Dina Mardiana
Dina Mardiana profesional

Saya seorang penulis dan penerjemah, juga pengamat gaya hidup. Blog saya yang lainnya dapat dikunjungi di www.dinamars.net, www.travelkulinerdina.net

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Indonesia Menjadi Anggota IAPR, Saatnya Peneliti Berkarya

15 Oktober 2017   14:10 Diperbarui: 15 Oktober 2017   16:29 2131 7 1
Indonesia Menjadi Anggota IAPR, Saatnya Peneliti Berkarya
Para ilmuwan Indonesia berkumpul pada 5 Oktober 2017 kemarin di auditorium Institut Prancis di Indonesia dalam rangka masuknya Indonesia menjadi anggota IAPR. (foto: dok.IFI)

Kasus Dwi Hartanto memang bikin terkejut hampir semua orang, terutama anak-anak mahasiswa yang sedang atau barau selesai menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Terbayang dulu rasanya kami tidak terpikir untuk membuat sebuah pengakuan bohong-bohongan mengenai prestasi atau riset yang kami raih kalau memang bukan hasil jerih payah sendiri, apalagi studi di luar negeri yang memang dirasakan lebih berat ketimbang di dalam negeri.

Ya saingannya pelajar-pelajar internasional, bo'. Kalau di Indonesia saingannya ya paling dengan pelajar-pelajar dari kota dan daerah lainnya, sedangkan di luar negeri ya dengan mahasiswa yang dianggap pintar serta tekun. Biasanya saingan terberat tuh pelajar dari Jepang, Rusia, Cina, juga para mahasiswa yang berdarah Yahudi. Jadi, jika kami berhasil menghasilkan sebuah prestasi internasional, rasanya bangga sekali karena artinya Indonesia tidak kalah dengan raksasa ilmuwan dari negara-negara tersebut. Kalau bohong kan, malunya setengah mati.

Tapi bukan itu yang akan saya tulis di sini. Melainkan ajakan kepada teman-teman dan adik-adik mahasiswa yang kini menempuh studi, baik di dalam maupun luar negeri. Mungkin benar, ada suatu sisi dalam diri kita yang haus akan pengakuan. Namun wadahnya tidak ada. Padahal mungkin kalian merasa, sudah susah-susah belajar, koq tidak diakui.

Para ilmuwan Indonesia berdiskusi sebelum acara dimulai di auditorium. IFI menjadi penyandang dana untuk keanggotaan Indonesia di IAPR. (foto: dok.IFI)
Para ilmuwan Indonesia berdiskusi sebelum acara dimulai di auditorium. IFI menjadi penyandang dana untuk keanggotaan Indonesia di IAPR. (foto: dok.IFI)

Maka itu, International Association for Pattern Recognition (disingkat IAPR), semacam lembaga internasional yang mengakui karya -karya dan riset ilmiah di bidang pengenalan pola sains komputer yang dibentuk sejak tahun 1978 di Amerika Serikat, mengajak Indonesia untuk bergabung menjadi anggotanya. Seperti yang dilansir oleh Institut Prancis di Indonesia (atau IFI), atas inisatif Prof. Prof. Jean-Marc Ogier, rektor Universitas La Rochelle di Prancis, bersama rekannya yang juga anggota IAPR, Prof. Luc Brun dari Ecole Nationale Suprieure d'Ingnieur (ENSI) Caen, Indonesia akan menjadi negara anggota yang ke-50 pada tahun depan.

Kedua orang ini merupakan satu-satunya anggota IAPR dari Prancis yang menggagas ide untuk memasukkan Indonesia ke dalam keanggotaan IAPR atas dasar persahabatan dan kerjasama Prancis-Indonesia. IFI juga turut memberikan kontribusi finansial kepada Indonesia berupa biaya pendaftaran menjadi anggota.

Sementara itu, Dr. Anto Satriyo Nugroho dari BPPT ditunjuk menjadi pengurus IAPR dari Indonesia sebagai ketua, dan Harci Leslie Hendric Spits Warnars, Ph.D dari Universitas BINUS sebagai wakil ketua. Ada pula Dr. Suryadiputra Liawatimena, juga dari Universitas BINUS, yang menjadi sekretaris jenderal. Mereka ini diamanatkan untuk menyerahkan berkas pendaftaran IAPR Indonesia ke kantor IAPR Prancis pada awal bulan Desember nanti.

Nantinya akan ada lebih dari 200 orang peneliti Indonesia yang bergabung dengan lembaga ini dan dapat berkontribusi mempromosikan riset serta teknologi Indonesia di tingkat internasional, terutama di bidang Big Data, Neural Networks, Artifical Intelligence dan Computational Forensics. Setiap peneliti dan mahasiswa/i Indonesia yang ingin bergabung dapat mendaftar secara gratis.

Nah, Dwi Hartanto, serta teman-teman mahasiswa dan peneliti, sekarang kalian sudah punya wadah untuk berkarya dan memamerkannya kepada dunia . Info lebih lanjut tentang IAPR dapat diakses di www.iapr.org.***