Efa Butar butar
Efa Butar butar Karyawan Swasta

Teknologi Pangan | Content Writer | 0896-5747-1513 | efab22@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Pilihan

G-Squad di Tengah Masyarakat Minim Gerak

7 Januari 2019   00:22 Diperbarui: 7 Januari 2019   01:04 553 1 0
G-Squad di Tengah Masyarakat Minim Gerak
Foto: DokPri

Berkaca dari kehidupan sehari-hari, berangkat ke kantor tepat pukul 07.00 dan pulang ke rumah pukul 17.00 WIB kadang lebih. Mengandalkan transportasi umum, Commuter line, memang, perjalanan menuju kantor dan sebaliknya bisa ditempuh masing-masing hanya 1 jam saja.

Waktu yang tergolong singkat, karena jika harus dibandingkan dengan menggunakan Transjakarta, meski memiliki jalurnya sendiri, kemacetan tetap tak dapat dihindari.

Masyarakat JaBoDeTaBek tentu sudah tak lagi asing dengan kehidupan ber -- KRL. Berdesakan, sesak, saling himpit, dan saling jaga barang bawaan serta diri masing-masing khususnya bagi penumpang wanita sudah menjadi makanan sehari-hari agar terhindar dari kemungkinan-kemungkinan penumpang pria yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal yang memalukan.

Walau telah menjadi kebiasaan, kondisi ini sesungguhnya sangat menyita energi. Belum lagi setumpuk pekerjaan yang tak kunjung selesai dari kantor memengaruhi mood dan keinginan untuk bersosialisasi.

Ada banyak kekhawatiran yang perlu dijaga saat mood masih buruk namun tetap memaksakan diri untuk saling berkomunikasi dengan orang lain, seperti: Nada suara yang tak "santai", menerjemahkan setiap ucapan yang diterima sebagai ucapan negative, mendengarkan orang lain tidak sepenuhnya sehingga terkesan tidak menghargai, dan masih banyak hal tak baik akibat pengaruh mood yang tak baik pula dalam bersosialisasi.

Kalau sudah begini, rasanya me time dan jauh dari keramaian adalah solusi terbaik untuk tidak menyakiti hati siapapun dan diri bisa lebih tenang. Me time yang kerap dilakukanpun tak jarang adalah tidur seharian atau bermalas-malasan di rumah. Benar-benar jauh dari gangguan dan keributan sebelum weekend berakhir dan Senin kembali menyapa lalu rentetan aktivitas di atas kembali terulang.

Begitulah setiap minggu berlalu. Tidak ada aktivitas mencolok yang dapat dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan diri sendiri. Bagaimana tidak? Bahkan untuk menuju kantor yang jaraknya terbilang dekat dari stasiun saja harus mengandalkan ojek online yang sudah sangat mudah untuk ditemukan, belum lagi harganya lumayan terjangkau ditambah pula dengan embel-embel
promo yang hadir setiap minggunya.

Seharian di kantor ya hanya fokus pada kerjaan, mata di layar komputer lalu kadang beralih ke HP. Hanya sesekali terlepas dari dua perangkat tersebut, yakni ketika bercengkerama dengan rekan kantor, ketika ke kamar kecil, atau saat mengambil air minum. Tidak ada sedikitpun gerakan yang membantu keluarnya keringat. Naik turun kantor? Tak perlu repot-repot, toh sudah ada lift kan?

Jadi, tidak heran jika mendengar kabar bahwa pekerja semacam ini tiba-tiba sakit ini, sakit itu meski sebelumnya terlihat sehat-sehat saja. Bagaimana mau mempertahankan kesehatan jika untuk olahraga saja tidak pernah ada waktu? Atau lebih tepatnya, tidak pernah mau memberi waktu?

Padahal, hasil penelitian FINRISK Studies menemukan bahwa orang yang hanya melakukan aktivitas ringan seperti duduk di depan meja, membaca buku, dan menonton televisi tanpa bergerak secara rutin berpeluang lebih besar untuk mengalami obesitas.

Dikutip dari laman Kemenkes, Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk tidak malas bergerak. "Kita harus bergerak untuk sehat!" ujarnya. Menteri kesehatan menyarankan setiap orang untuk berjalan setidaknya 30 menit setiap hari.

Membandingkan Kehidupan di Kota dan Di Desa

Belum lama ini, saya kembali ke desa tempat di mana saya dibesarkan. Berbeda dengan di Ibukota. Kehidupan di sana sederhana. Jika di Ibukota ada jutaan perusahaan yang dapat diincar untuk mendapatkan gelar staff, maka di desa ada jutaan hektar sawah yang dapat digarap untuk menyandang sebutan Petani.

Jam kerjanya hampir bisa dikatakan sama, jam 07.00 -- 17.00 sudah termasuk perjalanan pergi dan pulang. Bedanya, di desa mudah sekali mendapatkan keringat karena pekerjaan para Petani tersebut mengharuskan mereka menggunakan otot. Tenang saja, meski dominan mengandalkan otot, para Petani juga bekerja dengan otak demi mendapatkan hasil panen yang maksimal.

Dengan banyaknya gerakan yang dilakukan, tak heran masyarakat bebas mengonsumsi apapun tanpa perlu khawatir akan terkena penyakit tertentu. Meski demikian, tetap ada aturan yang dijalankan oleh pribadi mereka masing-masing. Seperti aturan tak tertulis namun harus dilakukan, yakni batasan konsumsi makanan berlemak atau daging-dagingan bagi mereka yang telah berselimutkan angka 50 tahun ke atas.

Jika di desa ada banyak sekali aktivitas yang membantu masyarakatnya untuk berkeringat dan hidup sehat, maka seharusnya masyarakat Ibukota juga bisa menerapkan hal yang sama. Sama dalam arti kegiatan yang menghasilkan keringat ya, karena bertani bukan tempat yang tepat dilakukan di Jakarta.

  • Menggunakan lift saat akan turun ke lantai dasar,
  • Membeli makanan sendiri,
  • Lari pagi di seputaran rumah di pagi hari,
  • Turun beberapa ratus meter dari lokasi tujuan saat menggunakan jasa ojek online dan berjalan kaki untuk menyelesaikan perjalanan,
  • Manfaatkan tangga jika ingin turun hanya satu dua lantai saja, tidak meminta bantu OB untuk melakukan hal-hal ringan seperti fotocopy dokumen,
  • Bertaman di saat libur
  • Bersih-bersih rumah

Di atas adalah beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan untuk menghasilkan keringat sehari-hari. Tidak terlalu berat, namun jika dilakukan secara rutin setiap harinya, rasanya jika diakumulasikan berjalan 30 menit setiap harinya sesuai yang dianjurkan oleh Kemenkes tentu bisa terealisasi, bukan?

G-Squad untuk Masyarakat yang Minim Gerak

Di tengah masyarakat yang minim gerak ini, dibutuhkan sesuatu sebagai jembatan untuk mengeksplore diri agar lebih memberi hati untuk bergerak lebih banyak.

Sebagai perempuan, saya pernah mengikuti serangkaian senam aerobik yang katanyaa dapat mempertahankan tubuh tetap bugar dan sehat tanpa terlebih dahulu memberikan edukasi seperti pengenalan tentang senam yang akan saya jalani ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2