Mohon tunggu...
Christina Budi Probowati
Christina Budi Probowati Mohon Tunggu... Wiraswasta - Seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi menulis di waktu senggang.

Hidup adalah kesempurnaan rasa syukur pada hari ini, karena esok akan menjadi hari ini....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Api Kanjuruhan

22 Oktober 2022   22:24 Diperbarui: 22 Oktober 2022   22:43 460
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fotografer: Keristinayu

Daun-daun pohon Bodhi kembali terdiam
Usai desiran angin menerpanya dengan bersahaja
Ia pun terpaku di hadapan langit jingga
Karena angin tak hanya membawa kabar tentang tragedi Kanjuruhan yang mencengangkan
Tetapi ia juga merobek keheningan yang baru saja tercipta
Di antara dinginnya kabut senja yang turun dari langit Sakya
Yang melintasi sebuah rumah tua dari kayu jati berpagar batu bata merah
Yang selalu setia mendengar keluh dan juga kesah tanpa diminta

Peristiwa besar memang baru saja terjadi di Malang Raya
Hari itu langit menggelap seolah diliputi awan hitam pekat yang mencekam
Air mata tumpah bagai hujan deras mengguyur bumi di ujung malam
Jerit kesedihan yang memilukan tak lagi dapat dibungkam
Duka nestapa tak lagi dapat terelakkan
Banyak batin yang akan menangis lebih dari ribuan malam
Luka itu telah menganga begitu lebar
Akankah waktu dapat memulihkannya kelak?

Malam itu langit benar-benar terasa kelam dalam kepedihan
Semua bintang seolah berhenti bersinar di langit Malangkucecwara
Namun tidak dengan Canopus, sang bintang Kanjuruhan
Ia tetap setia mengantarkan semua arwah menuju cahaya
Dan tak ada yang bisa memadamkan api Putikeswara
Yang bersinar memberikan perlindungannya
Maka, hukum alam akan terus berjalan
Mala Angkuca Icwara

Banyak yang telah kehilangan
Senyum, kepercayaan, dan juga ketenangan jiwa
Apakah Kanjuruhan memang telah kehilangan keamanan dan keadilannya?
Jika benar, apakah fondasi warisan leluhur telah bergeser dari tempatnya?
Dan berpijak pada fondasi di atas fondasi yang bukan lagi jati diri dari Kanjuruhan?
Kanjuruhan yang aman, makmur, damai dan sejahtera
Dengan aktivitas spiritual seluruh lapisan masyarakatnya yang berkembang dengan pesat
Di dalam keindahan dan keikhlasannya

Lihatlah seluruh raja-raja Kanjuruhan pada masanya
Semuanya murah hati, adil, dan bijaksana
Rakyat merasa aman, makmur sandang dan juga pangan
Sistem pemerintahan dan hukum berjalan dengan baik hingga tak ada kejahatan merajalela
Dapatkah warisan budaya yang luhur itu kembali ke permukaan seperti sedia kala?
Sebagai fondasi di dalam menjalankan kehidupan dan menjadikan Malang lebih indah dari sebelumnya?
Di bawah langit jingga senja itu, daun-daun pohon Bodhi pun akhirnya mampu menangkap setiap kata
Yang dibawa angin untuknya, dengan ketenangan yang sungguh sempurna

Perihnya luka terasa sampai di lereng Sakya
Alunan gending Ladrang Ketawang Ibu Pertiwi turut mengalun merdu menyayat hati
Daun-daun pohon Bodhi pun kemudian mengheningkan cipta
Bermeditasi dan jatuh pada perenungan yang sangat mendalam
Akankah revolusi dalam keheningan menjadi jawabannya?
Mungkin memang tak ada lagi waktu untuk saling menilai, saling menghakimi, dan juga meratap
Perubahan yang sangat cepat sepatutnya memang segera dilakukan
Sang waktu tak lagi dapat menunggu sampai bunga bermekaran

Doa-doa pun dipanjatkan...
Jiwa-jiwa spiritual serentak bangkit dalam keikhlasan yang sungguh sempurna
Membangunkan kesadaran murni yang sempat terbuai oleh angin malam
Mengirimkan vibrasinya untuk sesama hidup tanpa sekat
Di bawah benderang sinar api Putikeswara, perdamaian akhirnya dapat tercipta sempurna
Empati dan solidaritas pun bagai air terjun mengalir deras di bumi Malangkucecwara

Segala perbedaan akhirnya menjadi kekuatan maha dahsyat
Untuk menggeser batu hitam besar yang elok berkilauan
Kembali pada fondasi yang semestinya ada pada tanah Kanjuruhan
Yakni keikhlasan dalam menjalankan kehidupan
Solidaritas, rukun, gotong-royong, saling menghormati, serta sopan santun dalam keikhlasan
Tak ada lagi pertikaian dan dendam
Angkara lenyap dan kebenaran kembali ditegakkan

Luka itu memang akan tetap membekas, tetapi kepedihan tidaklah akan menetap selamanya
Senyum, kepercayaan, dan ketenangan jiwa adalah berkat dariNYA
Bersama sang waktu, biarlah semua berjalan apa adanya
Membawa luka itu kelak lebur di dalam keikhlasan
Dan daun-daun pohon Bodhi di halaman rumah tua itu akan turut berdoa di dalam keheningan
Seraya kembali menyaksikan manusia melintasi panggung sejarah kehidupannya
Menjadi lebih baik dan semakin baik dalam menjalankan perannya
Setelah mendapatkan hikmat dari setiap peristiwa yang dialaminya

Di bawah pohon Bodhi yang menjulang tinggi, 22-10-2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun