Mohon tunggu...
Dhayu D.P.
Dhayu D.P. Mohon Tunggu...

Mahasiswa Magister Manajemen di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Driving a Motorbike in Yogyakarta City Nowadays

26 Maret 2016   15:11 Diperbarui: 26 Maret 2016   15:24 0 0 0 Mohon Tunggu...

Naik motor di Kota Yogyakarta sekarang ini.

Numpak Motor wonten Ngayogyakarto ing dinten puniko.

 

Bangun sebelum subuh. Siapin perlengkapan sekolah anak. Mandi. Sholat subuh. Bersiap diri. Dandan cantik bagai eksekutif muda tuntutan etiket perkuliahan sekolah master of business administration di Kota Jogja. Jam menunjukkan masih setengah 6. Terkadang kalau masih sempat mandiin dulu anak tersayang, namun lebih sering aku serahkan kepada kakek dan neneknya (nyuwun pangapuro bapak kaliyan ibu T_T). Bergegas aku berangkat sebelum kelewat siang. Sarapan pun kulupakan demi masuk kuliah jam 7 pagi. Maklumlah saya anak ndeso yang berharap mendapat pendidikan tinggi, tinggal jauh sekitar 15-20 km dari kampus. But it’s fine.

Hampir 5 tahun semasa kuliah S1 dulu berkutat dengan jalanan Jogja beserta hiruk pikuknya pulang-pergi naik motor. Saya mah nggak seberapa dengan perjuangan teman saya dulu yang bertahan 3 tahun pulang-pergi klaten-jogja untuk kuliah. Apalagi dibandingin sama bapak saya dulu masa kuliah di IKIP Jogja naik sepeda onthel (itu mah beda jaman mbak...).

Singkat cerita saya berangkat jam 5.45 pagi waktu Indonesia bagian kulon (Barat). Mengapa jam segitu? Karena berdasarkan survei yang saya lakukan dan berbekal pengalaman bertahun-tahun itu adalah waktu yang tepat untuk menghindari MACET. Horaayy. Tak bisa dipungkiri lagi perkembangan zaman yang semakin maju dan jalan yogyakarta yang tidak bertambah lebar,MA to the Cet or Traffic Jam is become a routine activity today. Saya adalah orang yang cenderung berhati-hati dalam berkendara dan tidak suka beratraksi zig-zag macam anak putih abu-abu sekarang ini. Makanya saya memilih bangun lebih pagi daripada menghadapi macet yang akan menghancur-leburkan mood saya seharian penuh.

I don’t need mood crusher like that.

Perjalanan selama 30 menit itu akan sangat nyaman dengan kecepatan rata-rata 60-70km/jam tidak terburu waktu dan keadaan jalan cenderung lengang layaknya pukul 6:30 pagi 10 tahun lalu. Sedih ya. :’(.

Pernah sekali saya niat berangkat siang jam 6:30 atau jam 6:45 pagi. Tapi ya karena kuliahnya dimundurin jadi jam 7:30 pagi. Dan apa yang terjadi?. Sepanjang jalan magelang penuh dengan berbagai macam aksi. Kebut-kebutan lah, main salip sana sini lah, main klakson sana-sini, salip dari sebelah kiri, belok semaunya sendiri dan sebagainya. Percaya atau nggak buktikan sendiri monggo. Bukan macet itu ya. Lebih ke Etika Berlalu Lintas yang nggak karuan. Prihatin, sedih, campur aduk rasanya. Seakan ciri khas warga Jogja yang santun itu sudah tergerus zaman. Saya paling sebal kalau naik motor trus ada yang nyalip dari kiri, HELLOO, silahkan kalau mau duluan mah monggo mawon, tapi salip dari sebelah kanan ya.

Cara anda berkendara itu mencerminkan kepribadian anda. Maka berhati-hatilah dan disiplin dalam berkendara. Saya jadi teringat cerita salah satu dosen saya tentang temannya yang seorang ekspatriat berniat tinggal di Jogja untuk sementara waktu selama menempuh pendidikan di sini. Dia adalah orang yang suka berkendara dengan motor dan sangat ahli mengendarainya. Pertama kali ke Jogja dan melihat crowded nya lalu lintas di sini, dia tidak berani naik motor selama sebulan. 

Namun setelah melakukan pengamatan selama sebulan itu, dia memberanikan diri beli sepeda motor. Dan apa yang terjadi? Dia berani berkendara bahkan lebih jago dari dosen saya. Apa kuncinya dia bisa berani berkendara? Katanya “Naik motor disini itu yang penting asal tidak nabrak kendaraan di depannya”. GOOD POIN. Rasanya nyleneh ya, tapi dipikir-pikir benar juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x