Mohon tunggu...
Wahyu Tanoto
Wahyu Tanoto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, fasilitator, reviewer, editor

Terlibat Menulis buku panduan pencegahan Intoleransi, Radikalisme, ekstremisme dan Terorisme, Buku Bacaan HKSR Bagi Kader, Menyuarakan Kesunyian.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Asumsi Orangtua terhadap Anak

4 Juni 2022   18:52 Diperbarui: 4 Juni 2022   18:54 348
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Perbincangan isu anak sangat luas ruang lingkupnya. Selain itu juga berkait kelindan dengan segala dimensinya. Anak, dapat dimaknai sebagai sosok yang unik karena memiliki tingkah laku spontan, ekspresif, beragam dan kerap menampilkan hal-hal yang tidak terduga. Hal ini terkadang melahirkan asumsi bagi saya, selaku orang tua.

Contohnya, ketika anak sedang meminum air lalu ada yang tumpah di lantai. Biasanya anak akan berkata "tumpah bapak/ibu", atau "airnya tumpah!" Namun, ada juga anak yang hanya diam ditempat sambil menyaksikan air yang tumpah tadi. Artinya setiap anak bisa berbeda ungkapan emosinya.

Setelah saya mengamati ternyata bagi anak saya, Zeea, cenderung ingin mengetahui terlebih dahulu terhadap suatu kejadian barulah mengomunikasikan hal tersebut kepada orangtuanya. Hal ini tampak jelas dari ekspresinya yang tiba-tiba melirik air yang tumpah, diam sejenak, baru mengatakan perasaannya. Adegan selanjutnya mengambil kain lap untuk membersihkan air yang tumpah tersebut.

Bagi saya, tindakan anak yang berkata "tumpah" lalu secara ekspresif mengomunikasikan kepada orangtuanya boleh jadi terasa biasa saja atau bahkan sepele. Namun lain cerita bagi anak. Mengapa anak memiliki pikiran perlu bilang kepada orangtuanya ketika melihat air tumpah?

Terus terang saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti, karena saya hanya bisa menduga saja apa yang dilihat dan didengar. Dalam contoh di atas, saya hanya melihat ada air minum tumpah dan mendengar anak mengatakan tumpah. Lebih dari itu saya hanya berasumsi. Mungkin karena ini, mungkin karena itu. Kalimat "mungkin" menjadi kata andalan.

Dalam hal asumsi, biasanya orang tua yang akan dianggap benar karena menyaksikan suatu kejadian dan mendengar apa yang telah diucapkan oleh anak setelah kejadian. Dalam contoh air minum yang tumpah tadi, biasanya orang tua akan bertanya "air ini siapa yang menumpahkan "atau" nah kan, airnya malah ditumpahkan".

Dua pernyataan tersebut di atas, awalnya tampak wajar saja. Namun bagaimana dengan anak, pernahkah kita mencoba memikirkannya? Apakah akan ada dampaknya dan mengapa kita mengucapkan kalimat tersebut?

Dalam konteks ini, menurut penulis kata "menumpahkan" atau "ditumpahkan" merupakan sekedar asumsi saja. Apakah anak secara sengaja memang menumpahkan air tersebut atau dalam kondisi yang sengaja sedang ditumpahkan? Tidak mudah menjawabnya.

Sebagai orang tua yang memiliki anak, telah banyak kejadian yang kita lihat, kita dengar. Namun, jika kita kaitkan dengan asumsi maka ada hal-hal tertentu yang terkadang pikiran kita belum mampu menjangkaunya.

Tumpahnya air minum hanyalah contoh. Karena akan ada kejadian lainnya, yakni setiap jam, hari, minggu, bulan, tahun dan bahkan  sepanjang usia anak. Oleh karenanya, kita layak memikirkan kembali dari contoh air tumpah di atas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun