21 Juli 2020   12:36 229
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Mari silahkan masuk" ucap Rafika yang terkesan sembrono.

Tamu itu masuk dan kami duduk lesehan di atas tikar pandan. Rafika meninggalkan kami guna menyiapkan hidangan, handuk dan pakaian ganti untuk si Tamu. Ya, tinggallah kami berdua. Sesuatu yang buruk sangat mungkin terjadi.

"Terimakasih sudi memperkenankan saya singgah" katanya sambil menggigil. "Saya Tan dari Ujungpandang*" tambahnya memperkenalkan diri.

Ia ulurkan kedua tangannya. Aku menyambut jabatnya tetapi tangan kiriku masih dibelakang punggung menggenggam sangkur. Dia bukan pembunuh. Tidak ada pistol yang ia bawa. Lelaki itu mencurigaiku. Matanya seakan dapat menerawang menembus tubuhku. Celaka!

"Saudara menyembunyikan sesutu?" bidiknya.

Celaka! Ia tahu. Tanganku masih dalam genggamannya. Segala prasangka buruk mulai timbul. Celaka! Celaka! Tamu ini, meskipun tidak mempunyai pistol, tetapi mungkin dia mahir beladiri tangan kosong.

Rafika, kembali dengan membawakan kelengkapan dan meja hijau kecil guna menaruh wedang jahe dan mie rebus. Diambilnya mangkok mie rebus. Lahap ia memakannya. Dengan sendok dan garpu.

Garpu? Celaka! Celaka! Kini di tangannya sudah ada senjata. Tangan kiriku mulai lembab oleh keringat dingin. Celaka! Celaka! Kulihat kekasihku tanpa suatu kecurigaan. Lengah.

"Terimakasih kalian orang baik" kata si Tamu setelah menyelesaikan makan. "Sebentar," tangannya menggerayang saku bajunya. "Ada barangku terselip" ia mulai berdiri dan tanggannya sibuk menggerayang saku celana. "Sebentar, mungkin tertinggal di luar" dari tingkahnya yang kulihat nampaknya memang ia tengah mencari sesuatu yang teramat penting. Tanpa mengatakan sesuatu Rafika memberikan teplok padanya. "Terimakasih kalian orang baik".

Lelaki itu berjalan keluar dan kembali dengan membawa sebuah kotak seukuran kotak amal. Celaka! Celaka! Isinya pasti pistol! Dengan satu-satunya penerangan yang kami punya di tangannya, ia bisa saja membunuh kami dengan mudah dan menghilangkan jejak. Tamu itu duduk, dan menaruh teplok kami di dekat kakinya. Janggal. Ia tidak meletakkannya di atas meja hijau.

"Anda menyembunyikan sesuatu" tuduhku. "Apa itu?" tanyaku waspada

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun