Mohon tunggu...
Effendy Wongso
Effendy Wongso Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis, fotografer, pecinta sastra

Jurnalis, fotografer, pecinta sastra

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Magnolia dalam Seribu Fragmen Rana (13)

6 Agustus 2022   22:52 Diperbarui: 6 Agustus 2022   23:01 292
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Novel Magnolia dalam Seribu Fragmen Rana. / (Foto: Inprint.com)

Ditumpahkannya amarahnya dengan serangkaian jurusnya yang memukul angin. Kibasan-kibasan Telapak Tangan Besi-nya berdesing-desing. Membelah beberapa dahan-dahan pohon cemara udang tanpa senjata, hanya dengan telapak tangannya yang sekuat sangkur baja.

Mantan biksu itu berputar-putar sesaat seperti propeler, menghamburkan pasir ke segala arah. Beberapa dari partikel pasir itu melubangi dedaunan akasia di dalam halaman rumah.

Ia masih berputar, berkelebat seperti kepak-kepak elang, lalu berhenti pada satu titik ketika tangannya yang kokoh seperti beton itu menghantam satu batang pohon cemara udang. Tenaga dalam Kingkong-nya membekas di pohon. Lalu selang berikutnya batang pohon tersebut berderak, membelah dan patah.

Sepuluh tahun yang lalu ia dikeluarkan dari biara Shaolin setelah bertarung dan melukai Fang Wong. Di biara Shaolin, Han Chen Tjing sering melakukan keonaran. Ia juga indisipliner. Selain itu ia diam-diam selalu belajar ilmu silat dari perguruan hitam. Biksu Pha Tou mengusirnya dengan paksa setelah berduel di halaman biara.

Pertarungan tersebut berlangsung seimbang. Pada waktu itu Biksu Pha Tou sama sekali tidak menyangka Han Chen Tjing dapat menandinginya. Padahal ia sudah mengerahkan seluruh kemampuan kungfunya. Bahkan kungfu yang belum diajarkan kepada murid-murid baru.

Dalam akhir pertarungan itu, Han Chen Tjing dapat ditaklukkan. Tetapi Biksu Pha Thou terluka parah, dan akhirnya meninggal dunia setahun kemudian akibat akumulasi pukulan Telapak Tangan Besi Han Chen Tjing, yang menghancurkan organ dalam tubuh biksu tua wakil pemimpin biara itu.

Han Chen Tjing kabur dari biara Shaolin dengan menanggung malu. Ia tidak rela dan berniat membalas dendam suatu hari. Berbekal kesumat itulah ia semakin giat mempelajari beberapa ilmu silat yang ada di Tionggoan. Ia ingin membalas kekalahannya saat bertarung dengan Biksu Pha Tou.

Tiga tahun setelah kejadian miris itu, ia kembali ke Shaolin hendak menantang Biksu Pha Tou. Namun alangkah kecewanya ia saat mendapati kenyataan bahwa Biksu Pha Tou ternyata sudah meninggal. Karena tidak mungkin dapat bertarung lagi dengan biksu tua yang mengalahkannya dulu, maka ia mengobrak-abrik seluruh ruangan biara.

Ia hendak mengalihkan tantangannya ke Biksu Yang Fei, pemimpin tertinggi biara. Wong Qi Bei  dan Huan Chen-Liang yang saat itu sedang berguru di Shaolin mencegah niatnya dengan bertarung di luar biara. Mereka mengadang Han Chen Tjing yang ingin menantang Biksu Kepala pemimpin tertinggi Shaolin tersebut setelah sebelumnya mendapat legitimasi untuk menjaga Shaolin, dan mematuhi amanat agar tidak seorang pun dapat mengganggunya bermeditasi di ruang bawah tanah biara.

Pertarungan tidak seimbang itu dapat dimenangkan dengan mudah Han Chen Tjing. Setelah mengalahkan Wong Qi Bei dan Huan Chen-Liang, Han Chen Tjing kembali mengaduk-aduk biara. Ketika itu ia hendak mencari Fang Wong, saudara seperguruannya yang dikalahkannya beberapa tahun lalu.

Rupanya ia masih menyimpan dendam kepada Fang Wong, yang memergokinya belajar ilmu silat hitam, sebuah pantangan besar bagi para biksu Shaolin, dan menganggapnya sebagai biang pengadu yang menyebabkan dirinya diusir dan dikeluarkan secara tidak hormat dari Shaolin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun