Mohon tunggu...
Cak Bro Cak Bro
Cak Bro Cak Bro Mohon Tunggu... Administrasi - Bagian dari Butiran debu Di Bumi pertiwi

Menumpahkan barisan Kata yang muncul di Pikiran

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Awal Dibully Kini Dipuji

7 November 2022   23:10 Diperbarui: 7 November 2022   23:16 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

#PuisiSosial

Kalau jaman kini mungkin artinya di bully,
Walau sekedar disindir dengan keadaan diri.
Dia berjualan koran untuk menghidupi sendiri,
Ringankan beban orangtua nan tak mencukupi.

Sekolah itu selalu bergantian waktu setiap pekan,
Seminggu masuk siang atau pagi berselingan.
Jika masuk siang dia berjualan koran dipagi hari,
Dan jika masuk sekolah pagi dia berkeliling hingga sore hari.

Menginjak kelas terakhir rasa malunya mulai timbul,
Ejekan tiap hari membuat ia emosi ingin memukul.
Namun nasehat orang tua selalu sarankan bersabar,
Fokus saja belajar agar impian terbuka dengan lebar.

Sekolah itu mendapat undangan kirim murid terhebat,
Untuk uji kemampuan melalui lomba cerdas cermat.
Seleksi dimulai di tiap kelas siapa terkirim jadi wakilnya,
Masing-masing kelas  begitu riuh menjagokan idolanya.

Tiba lah hari undangan mereka pun ikut menjadi penonton,
Kegelisahan sang guru seakan ternampak dari kejauhan.
Tiga wakil peserta tiap sekolah mulai berdatangan,
Namun kenapa sekolahnya hanya dua peserta yang datang?.

Para guru pun saling berbisik untuk minta kepastian,
Ternyata salah satu peserta sedang sakit dan tak datang.
Para murid pun tahu menjadi riuh bukan kepalang,
Tetiba dia disuruh gurunya sebagai wakil menggantikan.

Dengan kebingungan ia dibimbing guru maju kedepan,
Beliau berbisik ini keputusan dan sebagai kesempatan.
Kedua temannya juga menepuk bahu berikan semangat,
Berjanji untuk saling membantu dan berikan jawaban cepat.

Lomba cerdas cermat memang pertunjukan yang menarik,
Ajang kompetisi sekolah mengasah kepintaran para murid.
Saling bergantian para tim peserta untuk berikan jawaban,
Jika jawaban salah akan di ambil tim lain yang tunjuk tangan.

Nilai terpampang di papan terlihat saling berkejaran,
Keriuhan para penonton saling menyemangati tim jagoan
Nampak si tukang koran selalu unjuk tangan bergantian,
Begitu mudah dia menjawab semua soal yang diajukan.

Para teman-temannya bingung dan keheranan,
Teman yang dibully babat soal laksana jagoan.
Lebih terkaget sekolah mereka juara saat dalam final,
Si tukang koran tersenyum dengan aksi tangan terkepal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun