Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... karyawan swasta, ngajar math, seneng jalan, love to share inspirasional life stories (asal ga hibah, hehehe), sukai nulis, ndengerin musik, nyanyi, n suka baca buku meski slow reader...

karyawan swasta, seneng jalan, love to share inspirational life stories (asal ga gibah hehehe), nulis, sukak denger musik n nyanyi, suka baca buku meski slow reader..

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Risalah

23 September 2019   12:00 Diperbarui: 23 September 2019   12:33 0 15 1 Mohon Tunggu...
Risalah
Ilustrasi: pixabay.com/falco-81448

Dengungan itu pecah membahana di angkasa, merobek jiwa yang berharap akan tatanan yang lebih mulia

Ringkasan kata tak mampu lagi mencegah rasa. Bukan lagi rindu akan bayangan maya atau sebuah citra

Anak negri kembali bangun dari tidur, melonjak dengan ingin, gugat naluri putra bangsa, berduyun coba bangkitkan nalar penguasa

Berduyun-duyun rencana mulai tertata, opini simpang siur berjalan dalam laju dialektika  tanya sebagai simbol peka rasa

Sebagai pengingat, penggugat, ataukah sebagai alat pemurni postulat

Berlaksa rencana tertata, oh, haruskah tragedi ini kembali menjelma? Wahai sukma, apakah ini sebuah sandiwara? Apakah kita terseret ke dalamnya? Memainkan peran yang tercipta dari rasa frustasi yang terakumulasi?

Jalanan akan penuh sesak. Sesak dengan orasi dan rumpun kata yang tak terpelak. Sesak untuk terus berjuang dalam perdebatan dalam diri sendiri, tentang sebuah rasa nyaman dan arti diri

*Solo, tatkala risalah itu mengusik hati

KONTEN MENARIK LAINNYA
x