Mohon tunggu...
Ahmad Danial Akyas
Ahmad Danial Akyas Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Jangan lupa sholat:)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pragmatisme Mahasiswa

23 Mei 2024   06:00 Diperbarui: 23 Mei 2024   06:00 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pragmatisme Mahasiswa

Pragmatisme adalah karakteristik individu yang lebih suka berpikir secara praktis, singkat, dan langsung. Individu yang memiliki sifat pragmatis ini menginginkan pencapaian yang cepat tanpa perlu mempertimbangkan proses yang panjang. Oleh karena itu, terkadang hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan tujuan awal.

Karakteristik ini sering dikaitkan dengan individu yang kurang sabar dan memiliki ambisi tinggi. Mereka cenderung melakukan tindakan atau perubahan dengan cepat dan memiliki dorongan kuat untuk mencapai tujuan mereka tanpa mau kalah. Namun, sifat ambisi ini seringkali dihubungkan dengan perilaku negatif di mana mereka menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan mereka.

Contoh konkret dari pragmatisme mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi adalah ketidakjujuran akademik. Ini merupakan masalah klasik yang sering terjadi dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, dalam menghadapi ujian, banyak mahasiswa yang menggunakan cara curang seperti menyusun catatan kecil atau mencatat ringkasan pelajaran untuk digunakan selama ujian.

Terlebih lagi, dengan kemajuan teknologi saat ini, mahasiswa dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan melalui internet. Dengan menggunakan smartphone yang dilengkapi dengan teknologi canggih, mereka dapat dengan cepat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka tanpa perlu menghabiskan waktu untuk memikirkannya secara mendalam. Mereka melakukan hal ini dengan tujuan mencapai nilai tertinggi, setidaknya menghindari nilai D.

Kemudahan ini menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk melakukan eksplorasi intelektual dan berpikir secara kritis ketika menghadapi permasalahan. Hal ini mengakibatkan mereka kehilangan kemampuan untuk menganalisis situasi secara mendalam. Meskipun dunia pendidikan menentang fenomena ini, namun sudah menjadi bagian dari pola pikir yang tertanam dalam diri mahasiswa.

Meskipun mahasiswa tersebut memiliki prestasi akademik yang sangat baik, kemungkinan besar mereka pernah terlibat dalam praktik menyontek, seperti yang diungkapkan oleh seorang aktivis ketika mengkampanyekan kampanye Anti Korupsi Dimulai Dari Diri Sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa sifat pragmatis ada dalam diri setiap mahasiswa, terlepas dari tingkat kecerdasan atau prestasi mereka, karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Pengawasan dari dosen penguji dalam ujian tampaknya tidak cukup untuk memperhatikan tindakan mahasiswa yang membuat lipatan-lipatan kertas atau mengkopi sumber-sumber dari buku maupun internet demi mendapatkan nilai maksimal. Praktik ini telah menjadi hal umum di kalangan mahasiswa saat ini dan dapat menghambat kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan mengeksplorasi masalah dengan lebih mendalam.

Tekanan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi merupakan faktor luar yang berperan dalam mengakibatkan mahasiswa melanggar prinsip-prinsip etika akademik. Namun, penggunaan metode kuantitatif dalam menilai hasil belajar masih menjadi topik yang kontroversial. 

Banyak mahasiswa yang hadir di kelas hanya untuk mencapai nilai minimum agar tidak mendapat nilai D. Mereka bahkan cenderung hanya fokus pada penyerahan tugas-tugas tepat waktu tanpa mempertimbangkan kualitasnya. Pandangan ini biasanya diterima tanpa penolakan, dengan keyakinan bahwa dosen tidak mampu memeriksa setiap tugas karena kesibukan mereka.

Meskipun mahasiswa memperoleh nilai agar tidak mengulang di semester berikutnya, ada risiko bahwa proses ilmiah, seperti membaca literatur, mengakses informasi, dan memahami materi kuliah secara menyeluruh, dapat diabaikan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun