Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Lainnya - Bukan Guru

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Home Pilihan

Biasa Hidup Minimalis, Bukan karena Tren

11 Juli 2022   19:58 Diperbarui: 11 Juli 2022   20:08 283
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi ruangan minimalis oleh Monoar_CGI_Artist dari pixabay.com

Pernah makan nasi dengan seperempat telur rebus? Dengan kecap? Atau dengan garam? Pakai baju lungsuran? Buku bekas kakak kelas? Kaos kaki pakai karet?

Masih banyak permisalan. Mereka yang sempat hidup di zaman di mana iklan hanya dapat didengar di radio, atau dilihat di surat kabar, dapat menceritakannya lebih lengkap.

Pada tahun 1975 membeli sepeda motor bebek C 70 anyar "hanya" seharga Rp 300 ribu. Kemewahan lain yang menghiasi rumah adalah radio tabung dan mesin jahit Singer. Bayar kontan alias tunai, tanpa ada fasilitas kredit konsumsi, untuk mendapatkan benda-benda itu.

Kulkas, televisi hitam putih, dan stereo set hanya ada di rumah keluarga berada.

Rasanya kebanyakan orang hidup apa adanya. Bukan karena kekurangan, tapi tidak ada gerakan saling merangsang untuk membeli barang kebutuhan secara berlebihan. Umumnya disesuaikan dengan keperluan dan, tentu saja, kekuatan finansial.

Mungkin saja saat itu korupsi demikian terpusat. Hanya ada di sekitar "langit" kekuasaan.

Maka pegawai negeri seperti ayah saya tidak memiliki banyak barang, selain cukup untuk hidup sehari-hari, dan bisa sedikit menabung.

Oleh karena itu, bukan sesuatu yang mencengangkan bila hidup sesuai keadaan --kata generasi sekarang: gaya hidup minimalis.

Bukan karena tren. Bukan ikut-ikutan. Tapi sebab sudah terbiasa.

Cerita berbeda saya peroleh ketika mengantarkan seorang kerabat berkunjung ke pusat perbelanjaan. Banyak barang dibeli, saya tidak yakin ia akan menghabiskan mereka dalam waktu singkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Home Selengkapnya
Lihat Home Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun