Mohon tunggu...
Adrian Diarto
Adrian Diarto Mohon Tunggu... Petani - orang kebanyakan

orang biasa. sangat bahagia menjadi bagian dari lansekap merbabu-merapi, dan tinggal di sebuah perdikan yang subur.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Malam Berdesakan di Ruang Tamu

5 Maret 2019   22:57 Diperbarui: 6 Maret 2019   04:47 45
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aku berhenti di dekat pohon manggis yang menjuntaikan dahannya di atas kabel-kabel listrik di daerah Salam
Saat senja baru saja melintasi langit

"Benarkah malam akan melintasi ?" tanyamu

"Aku belum tahu. Tapi sudah kulihat bayangan langit di atas atap rumah," jawabku tanpa memahami pertanyaanmu

Sudah lama aku menyekutu dengan malam
Jadi tidak ada yang kutunggu selain malam

Langit malam adalah kanvas tempat mimpi-mimpi dilukisgambarkan
Dengan garis-garis lengkung dan mendatar
Juga garis lurus yang memotong sisi-sisi malam

"Tapi sepertinya malam melintas lebih dini," lanjutmu

Aku sudah menanti malam sesaat setelah fajar merekah sambil menyusurlalui siang

Malam bagiku bukan gelap, ia hanya berwarna hitam
Maka malam adalah saat terbaik menyusuri warna-warna hitam

"Cahaya dari dalam jendela adalah tanda malam menjelang," katamu sambil mengira cahaya yang memendar redup di kaca jendela sewarna es

"Apakah malam juga masuk ke rumahmu?" tanya keduamu

Malam bahkan tinggal di rumahku pada saat siang hari
Memenuhi ruang-ruang yang telah lama merubah rindu menjadi debu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun