Mohon tunggu...
Adrian Diarto
Adrian Diarto Mohon Tunggu... orang kebanyakan

orang biasa. sangat bahagia menjadi bagian dari lansekap merbabu-merapi, dan tinggal di sebuah perdikan yang subur.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Tentang Kehilangan

9 Juli 2019   18:36 Diperbarui: 10 Juli 2019   20:45 0 19 5 Mohon Tunggu...
Puisi | Tentang Kehilangan
spot riyadi. dokpri.

"Kapan kamu kehilangan aku," tanyamu kepadaku

Setelah tahun-tahun yang melayang pergi
Sepotong waktu hinggap begitu saja
Merupa kepak sayap yang menemukan ranting di atas telaga

Lalu berdiam menunggu angin selatan datang membelai
Angin selatan yang membuatnya jatuh hati pada awan, ombak, lereng dan gunung-gunung yang memanjang-meninggi

Kamu memang tidak pernah pergi, ternyata
Dan kehilangan itu tidak pernah ada dan terjadi

Waktu hanya menyembunyikanmu dari pagi dan siang, malam dan sore
Lalu dini hari membawamu kembali

Ketika bulan pelahan mengingsut ke barat dan burung-burung kecil mencicit menahan dingin

Membawa kembali cerita tentang kebersamaan yang tidak terjadi dan perpisahan yang hanya cerita di antara sisa kopi yang bertambah dingin

Tidak ada yang berubah pada pagi pun malam, siang pun sore
Seperti aliran yang tidak permah mengering pada sungai kecil yang dilintasi jembatan

Bukankah pada lintasan setapak berpengeras paving block sesekali kaki kita bersama pelahan mengayun?
Lalu berpisah sebelum pintu-pintu besi yang berbeda sisi

Dan, sekarang, waktu tidak menafikan perannya untuk menceritakan yang sesungguhnya terjadi

Bahwa tahun-tahun yang berlalu hanya hitungan angka-angka

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x