Mohon tunggu...
Daniel Suharta
Daniel Suharta Mohon Tunggu... karyawan swasta -

www.daniest.com email : datasolusindo@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Jamaluddin Latif, Pria yang Membawa Perubahan Lewat Rancangan Sepeda

4 Januari 2017   06:21 Diperbarui: 4 Januari 2017   14:11 944
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pertunjukan tersebut diantaranya adalah “Trotoar” yang ketika saya menyaksikannya secara langsung saya jadi merinding karena melihat gerakan pemain yang begitu ekspresif saat menghayati perannya dimana mereka begitu terlihat hiruk pikuk berlalu lalang di jalanan, dan seakan saya tersedot dan berada didalamnya, bak mengalami sendiri.

TROTOAR, membicarakan kondisi trotoar jogja pada khususnya juga kondisi tata kelola kota jogja. Pertunjukan tersebut diniatkan sebagai kritik buat publik juga pemangku kebijakan (pemerintah) pada khususnya. 

Karena membicarakan soal kota jogja, soal trotoar tidak luput dari masalah yang sangat kompleks yaitu terkait kebijakan publik atas transportasi dan kenyamanan pejalan kaki atau difabel mengakses kota. Ketika sebuah kota bisa menata trotoarnya otomatis aksesibelitas bagi moda lainnya tentunya tertata dengan baik. Jalur sepeda, motor, mobil, bus dll mestinya juga bisa ditata dengan baik. 

Lewat pertunjukan TROTOAR ini mas Jamal juga menunjuk kan bahwa kondisi trotoar jogja tidak layak dan tidak aksesible bagi pejalan kaki dan difabel. 

Lewat Trotoar mas Jamal juga ingin menunjukkan pada publik bahwa jogja sebagai kota sepeda sekarang hanya tinggal slogan saja. Pemerintah tidak mampu membaca kondisi betapa serangan modernisme berupa kendaraan-kendaraan bermesin itu telah memakan habis ruang ruang bagi warganya untuk bersepeda atau bertransportasi sehari hari dengan sepeda. 

Padahal Jogja adalah kota yang sangat tepat untuk mengedepankan sepeda sebagai moda mutakhir dan solutif atas hantaman modernisme ini. Kebutuhan percepatan yang diharapkan modernisme justru menimbulkan hal yang sebaliknya, yaitu memunculkan kepadatan, kemacetan dan berdampak pada kemarahan di setiap warga kota. Itu kenapa dalam pertunjukan TROTOAR sepeda dihadirkan sebagai pengingat, sebagai tawaran ulang untuk kembali bersepeda.

Pertunjukan ini juga melibatkan teman teman sepeda yang dalam pertunjukan tersebut sebagai ruang ekpresi pesepeda menyampaikan haknya kepada publik dan pemerintah tentunya.

Kembalilah bersepeda.

Melihat dunia lain

Berhubungan dengan aktifitasnya sebagai seniman dampaknya adalah mas Jamal sering bepergian keluarga negeri yang bagi kebanyakan orang adalah sebuah kebanggaan, namun sepertinya hal tersebut adalah hal yang biasa bagi mas Jamal.

Menurut mas Jamal luar negeri hanyalah sekedar jarak, jadi apanya yang mau dihebohkan Menurut mas Jamal kesempatan pergi keluar negeri  ya cukup disyukuri saja masih bisa diberi kesempatan jalan jalan keluar negeri. Toh ngapaian dihebohkan karena kepergiannya semua juga cuma karena dibayarin sponsor katanya sambil terkekeh kekeh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun