Mohon tunggu...
Dias Ashari
Dias Ashari Mohon Tunggu... Penulis - Wanita yang bermimpi GILA, itu akuuu..

Mantan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

(Novel) Racikan Tinta Calon Apoteker - Episode 2

30 Oktober 2020   08:52 Diperbarui: 30 Oktober 2020   09:07 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

" Siti, aku tidak menyangka kita akan sekelas, aku seneng banget" kataku dengan antusias. " Iyah sama aku juga" jawabnya dengan senyuman khasnya.

Tak lama kemudian terlihat seorang guru yang berkulit putih masuk ke dalam kelas kami. " Assalamualaikum anak-anak, perkenalkan nama ibu Sutini, hari ini ibu akan mengabsen nama kalian untuk memastikan jumlah siswa yang ada di kelas 7G  ini".

" Wa'alaikumsalam, baik bu" Jawab kami serentak. Beliau memulai mengabsen nama-nama kami dan tibalah namaku dipanggil. " Finza Syahroni" terdengar jelas suaranya. Aku merasa aneh semenjak kapan namaku berubah. Tak lama kemudian beliau berkata lagi,

" Eh maaf, maksud ibu Finza Zaini" kata beliau sambil menutup mulut dan menahan tawa. Serentak satu kelas ikut tertawa dan mengejekku. Wajahku seketika berubah warna menjadi merah jambu, menahan rasa malu itu.

Saat istirahat tiba, terdengar ada yang memanggilku dengan nama Finza Syahroni. Saat aku tengok ternyata itu dia. Iyah dia yang membuat hatiku berdebar-debar. Seketika aku langsung berucap istigfar atas perasaan yang aku rasakan.

Namun tak bisa kupingkiri, hari ini begitu indah, aku harap hari seperti ini tidak akan pernah berakhir dan akan terus berulang setiap harinya. Dialah yang bisa mengalihkan duniaku. Dia adalah cinta pertama dalam hidupku. Hari demi hari terasa sangat indah untuk dilalui bagiku. Aku selalu berusaha berangkat lebih pagi dari yang lain, agar aku bisa duduk sejenak dibangku miliknya. Aku rela disuruh membagikan tumpukan buku tugas hanya untuk bisa menyentuh bukunya. Hingga aku rela meminta kepada guruku agar setiap ada tugas kelompok kita bisa dalam satu tim. Akupun rela membeli tas selendang yang berwarna sama dengannya. Masih kuingat tas itu berwarna biru.

Hari demi hari kami semakin dekat, hingga nampak seperti  sahabat karib. Pagi itu seperti biasa aku datang lebih awal agar bisa duduk dibangkunya. Namun aku terkejut karena diza sudah datang terlebih dahulu. Pagi itu terasa canggung bagiku, kita tak saling sapa. Aku langsung duduk di bangku dan mengeluarkan buku LKS untuk mengisi setiap soal-soal. Saat itu aku memang bukan siswa yang pintar namun aku terkenal sebagai siswa yang rajin mengisi LKS.

Pagi itu dengan khusunya aku mengisi LKS, hingga saat diza menghampiriku suara langkah kakinya tidak terdengar sama sekali.

" Hei ca, serius banget sih kamu pagi-pagi ngerjain soal-soal di LKS" candanya sambil duduk di sampingku.

" Dag..dig..dug" terasa jantungku ini berdebar dengan cepat dan kuat.

" I...ini za aku la..lagi isi waktu luang saja" jawabku sedikit terbata-bata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun