Puisi

Jejak Biru

13 Juni 2018   19:07 Diperbarui: 13 Juni 2018   20:42 186 0 0

Filantropi
Oleh: Dwi Khafid Aferro


Renjana sutra kibas rasa di daun merah hati bertabur embun-"pagiku".
Angsoka malu, kuncupnya berlinang linang dibelai bayu di peluk syahdu "debarku"
Mentari...oh mentari, kau kilaukan persada bertabur emas "hatiku"
Ahh...serunai merdu iramamu, dan menarilah rumpun bambu seiring sungging senyum alam "jiwaku"
Maka bawalah aku ke Istana Mega Mendung tahta adirasa cinta swargaloka .



Fi

Oleh: Dwi Khafid Aferro


Dan....
Takmenabir barang secuwil,
rasayang terlanjur menyelapi
mendedahkanku sekali lagi
Perihal ini...
Lalu kusebut apa kekisah ini?

sedang tak sekekata pun menyulih gambarannya


Wajah dan Bulan

Oleh: Dwi Khafid Aferro


Bulan malam ini bawakan wajahmu beserta sinarnya.
Melukisnya dilangit tanpa noda seawan semega pun.
Hanya bintang dan harapan ku menghiasi setiap penjuru mata angin pandanganku.
Kutebarkan do'a bersayap sayap cahaya.
Membintang melangit pintaku akanmu pada Nya bagiku.
Satukan belulang iga berserak,utuhkan jua jiwa di badan.
Malam takberujung larut,meski waktu takkenal surut.
Dan ini bahagiaku.
Nur di langit seperti rasaku,indah terang bila di malam.
Nikmat garam bersanding asam.
Dan beri hijau tua kini memerah..akupun
Subuh ajakku kembali memasang saya sayap do'a, dan kuterbangkan menembus langit menuju Ars.memintamu untuk ku,memintaku untukmu.
Ini pagi...
Tapi bulan masih disini bersanding wajahmu mengguyurkan sinarnya basuh kalbuku.
 
Tuban, 28-08-2016




Bercak juga Warna
Oleh: Dwi Khafid Aferro


kupintal serabut sutra, hingga bersatu membentuk benang

dan itu adalah hati ku
 Berusaha seputih mungkin

tapi ku tahu bila noda juga warna, selayaknya putih juga hitam.
Lalu apa makna dari semua liku?
Aku hanya meminta rasa


 Tuban, 16-05-16


Tanyaku pada Tuhan

Oleh: Dwi Khafid Aferro

Ikatan di kaki susah dilepas...tangan meraih hendak ditebas, hanya nafas buru harapan...uluran tangan Sang Penguasa Jagat kuharapkan.
Tetes menetes air mata, tapi aku yakin dengan air yang bercerita tentang kesabaran
"Setetes demi setetes gilang cadas terkorek pula", batinku menguat.
Waktu masih bersamaku untuk raih asa bersamamu, "Genggam janjiku!.."
Akan ku ukir disetiap hembusan napasku, hingga takada lagi yang terhembuskan.
Di ujung ufuk senja
tertata  dalam rasa rindu.

 Melilit kita dalam satu kisah hati yang nyata tanpa memperdulikan adanya.
"Ini FAKTA!"
Antara laut dengan masa setelah siang sebelum malam.
Antara rasa dan asa.
Antara(?) dan (!).
Antara(.) dan (,).
Antara biru dan jingga.
Hingga sering kumenaruh tanya pada Tuhan, "Apakah dia sepotong tulang rusuk ku?, atau cuma patahannya?"

apapun itu satukanlah

Tuban, 02 Maret 2016



Bunga Mata
Oleh: Dwi Khafid Aferro


Sepi pandang tanpa bayang
Mana gelap mana terang,tiada beda suram
Ramai  alam warna warni, olok rasa hampa
surya terang menggelap kelam

puan hamba...sayat perih hati kerinduan
menyadas batu, rasa ini harap hadir mu
Tangan terikat kaki terjerat, rontaku hanya harapan doa
Jarak dan waktu tak tertempuh

namun hati takkenal itu


Tuban, 02 Maret 2016



Hadiah
Oleh: Dwi Khafid Aferro

Teronggok membatu, keras membeku...
Tetap kusimpan rapat memadat di suatu tempat.
Peti jati merah tua berlumur kesturi...
Inilah persembahan untukmu. Hingga kau buka disuatu waktu, saat matahari condong kebarat.
"Masih ingat janjiku?...".
Bila taksempat kugandeng tanganmu...maka kunanti disebelah meja Ridwan mengabsen penduduk nirwana.
 

Lamongan, 8 Maret 2016