Mohon tunggu...
desi guswita
desi guswita Mohon Tunggu... Desi Kirana

Do it, get it. Sukai yang kamu buat, buat yang kamu sukai

Selanjutnya

Tutup

Novel

Rinai [Bab 1]

21 September 2019   14:22 Diperbarui: 21 September 2019   14:30 0 1 0 Mohon Tunggu...

Diusir


Kali ini Aini benar-benar merasa terbuang, bahkan sangat terhina. Bagaimana tidak? baru empat puluh hari kematian Datuak Sati suaminya. Piah adik iparnya, sudah mengusir Aini dan Rinai anaknya dari rumah yang selama ini mereka huni.

Piah datang membawa kebencian yang tumbuh mengganti hilangnya nyawa Datuak Sati. Dari dulu memang Piah tidak menyukai Aini, dia selalu bermuka sinis kepada Aini. Entah apa sebabnya? Walaupun Piah begitu jahat namun Aini tetap bersikap baik kepadanya.

Dari cerita saudara Datuak Sati yang lain, Piah tidak menyukai Aini karena dia bukan orang Minang asli. Tidak basuku jo ba Nagari begitu katanya. Tapi tidak demikian dengan Aini, dia bahkan sangat paham dan mengerti dengan adat Minangkabau. Karena Aini lahir dan besar di dalam lingkungan orang yang beradat, Ayahnya juga seorang yang bergelar Penghulu.

Orang tua Aini dulu bertugas menjadi mantri  dan bidan di kampung ini, sampai Aini menikah pun masih tetap di sini. Semenjak  Ayahnya meninggal dunia, baru Ibunya pulang ke Jawa karena merasa tidak enak tinggal dengan menantu. Begitu kilah ibu Aini saat dia dilarang pulang ke Jawa, selain itu, beliau juga ingin mengurus rumahnya yang di Jawa.

Meski Aini berwajah Jawa tetapi di dalam tubuhnya masih mengalir darah Minang, yang membuat lidah dan ucapannya tahu dengan pedasnya lado ( cabe kata kiasan mulut tajam). Berhubung di Minang Kabau sistem kekerabatannya Matrilineal maka Aini harus ikut suku ibunya, yaitu Jawa.

Aini menarik Nafas Panjang, sejenak melupakan perih yang disayatkan Piah ke jiwanya yang masih kosong. Duduk di tepian jendela kayu menghadap halaman. Matanya tak lepas dari Rinai dan dua temannya yang sedang bermain tali, mereka tertawa sesukanya, tanpa beban, tanpa tekanan.

Andai saja dulu, dia tidak menuruti keinginan Datuak Sati tinggal di rumah pusako (warisan) sukunya, mungkin saat ini Aini tidak perlu pusing memikirkan ke mana dirinya dan Rinai harus tinggal.

Ah ...
Aini mendesah menatap Rinai, , wajahnya mirip sekali dengan Datuak Sati dan Piah sewaktu kecil. Kulitnya sawo matang, rambut panjang sepunggung. Tingginya pun di atas rata-rata teman seusianya. Aini tidak bisa membayangkan bagaimana kelak nasib Rinai jika memang semua peninggalan Datuak Sati pindah ke tangan Piah, sedang mereka tidak memiliki saudara di kampung ini, kecuali seseorang yang sudah lama tidak bersilaturahmi dengan mereka.

Wajah Aini tiba-tiba muram, terbayang nasib Rinai kelak. Tamparan tirai jendela terembus angin membuat Aini memejamkan mata, sehingga membawa pikirannya pada derit lantai kayu yang di injak Piah tadi pagi.
**
"Seharusnya uni sadar diri, kan Uda Sati sudah meninggal. Jadi tidak ada lagi hak uni dan Rinai atas rumah ini!" mata Pia menyala, mulutnya mencong-mencong penuh amarah.

Aini paham sekali, semenjak Amak Baidar meninggal. Piah merupakan pewaris tunggal Rumah Durian, karena ia anak perempuan satu-satunya yang se perut dengan Datuak Sati.

Aini juga paham, kalau Pusako Tuo (Harta turun temurun) tidak akan pernah dimiliki anak pisang (anak saudara laki-laki) dalam keluarga itu. Tapi bagaimana dengan pencarian mereka berdua? Selama menikah Aini dan Datuak Sati telah memiliki harta benda, walau tidak banyak. Tega sekali Piah merampas hak anak yatim, Rinai anak kakaknya sendiri kata hatinya.

"Biarkan kami tinggal sampai mendoa seratus hari Uda Sati dulu, Pia. Kasihan Rinai." Mohon Aini dengan suara tercekat, karena ia tidak menyangka sama sekali Pia begitu cepat menuntut pengembalian hak. Padahal sepengetahuan Aini tidak begitu, ada tenggang masa sampai cukup bilangan kematian suaminya.

"Tidak bisa, uni! Sabtu besok Mira pulang. Dia yang akan tinggal di sini, dan dia juga yang akan mengolah sawah dan ladang di baruh." ujarnya ketus.
Mira anaknya Pia, usianya lebih kecil dari anak Aini yang meninggal, kakaknya Rinai yang meninggal saat baru lahir.

Waktu Datuak Sati meninggal, Mira tidak bisa pulang. Katanya tidak ada uang untuk ongkos, karena usaha fotocopynya sedang sepi begitu jawabnya ketika dihubungi melalui telepon.

Untuk kepulangannya sekarang, mungkin Pia yang mengirimkan uang untuk ongkos, sehingga Mira bisa pulang kampung bersama keluarganya. Cerita orang-orang kampung, suami Mira sewaktu jaya suka berjudi dan ke klub malam, itulah yang menjadikan usaha mereka gulung tikar.

Tapi Aini tidak mau memikirkan  yang bukan urusannya, toh itu ranah Mira dan suaminya, mau berjudi, mau main perempuan, itu terserah dia. Sekarang yang membuat pikiran Aini gelisah, tentang hak Rinai yang ditinggalkan Abaknya Datuak Sati yang diminta Pia.

"Pia, uni mohon. Tunggulah sampai panen padi. Biar Rinai bisa melanjutkan sekolah, dan sekarang uni juga tidak memiliki uang untuk pulang ke Jawa. Emas yang ada sudah terjual untuk mengobati Uda Sati." pinta Aini lemah.

"Emas itu kan hasil sawah dan ladang kami juga, sudah patut uni jual untuk mengobati Uda Sati. Kalau untuk ongkos uni jangan kawatir, nanti aku kasih, sekalian untuk beli air di jalan." Pedih, sangat pedih kata-kata Pia menyayat hati Aini, wanita itu terkesiap mendengar ucapan Pia yang melampaui batas, tetapi Aini tetap sabar karena tidak ada yang lebih baik bagi seorang manusia selain salat dan sabar.

Aini merasa dunianya berputar, gelap sekali pandangannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, bingung bagaimana cara melunakkan hati adik iparnya yang menjelma bagai ular berkepala tiga, bisanya hampir membunuh pikiran Aini.

Apakah Pia tidak takut dosa memakan harta anak yatim? Atau memang dia lebih peduli dunia dari pada akhirat? Aini menggigit bibir. Ternyata harta dan uang bisa mengalahkan kaji yang sejak kecil dipelajari Pia di surau.

Aini berusaha menenangkan diri dengan istigfar di dalam hati, meski terasa sulit akhirnya Aini menjawab juga kata-kata Pia.
"Kalau itu yang terbaik, saya dan Rinai akan pulang ke Jawa. Tapi izinkan saya mengurus surat pindah sekolah Rinai dulu, mungkin lusa kami berangkat." Aini memicingkan mata, tidak kuat melihat senyum kemenangan di wajah Pia yang pongah.
Mendengar jawaban Aini, Pia melebarkan senyum kemudian terdengar entakkan kaki bersama suara derit kayu yang menghantam jiwa Aini.

**
Langit mulai merah, mentari ikut beralih tempat ke bagian barat. Bayangan pohon kelapa mulai condong ke arah Timur, sementara Rinai dan kedua temannya masih asyik melompati tali dari pinggang ke ketiak, terus kepala dan berakhir satu jengkal jari di atas puncak ubun-ubun.

Aini tersenyum getir, dia bingung bagaimana cara menyampaikan kepada Rinai kalau lusa mereka harus pulang ke Tanah Jawa. Pasti Rinai tidak akan mau, karena sedari kecil dia belum pernah ke Jawa. Akan sulit baginya mencari teman baru walau Rinai anak yang supel, karena bahasa dan adat yang berbeda.

"Rinai ... sudah sore, naik dulu. Mandi dan salat, setelah itu makan. Bukankah nanti kamu harus setor ayat dan ceramah kepada Ayek Malin?" Aini melongokan kepala dari jendela.

Mendengar panggilan sang Ibu, Rinai mendongak ke jendela. Senyumnya terbuka lebar lalu menyahut, "Sebentar, Bu. Sekali lompatan lagi," kakinya mulai menarik langkah untuk melompat, Hap ... Rinai berhasil melampaui tali yang di rentang antara kepala Nada dan Bunga.

Mereka bertiga satu kelas dan saat ini sama-sama berada di kelas empat, di SD Negeri 6 Kumanis. Dari jendela Aini memperhatikan tingkah ketiganya, mereka seperti sedang musyawarah. Entah apa yang mereka bicarakan, melihat hal itu Aini jadi geleng-geleng kepala. Biasanya kalau mereka seperti itu, akan ada laporan dari Ayek Malin guru mengaji mereka.

Setelah saling tos, Rinai dan kedua temannya bubar. Rinai dengan mata berbinar, menaiki jenjang kayu rumah tempat dia lahir dan tumbuh sampai sebesar ini. Tangannya sibuk menggulung tali yang terbuat dari jalinan karet gelang, kemudian dia letakan di bandul pintu depan.

Rumah  panggung berdinding papan yang dihuni Aini, memiliki dua kamar. Rumah ini tidak terlalu besar, tetapi menyimpan banyak kenangan antara Aini dan Datuak Sati. di tiap sudut ruangan ada kisah tersendiri. Seperti Jendela belakang rumah yang menghadap ke sawah, Aini sering bergelayut manja di bahu Datuak Sati melihat pipit terbang berbondong ketika senja merebut petang.

Sementara jendela bagian kanan yang hanya berjarak satu meter dengan Rumah Gadang yang di tinggali Pia, sengaja ditutup rapat. Kata Datuak Sati, biar Pia tidak mengganggu Rinai dengan suaranya yang melengking. Semua kenangan itu akan ditinggalkan Aini lusa bersama jasad Datuak Sati yang di kubur di pinggang bukit Lerieng.

"Ibu, sudah salat asar?" Mata bulatnya membesar menatap Aini yang masih berdiri. Aini mengangguk dan memberikan handuk ke tangan Rinai.

Rinai lansung ke kamar mandi setelah handuk berpindah keuangannya, sementara Aini sibuk memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Rinai kalau mereka harus pindah ke Jawa lusa, kerumah eyangnya.

**
Pukul enam sore setelah berbenah diri, memakai baju kurung dan selendang putih. Rinai mengulurkan tangan mencium tangan Aini, tangan sebelah kiri mendekap alquran ke dadanya.
"Rinai ke surau dulu, Bu."  
"Hati-hati, jangan banyak tingkah. Ibu tidak mau mendengar ada laporan tidak baik dari Ayek Malin," ujar Aini, gadis kecil itu mengangguk kemudian berlalu. Tak lama terdengar nyanyian kecilnya di halaman depan yang ditumbuhi rumput permadani, langkahnya terlihat sangat ringan.

Aini mengurut dada, saat Rinaj sudah menghilang di ujung jalan. Dia bisa mengemas rasa kehilangan, tapi bagaimana dengan Rinai? Dia tentu sulit meninggalkan teman sepermainannya. Ketiga anak tersebut seperti lem dan prangko serta selembar amplop, tidak pernah berpisah walau di sekolah sekali pun.

Hampir pukul sembilan malam Rinai pulang, menguak pintu sambil mengucap salam. Aini menghapus air mata, takut Rinai mengetahui kalau baru saja dia menangis.
"Sudah pulang? Bagaimana setoran ayatnya?"
"Tenang, Bu. Kami bertiga paling dulu selesai." Senyum Rinai, tak ubah garis bibir Datuak Sati yang selalu mengembang.

Lelaki itu kini telah pergi, meninggalkan kisah yang tidak akan pernah hilang dari benak Aini, lelaki yang banyak mengajarkan arti sabar menjalani hidup. Aini sendiri berjanji tidak akan pernah menggantikan posisi Datuak Sati di hatinya dengan orang lain, biarlah dia sendiri yang akan membesarkan Rinai. Terucap dari bibir wanita itu saat tanah merah berubah jadi gundukan di pemakaman Datuak Sati.

" Ada, apa, Bu?" Rinai ternyata membaca gerak-gerik yang tidak biasa. Aini meraih tangan putrinya yang kini hampir sama tinggi dengan dahinya, mata mereka beradu.
"Duduk." Berdua mereka bersimpuh dilantai beralas tikar pandan. Sesaat tanpa suara, hening, bahkan cecak pun enggan bersuara.
"Sepertinya ada yang penting?" Rinai memang anak cerdas, tau ereng jo gendeang ( Mengerti gesture) ilmu itu selalu di ajari Datuak Sati setiap malam minggu, ketika libur mengaji.
"Lusa, ... kita pulang ke tempat eyang di Jawa. Katanya Eyang rindu." Rinai bergeming, nafasnya terdengar berat melewati hidung.
"Kenapa tidak tunggu aku lomba MTQ dulu, Bu. Dua minggu lagi. Bukankah  aku juga akan ujian semester, bagaimana itu?" Rinai beralasan.
"Nak, ini tidak seperti yang kamu fikirkan." Jawab Aini lembut.

Rinai tahu penyebab ibunya berkata demikian, wajahnya tiba-tiba merah. Giginya beradu menahan emosi yang menggelegak, tiba-tiba saja.
"Pasti, etek Pia!" Rinai langsung berdiri.

 Kemarahannya melewati ubun-ubun, Rinai merasa Pia tak lebih besar dari godok abuih yang tadi dia makan di surau. Tangannya mengepal, lalu menarik langkah menuju pintu. Aini menahan Rinai, jika dibiarkan Rinai bisa saja menghajar Pia. Anak itu dibekali ilmu Silat oleh Abaknya, karena mengaji dan beladiri satu kesatuan yang tidak bisa lepas.
"Jangan, kamu tidak boleh sembarangan melekatkan tangan, walau bagaimana pun. Pia itu adiknya abakmu. Orang yang harus kamu hormati!" tegur Aini pelan.
"Tapi, Bu!"
Aini menggeleng, itu tandanya Rinai harus mematuhi dan harus tetap berada si tempat.

Ilmu bela diri silat yang dimiliki Rinai, diakui Aini sudah lumayan baik. Gadis kecil itu sering latihan sendiri atau dilatih abak serta Ahmad secara bergantian. Tidak hanya di surau, tetapi juga di halaman rumahnya setiap minggu. Selain membantu Ayek Malin mengajar ngaji, Ahmad juga pelatih silat anak-anak.

"Nak, Kemarahan akan mengalahkan pikiran. Jangan memperturutkan hati besar, nanti awak yang marasai (sengsara)." Rinai tidak menjawab, dadanya naik turun menahan letupan emosi yang membakar dadanya. Kepalanya menekuri lantai meresapi kalimat yang disampaikan Aini, kemarahan itu akhirnya padam disiram pituah sang ibu.

Biasanya orang yang mengakui kesalahan, akan merasa ada desakan haru di dada. Begitu juga Rinai, menyadai dia telah membuat ibunya sedih, air mulai menggenangi mata elangnya.
 Rinai tidak ingin terlihat cengeng, susah payah dia tahan air matanya tumpah dengan menoleh langit-langit rumah. Pantang sekali baginya mendengar ejekan, yang merendahkan keberaniannya.
Perasaan yang serba salah membuat Rinai menghindari tatapan Aini, dengan sekali entakkan, tubuh kecilnya melesat ke dalam kamar. Meninggalkan tirai yang bergoyang, bersama helaan nafas Aini.
**
Suara kodok terdengar imbau menghimbau dari sawah yang terletak di belakang rumah Rinai, mungkin karena hujan sederap tadi membuat kodok itu kurang puas dan kembali memanggil hujan dengan nyanyiannya yang khas.

Di kamarnya Rinai juga tidak bisa lelap, sepicing enggan matanya berteman mimpi. Tubuhnya guling kiri, guling kanan padahal waktu sudah berada di tengah  pergantian waktu, diketahui Rinai setelah jam dinding di kamarnya berdentang dua belas kali.

Ucapan Aini mengajaknya pulang ke Jawa membuat hatinya resah, terbayang meninggalkan kedua sahabatnya Bunga dan Nada. Teman bermain dan bacakak ( berkelahi), teman mencari belalang ketika panen tiba, bacakak ketika memanjat batang mangga yang buahnya baru belajar mengkal.

Pikiran Rinai berebut masuk bersama kenangan, bayangan-bayangan itu masuk ke dalam otak. Salah satunya adalah Surau Tuo yang tampak menari di kelopak mata.

Surau panggung yang berlantai papan, sebelah jendela menghadap ke timur. Di bagian mihrabnya ada tirai putih tergantung yang hanya bisa ditempati Ayek Malin dan pak Katik Dubalang, selain mereka tidak ada yang boleh ke sana karena keramat begitu kata yang tuo-tuo.

Di bagian belakang surau ada pancuran berair jernih, sumbernya langsung dari bukit sangkiang. Di sanalah Rinai  mandi sehabis latihan silat dengan Uwan Ahmad.
Satu lagi yang akan membuat Rinai merindu, yaitu suara lecutan rotan di lantai papan surau yang membuat mata kantuk kembali terbelalak. Suara itu hanya bisa didengar saat salah seorang murid tertidur saat mengaji, sehingga Ayek Malin harus memecut lantai dengan sebilah rotan.

Semua itu yang membuat Rinai tidak mau pergi ke Jawa, jiwanya sudah terpaut di lembah Bukit Barisan bernama Kumanis. Rinai harus melakukan sesuatu, dia tidak mau meninggalkan Abaknya terbaring sendiri di kuburnya, tanpa doa yang dia antarkan setiap jum'at. Mata elang Rinai menajam, kincir-kincir di kepala berputar kencang. Selintas senyum mengukir bibirnya yang bak limau seulas.

Rencana itu tersusun rapi di kepalanya, kita lihat esok! Gumamnya dengan mata terpejam.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x