Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kerupuk Melempem

11 Juni 2021   17:40 Diperbarui: 11 Juni 2021   18:10 159 37 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kerupuk Melempem
Foto kerupuk adalah dokumen pribadi (dok. Budi Susilo)

Perdu dan rerumputan menunduk lesu. Matahari melotot garang  Menyengat atap seng gelombang. Udara panas menjalar dalam ruang. Kipas angin terikat pada tiang kayu meniup keringat meresap kembali ke tubuh.

Wadah kaleng berwarna biru kubuka. Dari balik kacanya terlihat tiga buah kerupuk menggeletak layu.

"Pak, itu kerupuk lama! Melempem. Liat digigit. Kaleng sebelah baru diisi penuh."

Aku melirik, lalu merogoh wadah nyaris kosong, "tidak mengapa. Aku suka."

"Aneh-aneh saja bapak ini."

Dengan empat potong tempe goreng garing, tiga kerupuk melempem, dan nasi putih dibubuhi kecap manis aku meredam perut keroncongan.

Dua telepon genggam disetel dalam mode senyap total. Aku menikmati hidangan seraya melempar ingatan kepada masa kanak-kanak.

***

Dulu pedalaman ini berbeda dengan lingkungan perumahan tempat tinggalku yang gersang dan ditumbuhi barisan hunian orang-orang gedongan di atas area bekas persawahan.

Lahan pertanian yang menjelma menjadi pemukiman. Petani, peladang, dan penduduk asli tersingkir oleh kekuasaan dalam balutan kekuatan kapital.

Namun berjarak sekitar satu kilometer dari rumah, kawasan asri itu menyajikan kesejukan alami. Pohon-pohon berjajar rapat dibelah oleh sebuah sungai kecil. Airnya yang jernih menyusuri batu-batu, meliuk-liuk menuju laut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x