Mohon tunggu...
Damri Hasibuan
Damri Hasibuan Mohon Tunggu... Guru - Yang haus akan ilmu itu adalah para penuntut ilmu itu sendiri

Tulislah, maka kamu akan mengabadi!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Setelah Muroja'ah Lupa Lagi, Kenapa Harus Muroja'ah Kembali?

4 Juli 2022   22:18 Diperbarui: 4 Juli 2022   22:56 1546
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona


Istilah muroja'ah dewasa ini tentunya tidak asing lagi bagi kita. Pasti tahu bahwa artinya mengulang-ulangi hafalan secara berterusan. Kata muroja'ah ini diambil dari bahasa. Arab, kalau bahasa Inggrisnya review. Tapi, tidak lazim kata review digunakan untuk hafalan Al-Qur'an. Biasanya digunakan buat pelajaran umum. Kalaupun mau digunakan, sertakan dengan kata hafalan. Seperti review hafalan.

Sebagian siswa pasti ada yang beranggapan kalau hafalan yang di muroja'ah akan lupa, terus buat apa muroja'ah? Mereka beranggapan bahwa muroja'ah itu tidak penting. Muroja'ah itu hanya bikin kepala pusing, menghabiskan waktu, energi saja serta anggapan negatif lainnya. Tapi, apakah asumsi tadi benar? Jawabannya bagi orang yang paham pasti bilang salah total. Kenapa? Justru dengan muroja'ah itulah hafalan seseorang menjadi terjaga. Dengan muroja'ah itu, hafalan menjadi kuat. Bahkan menjadi lebih kuat lagi alias mutqin.

Muroja'ah itu memang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dan harus disertai dengan kesabaran level tinggi. Meskipun kadang membuat kita jengkel, karena sudah merupakan tanggung jawab, mau tidak mau harus memurojaah. Seberapapun sulitnya hafalan itu harus dimurojaah. Baik lagi malas, ataupun rajin. Lagi sehat ataupun sakit. Kerja ataupun libur. Selagi masih berkemungkinan untuk melakukan muroja'ah, muroja'ah itu adalah merupakan hal yang niscaya bagi para penghafal.

Ketika muroja'ahnya sulit, pasti lama dan melelahkan. Tapi, bukan berarti takut lelah, tidak mau berlama-lama, serta merta meninggalkan muroja'ah. Tidak! Ini awal malapetaka. Ketika membiarkan diri malas muroja'ah atau bahkan meninggalkannya, akan timbul dampak negatif yang sangat banyak. Misalnya, akan menyebabkan hafalan tidak lancar. Atau bahkan bisa menjadikan hafalan lupa. Bisa juga mempersulit para penghafal, untuk melancarkan hafalannya.

Dalam keistiqomahan muroja'ah, akan mendatangkan dampak positif yang banyak pula. Selain mempermudah para penghafalnya dalam mengingat, ia juga dapat meningkatkan daya ingat si penghafal. Semakin sering di muroja'ah maka daya ingatnya akan semakin bagus dan bertambah kuat. Kemudian, di akhirat nanti pertanggungjawabannya akan lebih mudah. Karena seseorang yang wafat dalam kesalihan; hafalannya dimurojaah terus-menerus hingga wafat, tentu ketika bertemu dengan Allah akan lebih mudah menjawab pertanyaan-Nya.

Dalam Hadis disebutkan bahwa nanti di akhirat setiap penghafal akan dites Allah hafalannya. Sejauh mana dia bisa jawab, segitulah drajatnya nanti di surga. 

Dari Hadis itu, tentulah orang-orang yang mutqin hafalannya yang surganya paling tinggi. Anda tidak mau jika dimasukkan pada golongan tersebut? Jangan salah, boleh jadi dengan rasa malas muroja'ah yang tidak bisa ditaklukkan para penghafal, dapat mengantarkannya ke jurang api neraka. Kenapa? Karena dia sudah menyia-nyiakan hafalannya. Dia enggan untuk memurojaah hafalannya. Padahal ia masih diberikan kekuatan, kesehatan dan kesempatan. Hanya saja dia tidak mampu menepis rasa malas akut itu.

Sementara bagi mereka yang berjuang dalam muroja'ah agar hafalannya senantiasa terjaga,  kelak akan mendapatkan limpahan pahala yang tidak terhingga. 

Memang, nikmat kasat mata yang dilimpahkan di dunia ini kepada mereka yang muroja'ah, belum sebanding dengan limpahan karunia-Nya nanti di akhirat. Belum ada apa-apanya. Padahal melihat kenikmatan yang dimiliki oleh mereka yang mempertankan hafalannya di dunia ini, sudah terlihat indah, menarik dan selalu mempunyai nilai plus. Apalagi nanti di akhirat. Sungguh tidak terbayangkan.

Bagi yang malas muroja'ah, harus melek mata sama yang rajin muroja'ah. Karena setiap kemudahan itu pasti datang di tangan orang yang berusaha. Selagi ingin berjuang, berkorban dan berusaha keras, pasti dimudahkan untuk muroja'ah. Tapi sebaliknya, jika keinginan tersebut tidak terpatri dalam hati, apapun caranya pasti merasa susah dalam muroja'ah. Pasti menganggap bahwasanya muroja'ah itu hanya sekedar menghabiskan waktu.

Mereka yang selalu muroja'ah juga, sebelum terbiasa, pasti sebelumny merasakan kesusahan yang sama. Hanya saja mereka mampu melawan rasa malas. Mereka berusaha menepis hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan muroja'ah. Kegiatan, kelalaian, kelelahan, canda, tawa, pasti ada pada diri mereka. Tapi, mereka bisa mengendalikan itu semuanya dengan mudah. Kemudahan itu datang atas pertolongan Allah lewat bait-bait doa yang mereka panjatkan di sepanjang malam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun