Mohon tunggu...
Eduardus Fromotius Lebe
Eduardus Fromotius Lebe Mohon Tunggu... Dosen - Penulis dan Konsultan Skripsi

Menulis itu mengadministrasikan pikiran secara sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Generasi Milenial dalam Restrukturisasi Pertanian

5 November 2021   11:04 Diperbarui: 5 November 2021   16:24 1389
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Potret sawah berbentuk jaring laba-laba di Kecamatan Cancar, Manggarai (sumber: indonesia.go.id)

Modal sedikit hasil banyak. Kira-kira begitulah prinsip kerja petani milenial. Mampu memanfaatkan seluruh potensi baik lahan, teknologi maupun pengetahuan untuk mendukung program kerja pemerintah yaitu swasembada pangan.

Dalam konteks hari ini, sektor pertanian lah yang bertahan dan tetap survive dalam gempuran pandemi covid-19. Apa pun alasannya, sektor pertanian harus tetap tumbuh untuk menyuplai kebutuhan pokok masyarakat. 

Bayangkan jika di masa pandemi covid-19 ini, petani yang ada di dunia tidak bekerja. Bukan lagi virus corona yang membuat orang kehilangan nyawa, namun karena kelaparan akibat kekurangan bahan pokok.

Wajah baru petani milenial harus mampu mensejahterakan keluarga. Tidak bergantung pada bantuan orang serta mandiri dalam ekonomi. Sehingga tidak adalah kesan bahwa: "menjadi petani bisa jadi miskin" atau "menjadi petani tidak akan kaya". 

Petani milenial harus mampu membuktikan bahwa menjadi petani adalah pilihan yang tepat dan dapat meningkatkan perekonomian. 

Penulis mencoba menguraikan beberapa kualifikasi menjadi petani milenial. Sebab bukan hanya sekadar nama menjadi petani milenial. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para petani milenial:

1. Memiliki konsep pertanian yang berkelanjutan

Petani milenial memiliki konsep bertani yang berkelanjutan. Berkelanjutan sebagai upaya untuk mempertahankan kualitas lahan untuk kepentingan anak dan cucu di masa depan. Artinya, lahan yang dimanfaatkan oleh petani sekarang masih tetap ada untuk dimanfaatkan lagi oleh anak cucu di masa yang akan datang.

Konsekuensinya jelas, bahwa petani milenial harus bijaksana dalam mengelola pertanian. Termasuk menggunakan bahan-bahan kimia untuk perawatan tanaman secara bijaksana. Penggunaan pestisida dan pupuk anorganik yang terukur sehingga aman untuk tanaman serta menjadi agar tanah tetap subur.

Pengalihan dari pupuk anorganik ke pupuk organik merupakan prinsip bertani yang harus dimiliki oleh petani milenial. Selain itu menghindari penggunaan pestisida berlebihan yang dapat merusak tanah, udara, dan air adalah pilihan yang tepat. Petani milenial dapat memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai pengganti pestisida.

Ilustrasi Pembuatan Pestisida Nabati (sumber: antaranews.com)
Ilustrasi Pembuatan Pestisida Nabati (sumber: antaranews.com)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun