Mohon tunggu...
Tungga Dewi
Tungga Dewi Mohon Tunggu... Guru - Guru SMA N 1 Karangdowo

Saya adalah Guru di SMA N 1 Karangdowo Klaten . Hobi saya selain menjadi pendidik adalah travelling dan memasak serta menulis.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Koneksi antar Materi Modul 1.4 - Budaya Positif

17 Desember 2022   21:44 Diperbarui: 17 Desember 2022   21:48 811
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4-BUDAYA POSITIF

OLEH:

MARHENI TUNGGA DEWI, S. Si Calon Guru Penggerak Angkatan 7  dari SMA N 1 Karangdowo Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah.

Puji Syukur saat ini saya sudah sampai pada modul 1.4 yaitu tentang Budaya positif dan sampai pada koneksi materi. Pada koneksi materi modul 1.4 ini saya yang pertama disuruh membuat kesimpulan mengenai peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif ,motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan),posisi kontrol restitusi,keyakinan kelas/sekolah,segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya . Disini apa yang bisa saya simpulkan adalah bahwa sebuah budaya positif sangat penting dalam kita setiap hari melakukan proses belajar mengajar . Kalau budaya positif itu tercipta pasti sangatlah bagus dan pembelajaran berjalan lancar . Peran saya sangat penting dalam penerapan budaya positif karena saya harus bisa menciptakan kondisi disiplin positif untuk seluruh warga sekolah supaya tercipta peraturan yang diyakini dan disepakati oleh seluruh warga sekolah tanpa paksaan dan dengan kesadaran masing-masing individu. Selain itu saya juga harus bisa memberikan motivasi untuk membentuk perilaku siswa yaitu dengan cara memberikan apresiasi atau penghargaan dan bukan hukuman . Apresiasi akan menggugah semangat siswa untuk melakukan perubahan ke arah yang positif . Posisi kontrol kita dalam melakukan perbaikan atas kesalahan siswa yang paling tepat adalah posisi kontrol sebagai manajer karena disitu seorang manajer harus berbuat sesuatu bersama siswa, mempersilakan siswa mempertanggungjawabkan perilakunya ,mendukung siswa agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.Jika kita menginginkan siswa kita menjadi manusia yang merdeka , mandiri dan bertanggung jawab maka kita perlu mengacu kepada restitusi yang dapat menjadikan siswa kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di manajer siswa diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya maupun kebutuhan orang lainnamun dapat berkolaborasi dengan siswa bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Dan sebagai cara untuk menanamkan disiplin positif pada siswa yang merupakan dari budaya positif kita perlu menerapkan segitiga restitusi. Jadi budaya positif ini bersesuaian dengan filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa Guru diharapkan dapat menerapkan budaya positif di lingkungan sekolah. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia dan itu hal yang sama dengan dimensi profil pelajar pancasila. Dan Posisi manajer yang telah saya sebutkan diatas itu bersesuaian dengan visi guru penggerak yaitu pendidik wajib menerapkan konsep pemikiran dari Ki Hajar Dewantara dengan memberikan teladan hidup dan kehidupan,mendampingi anak dengan rasa menyenangkan,memberi semangat untuk tumbuh kembang sesuai kodrat alam dan zaman.  Dalam menumbuhkan nilai dan peran seorang Guru Penggerak  hendaknya memiliki visi yang jelas segai langkah untuk mewujudkan gambaran murid yang diharapkan di masa depan. Visi Guru Penggerak dirumuskan melalui pendekatan inkuiri apresiatif  yang dilakukan dengan menggunakan tahapan BAGJA yaitu Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi. Melalui tahapan-tahapan BAGJA tersebut diharapkan akan muncul pembiasaan -pembiasaan positif yang akan membentuk budaya positif.Budaya positif yang muncul disekolah dapat haruslah didasarkan pada nilai-nilai kebajikan yang tertuang dalam profil pelajar Pancasila. Budaya positif akan mendorong siswa untuk berfikir,bertindak dan mencipta sebagai proses memerdekakandirinya sehingga siswamenjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Disiplin positif merupakan bagian dari budaya positif dan merupakan bentuk kontrol diri untuk mencapai tujuan yang membuat seseorang menggali potensinya untuk dihargai dan lebih bermakna.Orang yang disiplin memiliki rasa tanggung jawab yang kuat dalam dirinya untuk melaksanakan suatu tindakan sesuai dengan hati nurani dan tanpa paksaan atau karena mendapat pujian . 

Teori motivasi perilaku manusia  ada 3 hal yaitu untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. 

5 posisi kontrol seorang Guru adalah sebagai penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau dan sebagai manajer. Dalam hal ini kita diharapkan posisi kontrol kita sebagai seorang manajer.

Kebutuhan dasar manusia adalah bertahan hidup, cinta dan kasih sayang rasa diterima, kebebasan , kesenangan dan penguasaan. Oleh karena itu kita sebagai guru harus benar-benar memperhatikan lima kebutuhan dasar tersebut.

Keyakinan kelas merupakan sebuah ketetapan atau peraturan kelas yang telah disepakati dan diyakini serta telah dijelaskan konsekuensi yang diterima jika kesepakatan tersebut dilanggar. Keyakinan kelas dibentuk untuk menciptakan disiplin positifdari siswa sehingga siswa mempunyai kesadaran penuh tanpa paksaan melaksanakan kesepakatan kelas yang sudah diyakininya dengan penuh tanggung jawab. Jika ada anak yang melanggar keyakinan kelas maka perlu ada komunikasi yang baik antara guru dan siswa dan mengatasi masalah tersebut dengan segitiga restitusi. 

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi siswa untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali kekelompoknya dengan karakter yang kuat ( Gossen 2004). Restitusi bukan untuk menebus kesalahan melainkan sebuah tawaran dan bukan paksaan. Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif , dan memulihkan dirinya setelah berbuat kesalahan. Ada tiga tahapn dalam segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan. 

Hal-hal yang menarik bagi saya dan diluar dugaan adalah pada saat saya menerapkan segitiga restitusi. Disitu siswa lebih bebas mengungkapkan alasannya dan lebih terbuka kenapa dia melakukan kesalahan yang sudah diyakininya. Sehingga kita bisa mendapatkan solusi untuk memperbaiki kesalahan siswa tersebut dengan bersama-sama mencari penyelesaiannya. Dengan cara pendekatan tersebut siswa akan lebih disiplin dan dengan sadar untuk tidak melakukan kesalahan lagi.

Perubahan apa yang yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif dikelas maupun disekolah Anda setelah mempelajari modul ini ?

Perubahan yang terjadi dengan cara berpikir saya dalam menciptakan budaya positif dikelas maupun disekolah adalah saya menjadi mengerti bagaimana saya harus menciptakan budaya positif dikelas dan disekolah . dengan keyakinan kelas maupun sekolah yang terbentuk kita menjadi mudah untuk menciptakan disiplin positif di kelas maupun disekolah. Dan ternyata pada dasarnya semua anak itu baik kalau kita melakukan pendekatan dari hati ke hati . Semua bisa terselesaikan dengan baik dengan cara yang baik juga.

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul budaya positif baik dilingkup kelas maupun sekolah Anda ?

Pengalaman yang pernah saya alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul budaya positif baik dilingkup kelas maupun disekolah adalah setelah mempelajari modul ini saya menjadi mengerti betapa pentingnya pendekatan seorang guru kepada siswanya apabila mereka melanggar sebuah peraturan. Cara yang baik sangatlah penting untuk mengatasi kesalahan siswa.

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Perasaan saya ketika mengalami hal-hal tersebuat adalah bangga dan senang karena ternyata saya bisa melakukan pendekatan dengan siswa dan dapat menyelesaikan permasalahan siswa tanpa emosi dan dengan diskusi dari  hati ke hati. Dengan cara segitiga restitusi dan memposisikan diri sebagai manajer maka anak merasa nyaman untuk digali alasannya dan dalam memperbaiki kesalahannya. Disini anak akan menjadi terbuka dan bisa mencari solusi untuk bisa memperbaiki kesalahannya tanpa paksaan dan kita mengajak anak untuk mengingat kembali keyakinan kelas yang telah disepakati dan apa konsekuensinya kalau melanggarnya , sehingga kita melatih anak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Menurut Anda terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal yang sudah baik terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut adalah siswa menjadi lebih terbuka menyampaikan alasannya kenapa mereka melanggar keyakinan kelas kemudian siswa juga berniat memperbaiki kesalahannya dengan kesadarannya dan tanpa paksaan. Disini saya juga belajar untuk tidak emosi lagi apabila menyelesaikan permasalahan siswa . Dan yang perlu diperbaiki adalah saya harus memposisikan diri sebagai manajer yang benar-benar bisa menerapkan segitiga restitusi dengan baik.

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

Posisi yang paling sering saya pakai sebelum mempelajari modul ini ketika saya berinteraksi dengan murid adalah posisi kontrol sebagai penghukum dan pemantau. Saya sering marah-marah dengan siswa apabila mereka melakukan kesalahan bahkan saya menghukum mereka dengan hukuman verbal maupun tindakan . saya juga selalu memantau mereka apakah mereka sudah menaati aturan dan tidak . Dan setelah mempelajari modul ini posisi kontrol yang saya pakai adalah sebagai manajer dimana posisi sebagai manajer ini saya bisa menjadikan siswa menjadi pribadi yang mandiri,merdeka dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif ,nyaman dan aman. Disitulah letak perbedaannya dan sangat mencolok disaat kita sebgai penghukum siswa pasti akan lebih memungkinkan siswa menjadi marah dan mendendam atau bersifat agresif. Bisa jadi siswa tersebut akan melakukan hal-hal lain untuk menunjukkan kekesalnnya. Tapi jika kita memposisikan diri sebagai manajer maka siswa akan lebih sadar akan kesalahannya dan mereka akan lebih bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahannya.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda?

Sebelum mempelajari modul ini saya sudah menerapkan segitiga restitusi ini tetapi mungkin saya kurang paham apa nama tahapan-tahapan yang telah saya lakukan dan mungkin yang saya lakukan juga masih belum komplit dan benar sesuai tahapan segitiga restitusi.

Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Tahap yang saya praktekan adalah tahap validasi tindakan yang salah. saya selalu menanyakan alasan kenapa siswa tersebut melanggar peraturan.

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Selain konsep-konsep yang disampaiakn dalam modul ini dalam menciptakan budaya positif baik dilingkungan kelas maupun sekolah adalah bagaimana kita berkolaborasi dengan pihak sekolah dan seluruh warga sekolah serta pihak- pihak yang terkait untuk berpartisipasi dan berkontribusi langsung untuk mengembangkan dan menerapkan budaya positif di sekolah. Itu harus dilakuakan supaya budaya positif tercipta dengan terlaksannaya disiplin positif dari kesadaran dari masing-masing individu dengan penuh kesadaran dan penuh rasa tanggung jawab.

Sekian dan SALAM GURU PENGGERAK.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun