Mohon tunggu...
Devi Novianti Fernanda
Devi Novianti Fernanda Mohon Tunggu... Operator - Writer • Motivator • Content Creator • Muslimah Preneur

Seorang muslimah yang sedang jatuh cinta dengan dunia kepenulisan. Menjadikan tulisan sebagai caranya untuk menebar manfaat, menasihati diri, dan berdakwah. Buku pertamanya yang berjudul "Sayap Hijrah" akan segera terbit. Instagram: @denov_fer. Facebook: Devi Novianti Fernanda

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Malaikatku

28 September 2021   15:23 Diperbarui: 28 September 2021   15:28 57 9 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Malaikatku
Sumber : freefik.com 

Aku tidak tahu, berapa banyak luka yang telah aku goreskan pada hatimu, Bu. 
Entah sebanyak apa kecewa serta air mata yang tercipta karena aku. 
Namun, sedikit pun Ibu tidak pernah membenciku.

Senyumanmu seteduh rembulan. 
Kasih sayangmu bagai mentari di pagi hari, sungguh menghangatkan. 
Bagiku Ibu adalah malaikat tanpa sayap.
Nyaman, tenang, dan merasa terlindungi ketika bersamamu.

Tidak pernah aku dengar keluhan dari lisanmu.
Padahal aku tahu, begitu melelahkan menjaga serta merawatku.
Begitu banyak kesabaran yang Ibu butuhkan untuk membesarkanku. 
Namun, terkadang aku tidak tahu diri dengan melawanmu. 
Bahkan aku tidak berpikir dulu sebelum membalas perkataanmu.

Entah sudah berapa kesempatan yang aku lewatkan untuk bisa mengungkapkan perasaanku. 
Lidahku kelu ketika ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. 
Untuk meminta maaf kepadamu pun, terkadang aku malu. 
Sungguh, begitu buruk anakmu ini, Bu.

Sekuat apa pun aku berjuang untuk bisa membalas setiap kebaikanmu, aku tidak pernah mampu. 
Sebab apa yang Ibu beri untukku terlampau besar. 
Bahkan, meskipun aku mampu memberikan segala yang ada di dunia, tidak akan sebanding dengan segala pengorbananmu. 
Namun, aku ingin berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Maafkan anakmu ini, Bu. 
Meski sudah bertekad untuk membahagiakanmu, tetap saja tidak hentinya aku menyakitimu. 
Aku tidak sesabar Ibu. 
Begitu sering aku marah padamu, padahal aku yang salah. 
Sungguh, maafkan aku, Bu.

Aku tahu Ibu pasti memaafkanku. 
Bahkan, Ibu tidak akan tega melihat aku bersedih. 
Semua fakta itu malah membuatku malu. 
Apa lagi kata yang tepat untukku selain 'tidak tahu diri'.

Namun, aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku, Bu. 
Biar maut saja yang memisahkan kita. 
Sebab aku tidak bisa membayangkan kehidupanku tanpamu. 
Apakah duniaku akan secerah saat ada Ibu? 
Ah, aku terlalu takut, Bu. 
Jika aku boleh meminta, biar aku saja yang pergi lebih dulu.

Ibu, aku mencintaimu karena Allah.

Mohon tunggu...
Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan