Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Tu es magique

Peminat topik internasional. Pengelola FP Paris Saint Germain Media Twitter: @efremsiregar

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Guru sebagai Puisi bagi Murid-murid di Masa Pandemi Covid-19

25 November 2020   20:55 Diperbarui: 29 April 2021   16:18 910
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pembelajaran melalui webinar guru. (Dok. EDUVERSAL via Kompas.com)

Saya tertarik untuk memberikan pandangan alternatif, mengajak semua pihak untuk memikirkan kembali paradigma berpikir tentang pendidikan dalam suasana pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran bagi semua orang, dari kanak-kanak hingga orang dewasa sekalipun. Serangan virus corona yang menjangkit hampir ke semua lini utama kehidupan manusia. Ada masalah keuangan yang merosot terdampak PHK, ada isu soal kesehatan.

Tetapi, di atas itu semua, makna bahasa menjadi tidak tetap. Pandemi Covid-19 memiliki dua makna yang ditangkap secara ganda bagi manusia. 

Ia di satu sisi menjadi bahasa yang memberi nuansa menakutkan, di sisi lain ia menjadi pendorong untuk mengantarkan manusia masuk ke dalam relung refleksi bahwa ada hikmah dan semangat untuk menemukan jalan keluar.

Guru pun demikian. Ketika kita mendengar kata guru, pikiran kita terarah secara institusional, mengandaikan bahwa guru menjadi ada bila ia hadir bersama murid, buku, kelas dan perangkat sekolah lainnya.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga mendefinisikan guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Ia dibedakan dari dosen, guru besar, dan profesional lain yang berkutat dalam bidang pengajaran yang fungsinya telah diatur dalam UU Perguruan Tinggi dan UU Pesantren.

Tetapi guru dalam arti sesungguhnya sebagai pendidik merupakan sebuah puisi. Dia telah menerima semua beban dan membiarkan murid-muridnya memberontak melalui ketidaknyamanan yang mereka ungkapkan selama masa pandemi.

Pendidikan selama pandemi

Pendidikan bagaimanapun terus berdiri sebagai jembatan bagi pengetahuan untuk memasuki cakrawal di dunia lain. Seperti yang diungkapkan Tariq Ramadan, filsuf asal Swiss, yang berujar bahwa kekuatan guru yang baik adalah ia mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan minat siswa pada apa yang tidak menarik minat mereka sejak awal dalam semua mata pelajaran.

Ketika saya, misalnya, mendaftar sebagai mahasiswa bahasa Prancis yang tidak pernah saya dapatkan sewaktu SMA, kemudian saya jatuh cinta pada bahasa dan sastranya. Sesuatu yang baru, tentu bukan karena saya terperangkap semata-mata dari ilusi bahwa Prancis itu terdengar seksi. Di sanalah, saya mencari dan menemukan kekayaan intelektual Prancis berkat pengajaran dari dosen yang merupakan guru dalam arti kebaikannya.  

Ia memperkenalkan sudut kesuraman sejarah Prancis yang memperlihatkan penderitaan, pemberontakan, idealisme hingga semua menjadi puisi yang membuat orang terdorong untuk membaca ulang dan memberikan tafsir. Sejarah dan sastra tidak pernah menuliskan dirinya sebagai pemenang tunggal, ceritanya menyimpan narasi untuk mengajak orang membangun rasa saling memiliki bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun