Mohon tunggu...
Hendrikus Dasrimin
Hendrikus Dasrimin Mohon Tunggu... Mahasiswa - Scribo ergo sum (aku menulis maka aku ada)

Kunjungi pula artikel saya di: (1) Kumpulan artikel ilmiah Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?user=aEd4_5kAAAAJ&hl=id (2) ResearchGate: https://www.researchgate.net/profile/Henderikus-Dasrimin (3)Blog Pendidikan: https://pedagogi-andragogi-pendidikan.blogspot.com/ (4) The Columnist: https://thecolumnist.id/penulis/dasrimin

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Menggugat Tanggung Jawab Manusia atas Kerusakan Alam

22 April 2022   10:50 Diperbarui: 3 September 2022   07:25 1522
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi bumi dan tangan-tangan manusia. (Foto: Kompas.com)

Manusia mulai melihat sesama yang lain dan alam sekitarnya sebagai ancaman. Dengan demikian mereka harus dihancurkan karena mengganggu keberadaannya. Ketidakpuasan manusia dalam memenuhi kebutuhan memaksa manusia untuk bertindak sewenang-wenang terhadap alam.  

Manusia menunjukan sikap untuk menduduki dan menguasai lingkungan hidupnya. Manusia menggarap bahkan memperkosa alam semesta tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan keadaan lingkungan sekitarnya. [ii] 

Terjadi relasi ketidakharmonisan antara  manusia dan alam. Manusia tidak lagi bersahabat dengan alam demikian sebaliknya alam juga menunjukan sikapapnya terhadap manusia.

Selanjut zaman modern ini muncul berbagai kelompok yang menamakan diri sebagai pencinta lingkungan. Kelompok ini muncul atas keprihatinan mereka atas gejalah-gejalah alam yang semakin hari semakin tidak bersahabat dengan manusia. 

Keprihatian dan kecemasan dari kelompok ini sebenarnya mewakili sekian juta manusia yan menghuini jagat ini. Mereka hadir dikala sesama yang lain tenggelam dalam keserakahan, mereka menyadarkan kita bahwa sekarang kita sedang terancam. 

Oleh karena itu salah satu cita-cita mereka adalah supaya kita kembali bersahabat dengan alam. Bukan lagi saatnya bagi manusia untuk mengklaim bahwa merekalah penguasa atau pemilik tunggal alam semesta. Ini berarti diperlukan transformasi diri manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik di kawasan dalam maupun lingkungan luar.[iii] transformasi harus dimulai dari dalam diri manusia. Ini diandaikan ada kemauan dari pihak manusia karena tanpa kemauan yang kuat cita-cita untuk bersatu dengan alam tidak akan terwujud.

Mengugat kesadaran moral manusia sebagai makluk pembangun

Ilustrasi bumi dan tangan-tangan manusia. (Foto: Kompas.com)
Ilustrasi bumi dan tangan-tangan manusia. (Foto: Kompas.com)

Manusia merupakan makluk pembangun. Sebagai makluk yang membangun manusia mempunyai kemampuan untuk membuat sesuatu yang dahulu tidak ada dan sebaliknya menghilangkan yang dahulu ada.

Kerana itu dapat dipahami bahwa situasi dan cara hidup manusia berbeda dari masa ke masa. Dengan demikian pemaknaan hidup manusiapun berbeda. Situasi hidup serta pemaknaan hidup nenek moyang kita pada abad yang silam berbeda dengan dengan situasi hidup kita sekarang. Selain itu kesadaran moral manusia pun berubah dari masa yang satu dengan masa yang lain.

Di zaman sekarang ini manusia tiada hentinya menyerukan kebebasan.  Walaupun demikian setiap orang harus sadar akan  keterbatasan peran dan tugasnya dalam mengungkapkan diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun