Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Sinisme Sepak Bola Indonesia (Apresiasi Sederhana Buku Kompasianer)

16 Februari 2021   18:04 Diperbarui: 16 Februari 2021   18:08 764
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tampak depan buku diambil dengan kamera handphone: dokpri

Alat perjuangan

Ketiga, setelah menyinggung sepintas sang penulis dengan latar belakang kedekatannya dengan sepak bola, tibalah kita pada substansi buku. Apakah Fery berhasil menggarap buku ini? Apakah buku ini berangkat dari historiografi yang kuat dan dikemas secara apik sehingga layak dikonsumsi publik dan pantas mengisi daftar pendek referensi sejarah sepak bola Indonesia?

Saya tentu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara utuh dan lengkap di sini. Kapasitas dan ruang yang terbatas membuat saya harus tahu diri. Namun, beberapa hal yang sekiranya penting untuk digarisbawahi, lebih sebagai pembacaan amatir yang juga bisa dilakukan dengan mudah oleh pembaca lain, sejauh dapat dikemukakan tanpa tedeng aling-aling.

Buku ini dibuka dengan pengetahuan umum tentang sepak bola. Ada penjelasan singkat tentang sepak bola sebagai salah satu cabang olahraga yang nyaris setua keberadaan manusia. Popularitasnya yang begitu mencolok saat ini ternyata hanyalah puncak gunung es dari bangunan tradisi kuno sebelum tahun Masehi.

Bila kini kita mengenal sepak bola dalam rupa yang modern dengan aturan dan organisasi yang tertata rapih, kostum pemain yang elegan, dan fasilitas yang mentereng, pada awal kemunculannya, ia adalah cabang olahraga elite, dengan corak separatis, spekulatif dan sarat keterbatasan. 

Bangsa Yunani dan Tiongkok mula-mula mencoba melakukan semacam tendangan dengan gelembung berisi angin. Orang-orang di kota Lintzu, Tiongkok, memainkan bola yang terbuat dari kulit berisi rambut atau rumput kering.

Orang Tionghoa menyebut permainan itu Tsu Chiu. Dimainkan oleh para tentara sebagai bagian dari latihan militer serentak hiburan di ulang tahun raja. Demikian juga di Jepang, kulit kijang berisi udara dimainkan dengan penuh hikmat oleh kalangan ningrat di momen-momen tertentu.

Selanjutnya di Inggris dengan menggunakan tengkorak bangsa Viking, lalu diganti usus lembu yang digelembungkan dengan angin dan dimainkan secara masal oleh 500 orang per regu dengan jarak gawang mencapai 3-4 km.

Cabang olahraga yang dikenal di Prancis abad ke-14 sebagai "lasoule" dan "calcio" di Italia, mulai masuk Indonesia seiring ekspansi kolonialisme Belanda. Awalnya ia dimainkan secara terbatas oleh kalangan tertentu: mula-mula khusus orang Belanda, lalu orang-orang Tionghoa, menyusul kaum bumiputera namun yang dianggap setara dengan bangsa Belanda.

Buku ini tegas menyebut pada masa itu, sepak bola masih menjadi permainan elitis. Hanya kaum-kaum tertentu yang boleh bermain. Ada jarak dan tembok tinggi di antara Belanda dan orang pribumi. Pemandangan yang jamak pada masa itu di hampir semua bidang kehidupan. Tidak hanya di lapangan sepak bola, tetapi juga ruang-ruang organsisasi, kelas-kelas pendidikan, tempat-tempat umum, hingga tempat tinggal sekalipun.

Kemudian, sepak bola dipakai sebagai alat perjuangan oleh kaum pergerakan. Sifatnya yang mampu mengumpulkan banyak orang dipandang ampuh untuk membangun tali solidaritas dan persatuan sebagai kelompok terjajah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun