Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Jejak Panjang Sianida (Tersisa) di Kopi Wayan Mirna

22 Februari 2016   20:33 Diperbarui: 24 Februari 2016   00:18 153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Dr.Budiawan tengah memberikan pandangan, didampingi Veronica Hervy, Mercy Tirayoh dan dipandu Glory Oyong (foto dokumen pribadi)"][/caption]

Pagi masi muda. Hari itu, Sabtu 22 Februari. Kereta Commuter Line jurusan Tanah Abang baru saja merapat di stasiun Palmerah. Dalam langkah setengah memburu, saya memilih tangga berjalan menuju lantai dua. Sekilas menyapu pandangan ke sekeliling stasiun ‘wah’ berwarna dominan putih yang kabarnya menghabiskan biaya renovasi tak kurang dari Rp36 miliar, berbelik ke kanan mengambil jalur jembatan penyebrangan yang berujung di titik kumpul segerombol tukang ojek yang berburu menarik pelanggan.

Tak ambil pusing dengan keramaian lalu lintas membawa arus manusia menuju pusat kota di akhir pekan yang mendung. Abai pada tawaran tukang ojek, langkah kaki segera diayunkan. Melawan arus, menyusuri trotoar yang tak jelas peruntukannya. Di benak hanya satu yang terpikirkan: segera sampai di tujuan dan sejauh dapat tak meleset dari jadwal. Tak jauh memang dari stasiun termegah kedua setelah Gambir untuk menjangkau Galeri Kiri Bawah, Bentara Budaya Jakarta. Waktu itu jarum jam menunjuk tepat pukul 10.00. Alamak!

“Acaranya belum dimulai mas. Silahkan registrasi dulu,”suara wanita di balik meja dengan beberapa tulisan kertas tegak berdiri memberi petunjuk kepada siapa saja yang akan melakukan pendataan diri pada salah satu lembar yang berisi nama, nomor telepon, asal instansi dan terakhir tanda tangan.  

Sejurus kemudian saya mengisi beberapa kolom dengan nama yang sudah tertera di lembaran registrasi untuk peserta dari KOMPASIANA.

Meski jam sudah menunjukkan waktunya mulai, di sana-sini kesibukan persiapan masih saja terjadi. Beberapa peserta santai menikmati snack yang disediakan di luar ruangan yang tak lebih lebar dari ruang kelas SD-ku dulu, tempat saya menimba pendidikan dasar di sebuah daerah sederhana nun di timur Indonesia.

Ada pula yang tengah asyik bercengkerama dengan rekan di samping. Tak sedikit yang memilih menyendiri, entah membaca buku sambil menyenderkan diri di kursi kayu berpelitur coklat, entah mengamati kesibukan para crew yang tengah menyiapkan peralatan, pun ada pula yang sekedar menatap layar datar berukuran sekitar  24 inci yang tegak di depan dengan tulisan khas BERKAS KOMPAS sambil menanti kapan acara yang ditunggu itu mulai.

“Acara ini sebenarnya bertujuan untuk mendekatkan Kompas TV dengan masyarakat..,”suara samar-samar dari mulut seorang wanita berkulit putih dengan syal melingkar di leher yang duduk di deretan belakang.  Aku yang duduk beberapa kursi di depannya sekilas membalik badan. Rasa ingin tahu menyeruak.

Tampka jelas, ekspresi wajah dan gesturnya hendak meyakinkan seorang pria berkaca mata, berbaju coklat bermotif kotak-kotak dan belah ketupat yang menatapnya dengan penuh antusias.

Tak lama berselang saya pun tahu wanita tersebut bernama Riry Silalahi. Ya eks gitaris band SHE yang banting stir ke dapur pemberitaan televisi dan menjadi sosok penting di balik peliputan Kompas TV. Sementara pria berkaca mata tersebut adalah Dr.rer.nat.Budiawan,salah satu narasumber dalam ‘Bincang Sapa”, program talk show yang mengangkat isu-isu terhangat yang dibahas dalam program-program on air Kompas TV.

Edisi perdana ini mengangkat topik yang masih hangat ‘Melacak Jejak Sianida’ di balik kasus kematian Wayan Mirna Salihin (27) yang meregang nyawa usai meneguk es kopi ala Vietnam di  Oliver Cafe, West Mall Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta Pusat pada Rabu 6 Januari 2016 silam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun