Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Akinfeev Menggusur Spanyol, Meneruskan Tradisi Kiper Terbaik Dunia

2 Juli 2018   00:59 Diperbarui: 2 Juli 2018   01:14 1106 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Akinfeev Menggusur Spanyol, Meneruskan Tradisi Kiper Terbaik Dunia
Akinfeev Menahan Penalti Iago Aspas (Sumber: https://eurosports.com / gettyimages)

Sesuai prediksi saya di sini, tuan rumah Rusia berhasil melewati hadangan terbesar dalam grup sistem gugur menuju ke final. Spanyol merupakan lawan terkuat di grup ini selain Inggris, sehingga keberhasilan menyingkirkan Spanyol berarti melapangkan jalan menuju final. Kemungkinan besar Rusia bakal bertemu Inggris di semifinal bila kedua tim mulus melangkah. 

Pahlawan kali ini bukanlah para striker, tapi penjaga gawangnya Igor Akinfeev. Seolah meneruskan tradisi kiper top Soviet (Rusia di masa lalu), Akifeev seperti mewarisi kehebatan para pendahulunya seperti sang laba-laba Lev Yashin yang membawa Soviet juara olimpiade 1956, dan Rinat Dasayev sang kiper runner-up Piala Eropa 1988. Pada masanya, kedua kiper tersebut menjadi legenda tak hanya di negerinya tapi juga mendunia. Sebagai catatan, Lev Yashin pernah menghadapi Indonesia di olimpiade dengan skor 0-0, dan diulangi dua hari kemudian dengan kemenangan telak 4-0 atas Indonesia.

Uni Sovyet memang dikenal memiliki kiper-kiper tangguh yang disegani dunia. Lev Yashin terpilih menjadi kiper FIFA All Star sebagai salah satu penjaga gawang legendaris dunia karena menurut catatan FIFA berhasil menyelamatkan 150 penalti dan 270 clean sheet sepanjang karirnya. Sementara Dasayev menjadi kiper terbaik dunia tahun 1988 serta termasuk dalam enambelas kiper terbaik Eropa sepanjang masa.

Baca Juga: Road To Final: Rusia yang (Tak) Ramah Penjajah Eropa

Di usianya yang sudah tak muda lagi, Akinfeev berhasil menahan dua tembakan dalam adu penalti yaitu menepis tendangan Koke dan kakinya mementalkan sepakan Iago Aspas yang otomatis memulangkan Spanyol ke negerinya. Dari catatan statistik sepanjang pertandingan, terdapat 24 tendangan mengarah ke gawang Rusia, 9 diantaranya tepat sasaran dan berhasil diblok dengan baik oleh Akinfeev. Sementara De Gea nyaris tiada gangguan apapun dari para penyerang Rusia. 

Spanyol memang menguasai pertandingan dengan 79% penguasaan bola, tapi justru Rusialah yang mencetak kedua gol, baik untuk diri sendiri maupun Spanyol. Gol pertama tercipta akibat bunuh diri pemain belakang Rusia Sergei Ignasevich ditekan oleh Sergio Ramos sehingga kakinya malah menceploskan bola hasil tendangan bebas Asensio. Rusia berusaha membalas dengan melakukan serangan balik, hasilnya tandukan Dzyuba mengenai tangan Pique. Penaltipun diberikan pada Rusia dan Dzyuba sukses mengeksekusi penalti.

Babak kedua Spanyol lebih banyak menguasai bola dan beberapa kali membahayakan gawang Rusia. Namun penampilan Akinveev menangkap bola licin akibat hujan lebat membuat pertandingan harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Selama perpanjangan waktu gawang Akinveev benar-benar dibombardir sejak masuknya Iniesta di pertengahan babak kedua. Namun Rusia masih beruntung semua serangan tersebut berhasil dipatahkan dngan baik oleh Akinveev termasuk tendangan keras dari Iniesta sendiri.

Pertandingan pun berakhir dengan adu penalti. Iniesta sebagai penendang pertama Spanyol berhasil dengan baik melakukan tugasnya, disusul oleh Smolov yang juga sukses menceploskan bola ke gawang De Gea. Pergantian Dzyuba oleh Smolov di babak kedua sebenarnya merupakan perjudian yang berhasil karena sama-sama sukses mengeksekusi penalti. 

Tendangan kedua juga masih berhasil ditunaikan dengan baik oleh Pique dan Ignasevich, namun begitu tendangan ketiga, tampak Koke ragu-ragu dalam menendang bola, dan hasilnya mudah ditebak oleh Akinfeev yang berhasil menepis tendangannya. Sebaliknya Golovin sukses menjebol gawang De Gea. Sergio Ramos berhasil menyamakan kedudukan sebelum Cheryshev kembali membuat Rusia unggul. 

Di tendangan penentuan, Iago Aspas tampak tertekan sebelum menendang, dan akhirnya kaki Akinfeev menggagalkan laju bola sekaligus memulangkan Spanyol dari ajang piala dunia. Ramos dan kawan-kawanpun menangis, sebaliknya Akinfeev berteriak gembira sambil mengepalkan tangannya setelah berhasil menepis penalti terakhir Spanyol.

Pilihan untuk mengalah dari Uruguay merupakan strategi yang tepat diterapkan oleh Cherchesov sang pelatih Rusia. Dengan menjadi runner-up, praktis hanya Spanyol bakal menjadi lawan berat sebelum mencapai semifinal. Bahkan diperkirakan di semifinal bakal bertemu Inggris yang masih dapat dianggap setara kekuatannya, sehingga bisa dipastikan Rusia dapat mengambil satu tempat di final. Satu tempat lagi dari grup neraka masih diperebutkan Brasil dengan Perancis atau Uruguay dan Belgia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN