Mohon tunggu...
Christopher lesmana
Christopher lesmana Mohon Tunggu... Blogger

Christopherlesmana97@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bosporus Dreams (Bab IV: Hujan Salju di Awal Desember)

7 September 2020   18:00 Diperbarui: 4 Oktober 2020   13:32 13 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bosporus Dreams (Bab IV: Hujan Salju di Awal Desember)
ferries-on-the-bosphorus-river-istanbul-699x422-5f62bd8b097f3669ec2d03c3.jpg

                                          Istanbul

                         Sumber : dailysabah.com

   1 Desember 1965, tak terasa sudah memasuki bulan desember, sebuah bulan dimana konon semua orang merasakan “kedamaian” yang sesungguhnya. Bagi saya sendiri, desember tahun ini terasa berbeda sekali untuk saya. Jika biasanya saya menikmati bulan desember di kota New York yang penuh dengan kehidupan sosialita yang glamour terutama dengan suasana kota New York di malam hari yang konon merupakan kiblat untuk kehidupan malam yang sesungguhnya, namun kali ini saya merasakan suatu suasana yang cukup tradisional dan cenderung tenang di kota Istanbul, jika biasanya saya selalu mendengarkan lantunan lagu jazz dan blues yang selalu menjadi penghias kota New York, kali ini saya hanya cukup mendengarkan musik tradisional khas Timur Tengah yang dimainkan di setiap sudut kota dan cukup menarik untuk saya. Hanya saja, ada persamaan antara New York dengan Istanbul di bulan desember ini, yaitu turunya salju yang memenuhi jalanan kota Istanbul, bagi saya salju sudah cukup bagi saya untuk menjadi obat penenang bagi saya untuk melampiaskan rindu terhadap suasana kota kelahiran saya yang berada di belahan bumi sana. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, terkadang sesuatu yang sederhana dan ada di depan kita bisa membangkitkan rasa nostalgia tersendiri di dalam hati dan pikiran kita. Ketika melihat dan merasakan turunya hujan salju, seketika saya menjadi teringat tentang bagaimana saya menghabiskan dan menikmati waktu serta momen di bulan desember bersama keluarga dan teman-teman saya yang lainya ketika berada di New York beberapa tahun sebelumnya, saya masih ingat ketika kami semua mabuk-mabukan di sebuah bar untuk meerayakan kelulusan sekolah menengah tinggi kami, sebuah momen yang cukup membekas di ingatan saya dan ingin sekali saya ulangi mengingat itu adalah momen terakhir kebersamaan kami sebagai anak sekolah sebelum masuk ke jenjang perguruan tinggi. Kebersamaan itu pula juga menjadi kebersamaan yang terakhir karena banyak dari kami semua yang berpencar ke perguruan tinggi yang berada di luar kota bahkan salah satu sahabat saya yang bernama Douglas berhasil mendapatkan impianya untuk meraih ilmu di Paris dengan mengambil jurusan Arsitektur. Menurutnya, Paris adalah lambang dari sebuah makna arsitektur yang sesungguhnya karena disana dapat dijumpai banyak sekali keajaiban yang dihasilkan dari semua bentuk arsitektur dalam wujud setiap bangunan yang berdiri disana. Sebagai seorang sahabat, tentu saja saya sangat bangga dengan langkah yang sekarang ini dia ambil, begitu juga kepada sahabat-sahabat saya lainya yang juga sedang berjuang mewujudkan impian mereka. Jika urusan pertemanan tidak pernah saya mengalami hambatan, maka itu sangat kontras sekali dengan kisah asmara saya. Selama beberapa tahun lamanya, saya sama sekali tidak pernah sekalipun merasakan suatu hubungan percintaan yang serius dengan seorang gadis manapun yang berada di kota New York. Padahal, pernah ada suatu pepatah yang mengatakan bahwa “ Kalian mudah sekali  memetik bunga mawar di New York.”. Yap, pepatah tersebut memang tidak salah, selama kalian bisa berpenampilan layaknya seorang punggawa metropolitan, maka sangat mudah sekali bagi kalian untuk mendapatkan wanita di sana. Namun, saya tidak tertarik untuk melakukan itu, karena itu sama saja menjadikan wanita sebagai ajang main-main semata dan saya ingin benar-benar menjalin suatu hubungan yang benar-benar serius terutama yang satu visi, misi, dan tujuan untuk kedepanya.  

Sekarang jam menunjukan Pk.15.00 waktu Turki dan bertepatan dengan bubarnya kelas kuliah yang saya ikuti. Sebelum keluar dari ruang kelas, saya melihat di pojok kanan kelas, ada seorang mahasiswi Turki yang selalu duduk disana setiap ada kelas pelajaran ini. Jujur, selama ini saya dan teman-teman saya yang lainya tidak pernah berinteraksi denganya dikarenakan dia tampak seperti seorang pendiam dan selalu keluar kelas belakangan ketika kelas sudah mulai kosong. Jika dilihat, sepertinya dia adalah mahasiswi yang cukup rajin belajar dan menguasai materi pelajaran yang baru saja kami ikuti karena dia tampak selalu aktif mencatat buku catatatanya dan membacanya kembali ketika kelas sudah usai. Lain dengan kami yang kadang terkantuk-kantuk ketika mendengarkan teori mata kuliah dari dosen yang memberikan ajaran di depan kelas kami. Ketika kelas sudah mulai kosong, saya pun memberanikan diri untuk menghampiri mejanya dimana dia masih duduk disana namun sedang bersiap untuk merapikan buku-bukunya. Kemudian saya pun memperkenalkan diri saya dalam bahasa Turki : “ Halo, perkenalkan nama saya adalah Martin McKay, biasa dipanggiil oleh teman-teman saya dengan sebutan Mike. Bisakah saya tahu siapa nama nona ?”. Lalu kemudian dia pun tersenyum dan menjawab dengan Bahasa Inggris : “ Halo, senang sekali berkenalan dengan mahasiswa asing seperti anda, nama saya adalah Rabia Fatima Mitroglou, panggil saja saya Rabia.” katanya sambil tersenyum. Kemudian saya pun bertanya kembali : “ Apakah tidak masalah jika saya berkomunikasi dengan Bahasa Inggris ?”. “Tentu saja ! justru ini menjadi salah satu cara bagi saya untuk mengembangkan kepribadian saya.” tuturnya. Melihat dari cara Rabia berkomunikasi dan memperkenalkan dirinya, saya menjadi agak terkejut karena selama ini saya mengira bahwa dia adalah seorang gadis pemalu dan pendiam yang hanya berfokus kepada urusan akademisinya. Secara penampilan fisik, dia memiliki rambut panjang bewarna kekuningan dengan tampilan wajah dan kulit yang cukup putih,  mungkin dapat dikatakan Rabia ini memiliki wajah yang sedikit berbeda dengan karakteristik wajah perempuan Turki pada umumnya yang mayoritas berambut hitam dan berkulit agak gelap. Kemudian Rabia berkata : “ Oh iya, berhubung kelas sudah mulai kosong, bagaimana jika kita bergegas dan berbincang-bincang sembari keluar.”, “Oh iya tentu saja .” pintaku. Sembari berjalan menelusuri koridor kampus, dia kemudian bertanya : “ Jadi sudah berapa lamakah anda berada di kota ini dan dari manakah anda berasal ?” Kemudian saya menjawab : “ Ini adalah bulan ke-4 saya berada di kota ini dan saya berasal dari New York.” Mendengar jawaban saya, Rabia tampak sedikit terkejut : “New York ? wah, luar biasa sekali saya bisa berkomunikasi dengan seseorang yang berasal dari salah satu kota termaju di dunia.” “Ah biasa saja hahahah, saya bukan seseorang yang punya kriteria penuh sebagai seorang New York kok. “ kata saya sembari tertawa. “ Tentu saja itu adalah sebuah nilai tambah tersendiri untuk anda karena tidak semua orang bisa beruntung walau hanya untuk sekedar lahir disana dan anda salah satu orang yang beruntung tersebut.” katanya sembari tersenyum. Ketika kita tiba di halaman depan, ternyata hujan salju turun dengan cukup deras dan sialnya juga saya cukup lapar tetapi saya sudah sangat bosan dengan makanan kantin kampus ini. Kemudian saya pun mengajak Rabia untuk makan : “ Hay Rabia, jika anda tidak keberatan maukah anda ikut denganku untuk makan di kedai Baba Ozman yang berada di dekat sini ? kebetulan saya belum makan dari siang tadi”. Rabia pun menjawab : “  Boleh saja, karena saya ingin berbincang-bincang dengan anda dan kebetulan juga saya belum pernah makan di kedai itu. Tapi hujan salju sekarang sangat deras sekali dan saya tidak membawa payung.” Kemudia saya pun membuka tas saya dan beruntunglah saya bahwa ternyata saya membawa payung kemudian saya mengeluarkan payung tersebut dan berkata : “ Tenang saja, saya baru ingat bahwa semalam saya memasukan payung ke dalam tas saya, yasudah sebaiknya kita jalan sekarang sebelum hujan salju semakin bertambah deras.” Kemudian saya membuka payung saya dan kami pun berjalan bersama. “ Apakah New York juga seperti ini pada saat bulan Desember ?” tanyanya. “ Persis hanya saja angin disana lebih kencang dan terkadang lebih deras pada saat tertentu” kataku sambil tersenyum. Setelah berjalan sekitar 10 menit lebih, akhirnya kita sampai juga di kedai Baba Ozman, suasana kedai tidak terlalu ramai dan cenderung tenang dengan hanya 3 meja yang diisi oleh pengunjung dan kami sengaja duduk bersebelahan dengan jendela supaya bisa menikmati suasana salju. “ andaingin memesan apa ?” tanyaku. “Berhubung ini pertama kali saya kesini, bisakah anda merekomendasikan padaku menu favorit di kedai ini ?” tanya Rabia. Kemudian aku berkata : “ Biasanya disini saya memesan nasi biryani kambing dan Gozleme, itu adalah menu favorit saya di kedai ini.” “Yasudah kalau begitu saya ikut juga.” jawab Rabia. Kemudian saya memanggil pelayan dan memesan 2 porsi nasi biryani kambing dan Gozleme serta 2 cangkir teh panas. “ Jadi bisakah anda ceritakan padaku mengenai latar belakang anda dan dari manakah anda ?” tanyaku yang sejak tadi belum mengetahui identitas detail dari Rabia.  Kemudian Rabia bercerita : “ Saya lahir di kota Athena, Yunani karena ayah saya adalah orang Yunani dan ibu saya adalah orang Turki asli, namun sejak umur 6 tahun kami sekeluarga pindah ke Istanbul karena kondisi Yunani yang hancur setelah perang, setelah itu kami resmi menjadi bagian dari negara ini hingga saat ini.” Kemudian aku bertanya kepadanya : “ Jadi masa kecil anda dan sekeluarga anda dihabiskan dalam masa-masa perang selama berada di Yunani ?”. Rabia menjawab : “ Iyah, kebetulan ayahku adalah seorang sukarelawan yang bertarung melawan Nazi yang menjajah negaranya. Bahkan dia turut bertempur bersama prajurit dari negaramu untuk mengalahkan prajurit Nazi dan sekutunya, beruntunglah dia masih hidup dan kembali ke rumah tanpa terluka sedikitpun, hanya saja dia mengalami trauma berkepanjangan hingga setahun lamanya hingga pada akhirnya memutuskan untuk pindah ke negara ini yang merupakan tanah kelahiran ibuku.” “Kemudian apa pekerjaan yang ayah anda lakukan setelah pindah ke negara ini ?”. tanyaku, kemudian Rabia menjawab : “ Kalau boleh diceritakan awalnya semua berjalan sulit bagi kami sekeluarga karena ayah saya dapat dikatakan menjadi satu-satunya orang asing di negara ini, terlebih ibu saya hanyalah seorang penjahit. Akan tetapi beruntunglah ayah saya diterima di Kedubes Yunani di Istanbul dan diangkat sebagai kepala keamanan karena latar belakangnya sebagai veteran Perang Dunia II. Hingga saat ini, ayah saya masih setia sebagai pekerjaanya sebagai kepala keamanan karena kepercayaan yang diberikan kepadanya.” Kemudian Rabia melanjutkan : “ Oh iya, ayah saya juga pernah cerita ke saya tentang kebersamaanya dengan prajurit Amerika Serikat ketika bertempur di Yunani. Ayah saya bercerita bahwa dia menerima banyak sekali hadiah rokok dari para prajurit Amerika dan kamus bahasa Inggris yang masih ada hingga sekarang ini.” Mendengar itu, saya pun tersenyum dan tertawa sembari berkata: “Wah, mungkin itu yang membuat bahasa Inggrismu sangat baik seperti sekarang ini.” “Tentu saja” Rabia menimpali sembari melanjutkan : “ Kamus pemberian itu sering sekali saya baca ketika masih bersekolah dulu”. “ Jadi total berapa bahasa yang anda kuasai saat ini ?” tanyaku. “ 4 bahasa” jawabnya “ Turki, Yunani, Inggris, dan Prancis namun untuk Prancis masih sekitar 30 persen.” lanjutnya, “ Kalau begitu bagaimana dengan anda ? saya juga belum tahu banyak latar belakang anda.” tanyanya sembari tersenyum. Aku pun mulai bercerita : “ Saya lahir dari latar belakang orang tua yang bergerak di bidang ekonomi, ayah saya adalah penasehat konsultan pajak sedangkan ibu saya adalah Account Officer, namun saya tidak tertarik dengan bidang ekonomi yang kedua orang tua saya lakukan karena saya lebih tertarik dengan sesuatu yang berbau ilmu pengetahuan akan sejarah dan budaya.” Kemudian Rabia bertanya : “ Lalu apa yang menjadi alasan anda untuk mengambil jurusan ini ?” Kemudian aku menjawab : “Karena saya sangat suka dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan misteri dan masa lalu yang mungkin belum terpecahkan hingga saat ini, karena saya sangat senang sekali untuk membuat suatu kesimpulan dan mencari jawaban dari kesimpulan tersebut.” “Lalu bagaimana denganmu ?”, Rabia menjawab : “ Karena saya suka dengan segala hal yang berbentuk teoritis yang bisa mengajak kita untuk mengenal apa saja yang sebenarnya terjadi di dunia ini, terlebih sejarah bisa menjadi suatu pelajaran untuk memperbaiki apa saja yang terjadi di masa lalu untuk kedepanya supaya tidak terjadi lagi peristiwa tersebut.” Kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang kami pesan dan meletakanya di meja. “Apakah anda sudah mulai bisa beradaptasi dengan makanan negara ini ?” tanyanya. “ Tentu saja, jujur saya sangat menikmati citarasa makanan khas negara ini dan saya bahkan seperti sudah lupa dengan rasa makanan yang disajikan di New York.” Kemudian kita pun menikmati santapan yang ada di meja kami sembari menikmati turunya hujan salju dari jendela. Setelah selesai makan dan saya pun berinisiatif untuk membayar makanan yang kami makan meskipun Rabia sempat menolak ketika saya hendak membayar makanan yang juga dia makan. “Kalau begitu, saya pulang dulu yah ! terima kasih sekali atas traktiranya, kelak saya akan menggantinya nanti.” tutur Rabia, kemudian saya menjawab : “ Ah tidak apa-apa, anggap saja ini tanda perkenalan. Oh iya anda tinggal di mana dan dengan apa anda pulang ? “.” Tenang saja, aku akan pulang naik taksi, rumahku ada di sebelah utara wilayah ini. Kalau begitu saya pulang dulu yah !.” katanya sembari berjalan menaiki taksi yang mangkal di pinggir jalanan. Setelah pertemuan tadi, saya mungkin baru merasakan suatu komunikasi yang nyaman dengan seorang wanita, sesuatu yang belum pernah saya dapati dan rasakan selama berada di New York. Tapi tidak apa, besok masih ada waktu lagi untuk berbincang-bincang denganya. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x