Mohon tunggu...
Rul Umanailo
Rul Umanailo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen

Sociology

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Refleksi Tentang Gerakan Bupolo Maghrib Mengaji dan Kebermanfaatannya Bagi Masyarakat di Kabupaten Buru

13 September 2015   20:03 Diperbarui: 13 September 2015   20:08 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

 

Oleh: M. Chairul Basrun Umanailo

chairulbasrun@gmail.com; 085243025000

Dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah Daerah Kabupaten Buru, berusaha kepada seluruh masyarakat serta jajarannya, baik level Kecamatan, desa, maupun komunitas agar melaksanakan program “Maghrib Mengaji” di Kabupaten Buru. Program ini disampaikan melalui sosialisasi serta kegiatan-kegiatan terkait agar masyarakat mengoptimalkan waktu maghrib untuk aktifitas yang lebih bermanfaat.

Seperti diketahui bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang begitu cepat telah merubah cara pandang dan perilaku masyarakat secara drastis. Nilai-nilai sosial yang dulunya dianggap tabu, kini mulai bergeser menjadi biasa, bahkan menjadi fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Fakta ini sebagai pembenar dari apa yang pernah dikatakan seorang antropolog bahwa dengan kemajuan teknologi informasi telah merubah apa yang dikatakan sakral menjadi profan.

Mengkaji lebih jauh realitas masyarakat di kabupaten Buru yang senantiasa berdinamika, maka konsekuensi dari segala perkembangan teknologi semakin menggerus sendi-sendi kehidupan yang semestinya menjadi katup-katup pengaman sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami karakter masyarakat Buru sebagai Karakter masyarakat yang sangat heterogen, konsekuensi sebagai daerah baru, yang memiliki berbagai potensi sumberdaya alam dan karakterisktik masyarakat yang semakin majemuk. Dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, masyarakat di Kabupaten Buru telah berubah menjadi masyarakat konsumtif, masyarakat yang memiliki ketergantungan luar biasa dengan teknologi dan informasi. Hal ini bisa kita buktikan dengan kepemilikan barang-barang yang berkategori tersier, orang mulai mencampuradukan antara kebutuhan yang sebenarnya wajib dipenuhi dengan keperluan yang belum waktunya dipenuhi. Sehingga melahirkan tindakan yang setidaknya mulai jauh dari tradisi serta tuntunan yang telah ada sebelumnya.

Mengoptimalkan waktu maghrib bukanlah hal baru maupun trend popular namun telah ada sebelumnya yaitu dengan mengaji maupun tahlilan atau juga diisi dengan kegiatan ritual-ritual lainnya, namun seiring perkembangan teknologi yang terjadi malah sebaliknya, selepas Maghrib, mulai anak kecil hingga orang tua lebih menyukai duduk di depan TV, memegang remote control sambil bercengkerama hingga larut malam setelah seharian beraktifitas di luar rumah. Akibatnya, tradisi mengaji selepas Maghrib yang telah menjadi pondasi bagi terbangunnya pola pikir dan sikap beragama masyarakat mulai kehilangan spiritnya. Masyarakat nampak mulai tercerabut dari akar-akar sosial dan agamanya menuju sebuah potret kehidupan yang gamang dan rentan terhadap perilaku negatif dan merusak moralitas agama.

Kondisi tersebut jelas harus menjadi keprihatinan semua pemimpin umat agar sikap, cara pandang, dan perilaku masyarakat tidak semakin rusak. Rasulullah pernah mengatakan bahwa kelak jumlah umat Islam akan semakin banyak, namun hanya seperti buih di tengah gelombang lautan. Nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi pegangan dan arah menuju daratan keselamatan hanya ditempatkan pada ruang-ruang kosong dengan tendensi berkarakter modern.

Kehadiran televisi dengan tayangan-tayangan yang menggoda anak-anak dan para remaja telah meninabobokan serta merangsang anak-anak untuk tidak beranjak dari depan TV, khusnya pada jam tayang saat Maghrib tiba. Sungguh sebuah kondisi yang sangat disayangkan. Kondisi Maghrib mengaji saat ini sangat sulit untuk dijumpai, hampir setiap mushola dan masjid tidak lagi melakukan kegiatan tersebut, ini sebenarnya kondisi dan realitas yang kita jumpai.

Sudah saatnya kita semua kembali untuk menghidupkan tradisi baik tersebut menjadi sebuah gerakan bersama. Kami sadar tidaklah mudah upaya tersebut untuk diwujudkan, mengingat kondisi masyarakat saat ini sudah berbeda. Namun demikian, kami percaya dan yakin, bahwa keinginan dan gagasan yang baik dengan besarnya dukungan dari komponen masyarakat yang ingin menyelamatkan tradisi tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun