Mohon tunggu...
Dismas Kwirinus
Dismas Kwirinus Mohon Tunggu... -Laetus sum laudari me abs te, a laudato viro-

Tumbuh sebagai seorang anak petani yang sederhana, aku mulai menggantungkan mimpi untuk bisa membaca buku sebanyak mungkin. Dari hobi membaca inilah, lalu tumbuh kegemaran menulis.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Mengolah Regulasi dan Resiliensi Diri

28 November 2020   10:27 Diperbarui: 10 Januari 2021   14:12 136 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengolah Regulasi dan Resiliensi Diri
Dok. pribadi

Regulasi adalah kemampuan seseorang untuk mengontrol perilakunya sendiri. Jika seseorang mampu mengolah regulasi dirinya dengan baik maka ia akan memetik hal-hal positif, misalnya kesejahteraan psikologis yang baik dan reaksi yang baik dalam bekerja. Sedangkan regulasi emosi ialah sikap seseorang yang tetap tenang ketika berada di bawah tekanan. Sementara itu, resiliensi diri adalah kemampuan untuk merespon secara positif dan produktif ketika menghadapi rintangan atau cobaan hidup.

Menjadi sosok atau pribadi yang mampu mengolah regulasi diri dan resiliensi diri dengan baik tidak kita peroleh begitu saja, banyak proses yang harus kita lalui. Proses itu tahap demi tahap kita lalui meskipun tidak mudah. Dalam proses itu juga kemampuan untuk mengontrol prilaku diri diuji. Mau menjadi seorang anggota masyarakat yang baik berarti mau mengikuti aturan main yang telah disepakati bersama, mau mengikuti aturan berarti harus siap menerima segala macam konsekuwensi berupa tantangan dan cobaan. Menerima tantangan dan cobaan dengan sabar.

Hidup memang penuh dengan tantangan dan cobaan. Tetapi justru oleh tantangan dan cobaan itu hidup ini menjadi lebih hidup dan berwarna. Namun, banyak orang yang begitu mudah takhluk oleh tantangan dan cobaan karena menyerah sebelum berusaha. Pada hal, sebuah tantangan akan membuat kita bekerja lebih bersemangat dan antusias. Hidup adalah anugerah dan tantangan jadi menurutku nikmatilah keduanya. Jika kemampuan untuk mengontrol prilaku diri dengan baik itu tidak kita miliki, maka kita akan menjadi pribadi yang tidak tahan menderita dan mudah putus asa sehingga kita tidak dapat menikmati anugerah dan tantangan yang ada dalam diri hanyalah emosi.

Dalam tulisan ini tentunya aku ingin mengajak pembaca untuk melihat sejauh mana regulasi diri dan emosi yang Anda miliki dan hal ini sangat penting. Mengapa? Karena regulasi (kemampuan untuk mengontrol perilaku diri) itu sangat berpengaruh pada perjalanan hidup kita selanjutnya. Jika tidak memiliki regulasi diri yang baik maka kita akan sulit untuk berkembang, berelasi dan berkomunikasi dalam masyarakat. Baik dengan teman-teman maupun dengan masyarakat luas.

Berkomunikasi dan berelasi dengan baik bukan pertama-tama dengan teman ataupun masyarakat luas, tapi yang utama ialah berkomunikasi dan berelasi dengan Tuhan. Ketika relasi Anda sendiri retak dengan sesama bagaimana Anda bisa menjalin relasi yang baik dan intim dengan Tuhan. Jadi, regulasi diri menurutku tidak hanya memberikan dampak positif pada kesejahteraan psikologi yang lebih baik dan reaksi yang baik dalam bekerja, tetapi juga bisa menjalin relasi yang baik dan intim dengan Tuhan.

Tulisan ini aku lengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun yang bervariasi tentang sejauh mana kita mengembangkan regulasi diri? Mengapa kita harus tetap tenang (regulasi emosi) dalam menghadapi situasi sulit dan genting dalam hidup? Bagaimana kita menggembangkannya? Dan apa manfaatnya?

Sejauh mana kita mengembangkan regulasi diri? Pertanyaan sejauh mana merujuk pada proses. Jika ada proses tentunya ada tahapan-tahapan yang mendahuluinya. Tahapan-tahapan yang kita lalui sejauh ini tentu banyak mengubah sikap dan cara bertindak. Proses perubahan cara bertindak itu dari waktu ke waktu berangsur mengalir dengan baik. Contoh ketika SMA aku punya seorang teman dan temanku itu dikenal oleh teman-teman sebagai pribadi atau sosok yang tidak sabar. Dia selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan segala sesuatu. Misalnya ketika ada rapat OSIS ia selalu mencari alasan supaya bisa cepat pulang ke rumah, karena ia tidak sabaran dan ingin cepat pulang makan. Namun, peristiwa delapan tahun silam itu kini berubah drastis. Dia yang dulu dikenal sebagai orang yang tidak mampu mengontrol diri. Kini dinilai oleh teman-teman di kampus sebagai orang yang paling berkembang dalam peningkatan regulasi diri, padahal dia merasa tidak jauh berubah.

Proses perubahan dan perkembangan regulasi diri yang kita usahakan terus bertumbuh dengan baik. Dalam contoh di atas ada transisi atau perubahan, peralihan dari pribadi yang tidak sabar menjadi pribadi yang penyabar, pribadi yang tidak mampu mengntrol diri menjadi pribadi yang mampu mengontrol diri dengan baik.

Tentunya proses peralihan ini akan menimbulkan pertanyaan baru, yakni mengapa kita harus tetap tenang (regulasi emosi) dalam menghadapi situasi sulit dan genting dalam hidup? Pertanyaan ini merupakan kelanjutan dari pertanyaan sejauh mana kita mengembangkan regulasi diri? Pertanyaan mengapa yang kemudian akan menggerakkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki tingkat regulasi yang baik pula.

Selain itu pertanyaan ini ingin meningkatkan kualitas hidup. Kualitas hidup yang beroreantasi pada hakikat hidup yang sesungguhnya. Misalkan pertanyaan mengapa kita harus tetap tenang (regulasi emosi) dalam menghadapi situasi sulit dan genting dalam hidup? Karena ketika kita memiliki sikap tenang, kita bisa lebih mudah diterima oleh teman-teman atau orang lain, baik di kampus atau sekolah maupun di lingkungan sosial. Dengan regulasi diri yang baik membuat kita mudah merangkul orang lain yang hadir dari berbagai segi usia dan kalangan. Namun, regulasi diri itu harus terus kita pupuk supaya ia tetap tumbuh dan berkembang sehingga dapat menghasilkan buah. Karena buah dari regulasi diri dan regulasi emosi yang baik itu adalah hidup yang berkualitas.

Kualitas regulasi diri yang kita miliki semakin bertumbuh dan berkembang. Maka yang dituntut dari kualitas itu adalah bagaimana kita meningkatkannya? Pertanyaan ini menghubungkan bagaimana cara kita untuk dapat meningkatkan kualitas regulasi itu sendiri. Memang untuk memelihara dan merawat sesuatu yang telah kita miliki itu tidak mudah, karena tidak semudah kita menggapainya. Menurutku lebih mudah mencari atau menggapainya dari pada memperjuangkan dan mempertahankannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN