Mohon tunggu...
Dr.Ari F Syam
Dr.Ari F Syam Mohon Tunggu... Akademisi, Praktisi Klinis,

-Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM (@DokterAri) -Ketua Umum PB Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI)

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mengenal Lebih Dekat Kanker Darah Penyebab Kematian Ani Yudhoyono

1 Juni 2019   19:00 Diperbarui: 1 Juni 2019   23:02 0 19 5 Mohon Tunggu...
Mengenal Lebih Dekat Kanker Darah Penyebab Kematian Ani Yudhoyono
Ilustrasi: Pixabay

Kanker adalah salah satu penyebab kematian yang umum terjadi pada masyarakat kita. Angka kejadiannya terus meningkat ditengah masyarakat: peningkatan terjadi pada 1,4 per 1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79 per 100 penduduk di Indonesia pada tahun 2018.

Kanker bisa menyebabkan pasien yang menderita lebih cepat meninggal sehingga harapan hidup pasien dengan kanker lebih rendah dari masyarakat umum. Seperti yang terjadi pada Ustadz Arifin Ilham yang menderita kanker kelenjar getah bening atau limfoma yang meninggal pada usia 49 tahun dan Ibu Ani Yudhoyono dengan leukemia meninggal umur 67 tahun. 

Almarhumah Ibu Ani Yudhoyono melawan kanker darahnya selama 4 bulan di Singapura. Allah lebih memilih almarhumah kembali ke sisi-Nya setelah menjalani perawatan intensif selama 4 bulan sejak 2 Februari 2019 hingga 1 Juni 2019. 

Pada awal pemberitaan Pak SBY sempat memberikan keterangan pers bahwa ibu Ani menderita kanker darah. Kanker darah atau blood cancer sendiri sebenarnya dibagi menjadi tiga yaitu leukemia, limfoma, dan myeloma.

Ibu Ani sendiri akhirnya diketahui menderita leukemia. Leukemia menyerang sumsum tulang, limfoma menyerang kelenjar getah bening, dan myeloma menyerang sel plasma. Sebagaimana kita ketahui bahwa limfoma inilah yang menyebabkan kematian Ustad Arifin Ilham.

Pada leukemia sel-sel kanker menyerang sumsum tulang sehingga menekan produksi sel darah merah dan trombosit. Leukemia bisa terjadi secara akut dan umur harapan hidup pasien leukemia kronik lebih baik dari pada leukemia akut. 

Pasien dengan leukemia kronik yang tetap minum obat survival rate 5 tahunnya bisa mencapai diatas 90%. Leukemia banyak diderita pasien diatas usia 55 tahun dan pasien dibawah 20 tahun. Semakin tua usia semakin rendah umur harapan hidupnya.

Secara umum pasien leukemia datang dengan anemia atau pucat karena hemoglobin yang rendah. Pasien juga bisa datang karena nyeri tulang. Seperti yang disampaikan oleh Pak SBY pada saat pemberitaan awal bahwa Ibu Ani dirawat karena adanya keluhan nyeri punggung. 

Selain itu pasien dengan leukemia mengeluh lemas, cepat lelah, sakit kepala dan bisa saja pasien leukemia mempunyai keluhan seperti demam, keringat malam, dan seperti gejala pasien sakit flu. Pasien dengan leukemia juga mudah mengalami infeksi karena daya tahan tubuhnya yang menurun.

Pada pasien dengan leukemia bisa juga mengalami perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah yang ini berhubungan dengan sistem pembekuan darah pasien. Pasien leukemia cenderung mengalami nafsu makannya menurun dan berakibat pada penurunan berat badan.

Pada pemeriksaan fisik dokter bisa saja menemukan pembengkakan pada liver dan limpa. Pasien dengan limfoma biasanya juga datang dengan keluhan adanya benjolan pada leher, ketiak atau selangkangan atau pada pemeriksaan USG abdomen ditemukan adanya pembengkakan kelenjar getah bening. Pasien dengan limfoma juga umumnya mempunyai keluhan berat badan turun, demam tidak terlalu tinggi, dan keringat malam.

Diagnosis pasien leukemia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan sumsum tulang. Hasil pemeriksaan tulang bisa menentukan jenis leukemia yang terjadi.

Secara umum penyebab kanker memang bermacam-macam, khusus untuk leukemia faktor genetik dan lingkungan menjadi risiko untuk terjadinya leukemia. Riwayat terkena radiasi atau zat kimia seperti benzene. Memang secara khusus tidak bisa ditentukan kenapa seseorang mengalami leukemia.

Saat ini yang menjadi pilihan untuk mengobati leukemia adalah kemoterapi yang terdiri beberapa kombinasi obat, biological therapy, targeted therapy serta transplantasi sumsum tulang. Almarhumah Ibu Ani Yudhoyono belum sempat menjalani transplantasi sumsum tulang.

Ada hikmah yang dapat diambil dari perjalanan penyakit kanker almarhum Ibu Ani ini bahwa masyarakat harus peduli terhadap gangguan kesehatan yang terjadi dan memeriksaan kesehatan secara rutin apalagi ada riwayat kanker sebelumnya.

Secara umum untuk menghindari dari berbagai penyakit khususnya penyakit kanker, masyarakat diminta untuk menjalani hidup teratur dan menghindari gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol. Hidup tidak ngoyo dan menghindari stres yang berlebihan-lebih apalagi jika sudah usia lanjut atau berumur di atas 60 tahun.

Selamat jalan Ibu Ani Yudhoyono, semoga husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan tabah dalam menerima cobaan ini.

Salam,

Ari Fahrial Syam