Media

(Ringkasan) Digital Media versus Analog Media

14 Februari 2018   03:11 Diperbarui: 14 Februari 2018   03:51 373 0 0

Bab dua dalam buku Writing For Digital Mediayang ditulis oleh Brian Cornell ini secara khusus membahas mengenai dua tipe media yakni versi digital dan analog. Pembahasan dalam bab ini tidak secara langsung mendiferensiasikan antara dua media tersebut,  namun lebih pada menunjukkan keunggulan-keunggulan media digital.

 Hal yang paling terasa berbeda adalah bahwa menulis digital (di Web), lebih dapat mendorong pembaca untuk berinteraksi dengan sebuah berita daripada dengan tulisan yang konvensional seperti buku. Karena dalam media digital (online) terdapat berbagai ragam fasilitas multimedia seperti grafis, video, foto, audio dan flash movies, juga tersedianya kolom komentar dan keluasan jangkuan (internet) yang dapat mendukung dan atau memperkaya suatu konten untuk lebih interaktif. Meskipun media digital telah merubah cara lama pembaca dalam mengakses informasi, namun hal tersebut tidak mengurangi kebutuhan-kebutuhan dasar untuk menulis seperti aspek kejelasan, kelengkapan, ringkas dan benar.

Brian Cornell mengemukakan tiga peran penting bagi penulis untuk membuat tulisan yang baik yakni Communicator, Organizer of Informationdan Intepreter.Peran Communicatortidak lain adalah penulis itu sendiri, yang memiliki kemampuan dalam membawa pembaca melalui pesan secara provakatif, lucu, menarik atau mendalam. Peran yang kedua organizer of informatian, adalah tentang konten seperti apa yang akan ditampilkan. 

Mengingat bahwa adanya informasi baru setiap harinya (seperti dalam berita), keputusan untuk menyaring informasi yang dibutuhkan dengan yang tidak menjadi sangat penting. Dalam hal ini penulis yang baik dapat memberikan informasi yang sesuai bagi audiensnya. Peran yang ketiga, Intepreter,yang adalah pembacanya. Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatan pembacanya, hal ini dapat membantu penulis dalam memilah informasi yang diperlukan.

Kredibilitas (credibility)

Tiga peran penting penulis diatas sangat mengandalkan kredibilitas dari penulis itu sendiri. Mengingat banyaknya penerbit Web Page dan relatif mudahnya penerbitan isu kredibilitas ini menjadi semakin besar jika dibandingakan dengan media tradisional. Pun begitu, cara-cara dimana kredibilitas dibentuk, diukur, dan dipelihara juga berubah dalam konteks online media

Kredibilitas sendiri didefinisikan dalam dua indeks kunci menurut peneliti komunikasi Philip Meyer (1988:588), yakni believabilitydan community affiliation.Believability atau kepercayaan didasarkan pada sajian berita yang berupa laporan kejadian yang akurat, tidak bias, dan lengkap. Community Affiliation mengacu pada organisasi yang melayani suatu komunitas tertentu dalam hal menyamakan persepsi atau pandangan tertentu. Dua dimensi Meyer ini menunjukkan bahwa publik dapat menolak cara media atau sumber menyajikan berita namun tetap percaya pada apa yang dikatannya.

Banyak dari sebagian besar penelitian baru menyarankan bahwa mereka yang melihat informasi secara online, menganggap apa yang mereka temukan di Web lebih dapat dipercaya daripada yang ditemukan di media tradisional. Studi yang meneliti kredibilitas Web menunjukkan bahwa semakin banyak orang online, semakin kredibel mereka mengevaluasi informasi yang mereka temukan di sana. 

Penelitian yang dilakukan oleh Thomas J. Johnson dan Barbara K. Kaye (2004:631, 633, 634) menyebutkan bahwa semakin banyak pengguna mengandalkan Weblog, semakin tinggi penilaian kredibilitas mereka, terlepas dari kenyataan bahwa bias diakui dan bahkan dilihat sebagai kebijakan oleh pembaca blog. Pembaca blog "mencari informasi untuk mendukung pandangan mereka dan cenderung mempertimbangkan informasi yang mereka terima dari blog sebagai sangat kredibel"

Bias

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kredibilitas blog ada kaitannya dengan bias - yaitu, masuknya sudut pandang penulis di blog dimana tidak adanya cantuman dari media berita tradisional yang mengikuti model objektivitas jurnalistik. Objektivitas jurnalistik sendiri merujuk pada pemberitaan yang berkeadilan, kenetralan. Faktualitas, dan nonpartisan.

Identifikasi

Identifikasi adalah konsep komunikasi yang membantu kita memahami bagaimana blog bisa menghasilkan kepercayaan dari pembaca. Kenneth Burke yang menggagas teori atas dasar indentifikasi, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk individual yang unik, namun ketika kepentingan mereka digabungkan, atau seseorang merasa atau yakin untuk percaya bahwa mereka bergabung, maka identifikasi terjadi. Adanya deskripsi yang bergema di tingkat individu ini berkesesuaian dengan konsep Meyer tentang afiliasi komunitas yang dijelaskan di atas. Burke memberikan wawasan tentang kebangkitan kembali keaslian dan keaslian jugalah yang sebagai faktor signifikan dalam membangun kredibilitas.

Blog merupakan langkah penting bagi lingkup jurnalisme dalam menghasilkan lebih banyak penonton, dengan menawarkan lebih banyak ekspresi dan pesan oleh suara individu. Suara "orang sehari-hari" dari banyak blog mendorong identifikasi versus suara klinis media yang tidak memihak. Suara-suara ini memberikan rasa kehadiran untuk pembaca dengan cara memberikan warna berbeda dari tulisan media tradisional yang menjunjung tinggi profesionalitas dalam objektivitas jurnalistik.

Transparasi

Penulis web harus berusaha untuk mengadopsi lebih banyak prinsip dan teknik blogging, termasuk praktik transparansi. Maksudnya adalah tentang kesiapan mereka untuk mengakui kesalahan dan untuk menggabungkan atau mempertimbangkan informasi baru, berbagi, dan  menunjuk pada bahan atau sumber asli yang ada di posting-an mereka. Hal ini dikarenakan pembaca blog menanggapi kemauan penulis untuk mengungkapkan pandangan politik, bias, atau pribadi mereka.

Akuntabilitas

Konsep ini mengacu pada organisasi yang mempekerjakan penulisnya. Akuntabilitas menekankan pada kewajiban organisasi tersebut menjelaskan diri mereka sendiri; bagaimana mereka beroperasi dan layanan seperti apa yang sesuai dengan kepentingan publik dalam standar jurnalistik. Erat kaitannya dengan standar profesional suatu organisasi dan nilai etika. Hal ini perlu dilakukan agar ketika publik meminta pertanggungjawaban kepada organisasi berita, publik sudah terlebih dahulu mengetahui standar apa yang dimiliki oleh organisasi tersebut.

Sumber:

Carroll, Brian. 2010. Writing for Digital Media. UK: Routledge