Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Pameran Fantasy Art Nudes untuk Menelanjangi Diri Sendiri

16 November 2019   05:30 Diperbarui: 16 November 2019   06:35 0 2 1 Mohon Tunggu...
Pameran Fantasy Art Nudes untuk Menelanjangi Diri Sendiri
Karya berwarna mahasiswa IKJ program studi DKV (Dokpri)

Mahasiswa dikenal sebagai 'tukang unjuk rasa'. Nah, yang ini 'unjuk kebolehan'. Sejumlah mahasiswa IKJ dari program studi DKV Ilustrasi mulai Jumat, 15 November 2019 hingga Jumat, 22 November 2019 menampilkan karya mereka untuk umum. Pameran karya studi 'Fantasy Art', begitulah tema yang diusung. Museum Basoeki Abdullah memfasilitasi mereka dengan menyediakan ruangan untuk memamerkan karya para generasi milenial itu.

Ruang publik Museum Basoeki Abdullah memang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat. Tentu dengan tema atau topik yang sesuai dengan museum. "Ini membuktikan negara telah hadir," kata Ibu Maeva Salmah, Kepala Museum Basoeki Abdullah. Dalam media sosial Museum Basoeki Abdullah dikenal sebagai Musbadul. Musbadul milik pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kata Ibu Maeva, Musbadul terbuka untuk masyarakat yang ingin menggelar pameran. Boleh dibilang Musbadul menjadi tempat pameran rintisan. Untuk yang sudah mapan atau golongan menengah ke atas, pemerintah menyediakan Galeri Nasional dan Museum Nasional.

Namanya generasi milenial, mereka mengambil inspirasi dari kata 'nudes' yang dipelesetkan menjadi 'nvdes'. Dalam bahasa Inggris, nudes berarti telanjang. Namun dalam pameran ini nudes bermakna menelanjangi diri dengan melihat dari kacamata introspektif milenial modern.

"Dengan adanya pameran ini kami telah menelanjangi diri kami sendiri, kami mengeksplorasi kekecewaan, ketakutan kami, kebahagiaan, juga harapan kami," kata mereka.

Karya hitam putih mahasiswa IKJ program studi DKV (Dokpri)
Karya hitam putih mahasiswa IKJ program studi DKV (Dokpri)
Seni grafis

Karya mereka mirip lukisan. Karya-karya itu dikerjakan berdasarkan imajinasi mereka, lalu dituangkan lewat aplikasi khusus di komputer. Setelah itu di-print. "Resolusi harus tinggi supaya gambar tidak pecah," kata Michael, salah seorang mahasiswa. "Yang ikut berpameran sekitar 30 orang dari semester lima," tambahnya.

Ada karya berwarna, ada karya hitam putih. Mereka menggunakan media seperti watercolor painting, ink on paper, dan digital painting. Ada gambar yang mudah dimengerti masyarakat awam, ada pula yang perlu pemikiran mendalam untuk menganalisisnya. Ini terlihat dari judul-judul karya mereka, seperti Memilih Waktu Kembali, Kehidupan Lain, dan Menjelajah Alam Semesta.

Para mahasiswa yang berpameran (Dokpri)
Para mahasiswa yang berpameran (Dokpri)
Sekitar 40 karya tersaji dalam pameran. Silakan memberi apresiasi kepada generasi muda. Apresiasi merupakan modal untuk menghasilkan karya selanjutnya. Inilah pembelajaran awal. Semoga masih ada kerja gotong royong antara berbagai pihak.

Silakan berkunjung ke Museum Basoeki Abdullah di Jalan Keuangan Nomor 19. Kalau naik MRT, turun di stasiun Fatmawati. Kalau naik TransJakarta, turun di halte Banjarsari. Setelah itu sambung jalan kaki. Melihat karya Basoeki Abdullah dalam pameran tetap ditambah pameran temporer, cukup membayar karcis masuk Rp2.000.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x