Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Balap Artikel Utama

Teka-Teki MotoGP 2020 Mulai Terkuak, Akankah Marc Marquez Juara Lagi?

21 April 2020   12:48 Diperbarui: 22 April 2020   11:50 657 15 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Teka-Teki MotoGP 2020 Mulai Terkuak, Akankah Marc Marquez Juara Lagi?
Marc Marquez masih terdepan untuk menjadi calon juara dunia musim 2020. | Gambar: AFP/Mohd RASFAN via Kompas.com

Setelah kurang-lebih sebulan berlalu pasca pembatalan seri Qatar untuk kelas utama MotoGP. Akhirnya, ada tanda-tanda bahwa MotoGP akan menentukan nasibnya untuk kompetisi musim 2020.

Meski kompetisi masih ditangguhkan, nyatanya di media massa masih bersliweran kabar seputar MotoGP. Dimulai dari adanya pembaruan kontrak pembalap dengan timnya masing-masing, hingga adanya opsi untuk menggelar balapan tanpa penonton.

Untuk kabar tentang kontrak pembalap, ada kabar yang entah menggembirakan atau tidak bagi penikmat MotoGP, yaitu perpanjangan kontrak Marc Marquez dengan Repsol Honda. Memang, tidak ada kejutan bagi orang-orang yang sudah memperkirakannya.

Namun, bagaimana dengan durasi kontraknya?

Betul, Marc Marquez ternyata diikat oleh Repsol Honda sampai 2024! Tentu ini terlihat mencengangkan, karena belum ada pembalap masa kini yang terikat sampai sejauh itu.

Biasanya para pembalap hanya diperbarui setahun dan maksimal dua tahun. Memang, mereka bisa saja membalap di tim yang sama lebih dari lima tahun. Namun, itu dilakukan dengan cara renewal secara bertahap terhadap kontraknya.

Hal ini yang berbeda dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Repsol dengan Marc. Jika dibandingkan dengan sepak bola, hal ini sebenarnya biasa.

Namun, dinamika kontrak pada pesepak bola lebih tinggi dibandingkan pembalap MotoGP. Karena, jarang ada pembalap yang memutus kontrak maupun pindah ke tim lain dengan sistem transfer seperti pada pesepak bola.

Sistem kontrak antara tim dengan pembalap di MotoGP lebih mematuhi ikatan kerja dibandingkan menggunakan kapasitas agen untuk menetapkan buy-out clause. Meski yang bermain cenderung individual (walau ada teammate), nyatanya perputaran roda ekonomi di MotoGP tidak kalah tinggi dengan sepak bola.

Secara gaji, memang pembalap MotoGP terlihat tidak se-glamour pesepak bola papan atas. Namun, pengeluaran pada tim balap nyatanya sangat tinggi, karena mereka berkutat pula pada teknologi yang kompleks. Inilah yang membuat para pembalap diharapkan tak terlalu membebani pengeluaran tim meski mereka paham dengan bantuan kualitas pembalap.

Lalu, apakah ini akan membuat banyak tim mengikuti jejak Repsol Honda?

Kemungkinannya tidak besar, karena faktor trust and bonded antara tim dan pembalap tidak sama. Belum lagi jika ada faktor challenge bagi para pembalapnya.

Semakin ke sini, setiap tim pabrikan mulai kembali ambisius untuk saling jegal. Hal ini terbantu oleh faktor intelektualitas tim mekanik dan pengembangan teknologi yang membuat mereka yakin dapat saling mengalahkan.

Siapa yang tidak ingin mencoba motor Ducati? Bahkan, meski sang pembalap sangat menyukai motornya sendiri dan timnya sangat bekerja keras untuk mencoba membangun motor dengan kapasitas yang mirip, namun pasti ada rasa untuk mencoba motor Ducati jika peluang itu muncul sangat besar.

Hal ini bisa tergambarkan dengan keberhasilan Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo untuk pindah dari Yamaha ke Ducati, meski mereka sudah besar dan membesarkan tim sebelumnya. Hal ini juga berlaku pada nasib Johann Zarco yang nomaden.

Seandainya sistem kontrak MotoGP seperti sepak bola, mungkin dia bisa sangat uring-uringan karena gagal perform di KTM, namun tak bisa pergi dari KTM. Memangnya ada klub bola yang membeli pemain yang tidak perform dengan tim yang bukan unggulan?

Sudah bukan di tim unggulan, tidak perform pula. Apa yang akan diharapkan?

Namun, dengan sistem kontrak jangka pendek dan keberanian pembalapnya untuk memutuskan ikatan kontrak, hal semacam itu bisa terjadi. Karena semakin pendek ikatan kontrak, pasti nominal ataupun kompensasinya tak terlalu tinggi.

Meski demikian, melalui contoh perpanjangan kontrak jangka panjang seperti yang dilakukan Repsol Honda terhadap Marc Marquez, ini dapat dilakukan pula oleh tim lain. Meski mereka harus memiliki banyak pertimbangan.

Seperti faktor usia pembalap, progres dengan motor yang dimiliki, hingga prestasi yang dicapai pada musim-musim sebelumnya.

Brad Binder harus menunda debutnya di kelas utama MotoGP 2020. | Gambar: HO-media.ktm.com/MARKUS BERGER via ANTARA
Brad Binder harus menunda debutnya di kelas utama MotoGP 2020. | Gambar: HO-media.ktm.com/MARKUS BERGER via ANTARA
Jika melihat faktor usia, pembalap muda seperti Joan Mir, Miguel Oliviera, Brad Binder, Francesco Bagnaia, Fabio Quartararo dan tentunya Alex Marquez bisa dipertimbangkan untuk diikat secara jangka panjang.

Sedangkan untuk progres, Maverick Vinales dan Alex Rins perlu dikedepankan, termasuk pertimbangan pencapaian di musim sebelumnya.

Namun, apakah pembalap menginginkannya? Sebenarnya salah satu kuncinya ada di sana.

Jika pembalap trust terhadap motor yang dimiliki, dia akan menyetujui opsi tersebut. Seperti Cal Crutchlow yang sangat ingin menjadi pembalap di tim utama Honda, karena dirinya menyukai motor Honda.

Namun, faktor trust, apalagi bonded, sangat bergantung pada apa yang sudah diberikan oleh pembalap dan bagaimana progresnya. Menariknya, untuk sejauh ini hanya Marc Marquez yang mampu melakukannya.

Andrea Dovisiozo memang mendekati, namun masih PHP. Untuk ukuran tim yang sudah ambisius, jelas juara dunia harus segera diberikan oleh pembalap. Apalagi sudah bertahun-tahun di motor yang sama. Mengapa tidak bisa?

Ada yang jawabannya karena Marc Marquez. Entah suka atau tidak, memang itulah yang akhirnya membuat Repsol Honda juga percaya dan merasa terikat dengan pemilik nomor 93 itu.

Itulah mengapa, pertanyaan tentang apakah Marc akan kembali juara lagi terus menggema. Karena, Marc masih akan membalap bersama Honda, dan sampai 2024!

Teka-teki ini tentu harus dimulai dari musim 2020. Seandainya seri Losail Qatar tetap tergelar penuh--kemarin hanya Moto2 dan Moto3, tentu teka-teki ini sedikit terkuak. Mengapa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN