Mohon tunggu...
Eko Irawan
Eko Irawan Mohon Tunggu... Hidup Indah dengan Menulis dan Berbagi

Penulis Sejarah, Budaya, motivasi dan sastra. Pegiat Kampung Sejarah dan Kampung Nila Slilir. Pegiat Sejarah dari Museum Reenactor Ngalam di Kota Malang

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Ilusi

13 Maret 2021   07:30 Diperbarui: 13 Maret 2021   07:42 80 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ilusi
Dokpri puisi Ilusi

Kuingin cepat usai. Agar kau bisa bebas. Tak menuduhku lagi. Bertahun tanpa bukti. Lelah yang tak dihargai.

Mungkin kau sudah lupa cara menghargai. Tuntutan ini, wajib. Semua tentang aku sudah dianggap bohong. Karena yang baik sudah dicampakkan. Tak diakui. 

Jadilah sia sia juang berpuluh tahun. Bukan protes. Tapi ini bisikan siapa. Untuk apa. Apakah menambah bahagiamu. Kenapa hidup singkat ini, ditanami bunga dendam.

Aku sudah sirna. Lelahku sudah jadi sampah. Yang harus segera dibuang. Agar kau menang. Dan proklamasi keseluruh negeri. Bahwa akulah sang pendusta bejat. Yang layak disiksa. Agar puaslah hatimu. Melihatku sengsara.

Itu pilihanmu. Karena kau kira akan membuatmu bahagia. Mengadili tanpa kau tahu sedang apa aku ini. Aku tak membela diri. Silahkan injak injak orang yang membela kehormatanmu. Demi apa, demi siapa. Tuhan tahu kebohongan yang kau tutupi. Kau sembunyikan. 

Diamku bukan karena tak becus. Kau boleh remehkan diriku. Umumkan tentang aku ini, bejat. Agar kamu dan dia jadi benar. Dibela manusia. Agar semua menganggap aku laknat.

Kuikhlaskan perbuatanmu. Aku tak membalas. Karena skenario ini hanya setingan manusia. Hanya ilusi palsu. Bukan jalan takdir terindah. Ini memang pahit bagiku. Tapi akan jadi obat.

Dan saat semua nanti terlambat, sesalmu tak punya makna. Siapa yang penipu, akan malu. Siapa yang bejat, akan terungkap. Untuk apa hidup dibikin pedih. Hidup singkat yang pahit. Kenapa kau perumit.

Malang, 13 Maret 2021

Oleh Eko Irawan

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x