Mohon tunggu...
Eko Irawan
Eko Irawan Mohon Tunggu... Hidup Indah dengan Menulis dan Berbagi

Penulis Sejarah, Budaya, motivasi dan sastra. Pegiat Kampung Sejarah dan Kampung Nila Slilir. Pegiat Sejarah dari Museum Reenactor Ngalam di Kota Malang

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Resah

2 Desember 2020   19:56 Diperbarui: 2 Desember 2020   20:06 62 14 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Resah
Dokpri foto Eko Irawan

Kita bertemu. Tapi tak bisa bicara. Hanya saling pandang. 

Aku harus sembunyikan perasaanku. Kamu juga. Semakin hari, semakin terpendam. Tenggelam dalam waktu. Tersimpan dalam map map tak terselesaikan. Menumpuk. Tenggelam dalam diam. Terputus. Terbelenggu. Tak terurai. Dan membeku.

Resahmu, resahku juga. Gundahmu juga kurasa. Ini memang gejolak aneh. Diantara kita. Saat tak bisa bicara.

Semakin rapat apa yang kita hadapi. Hati hati menjaga perasaan ini. Semua harus kupahami. Gejolak yang tak bisa dimengerti.

Resah. Berontak. Kenapa harus terjadi. Seperti ini. Dalam tirai tirai besi. Yang membelenggu hati. Tak bisa bergerak lagi. Kecuali hanya diam dalam kepasrahan, terus menanti. Menunggu yang tak pasti.

Ini tentang panah panah api. Yang tertahan. Lama lama terbakar. Dalam kebingungan. Bagaimana ini.

Tak terselesaikan resah ini. Menahan rasa tanpa tujuan lagi. Kemana tak bisa pergi. Tertahan dalam lantunan sepi.

Tentang cinta tanpa tuan. Lagu tanpa lantunan. Nada dalam kesepian. Sunyi dalam keresahan. Puisi resah tanpa penyelesaian. 

Malang, 2 Desember 2020

Oleh Eko Irawan

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x