Mohon tunggu...
Boby Bahar
Boby Bahar Mohon Tunggu... Wiraswasta - Independent Traveler

24 countries and counting more. Dreaming to publish my traveling book. Terimakasih sudah mampir. boby.bahar@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Begini Rasanya Jalan-jalan di Iran dengan Dompet Penuh Uang Cash!

20 Oktober 2017   04:59 Diperbarui: 10 Juli 2018   19:56 12113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peziarah di Shah Cheragh, Masjid Sekaligus Makam Imam. Shiraz

Di form aplikasi kita harus menuliskan nama dan alamat hotel serta nomor telpon hotel yang bisa dihubungi (hotel untuk malam pertama), kalau tidak ada bisa-bisa VOA akan dipersulit bahkan ditolak. Ngeri kan kalau disuruh balik lagi! Untuk biaya VOA beda negara beda tarifnya. Teman saya dikenakan 75 Euro karena berpaspor Eropa, WNI dikenakan 45 Euro, plus bayar premi insurance 14 Euro. Antri di loket VOA bandara Imam Khomeini Tehran sedikit riweuh karena tidak ada petunjuk jelas dan staff yang bertugas juga tidak bisa mengorganisir dengan baik. 

Apalagi kedatangan pesawat dari Eropa dan Asia rata-rata berbarengan pas tengah malam. Antrian masih padat lalu datang lagi rombongan lain. Kita yang udah kelelahan dan mengantuk setelah berjam-jam di pesawat, harus lagi ekstra sabar melalui semua prosesi di kounter VOA. Saya sarankan buat yang punya waktu dan kesempatan sebaiknya apply visa in advance di kedutaan Iran.

Biar gak mati gaya selama disana kita bisa membeli SIM card. Berbeda dengan Indonesia dimana begitu mudah mendapatkan kartu prabayar, di Iran kartu SIM hanya dijual di gerai resmi milik perusahaan operator. Waktu itu teman Iran saya mengantar saya ke gerai Irancell dan membeli kartu perdana, katanya sudah 4G dan free unlimited data dan nelpon. 

Namun internetnya tidak sekencang mobile internet disini. Untuk koneksi WiFi saya gak bisa bilang bagus, beberapa tempat ada free WiFi namun kecepatan koneksi mengecewakan. Di IKIA saja lemotnya bikin naik darah, belum lagi tiap sebentar harus relogin. Jadi better beli SIM card biar selalu update dimana pun.

Di Iran pun ada aplikasi transportasi online. Nama aplikasinya SNAPP. Bisa di download di smartphone. Namun kendalanya cuma di bahasa, kebanyakan drivernya gak bisa bahasa Inggris. Waktu itu saya sempat coba order beberapa kali. Dari rumah teman di distrik Ghasr ke terminal bus Beyhaghi sopirnya sama sekali gak bisa bahasa Inggris, saya beberapa kali coba ajak ngobrol tapi dia cuma geleng-geleng, untung jaraknya dekat. Saya tunjukkan ke dia tiket bus Tehran-Isfahan yang full bahasa Farsi biar gak salah pas nge-drop. Orangnya ganteng seperti aktor film, dia juga baik sekali sampai membawakan tas serta bawaan kita dari parkiran langsung ke bus dan menunjukkan tempat duduk di atas bus, malah pake salaman dan peluk perpisahan segala, berasa kayak sepupunya yang mau berangkat haha.

Order berikutnya lagi dari bandara Mehrabad ke IKIA saya juga gunakan aplikasi Snap. Kali ini dapat sopir yang cool habis, bahasa Inggrisnya jago, dan bawa mobilnya ugal-ugalan khas kota Tehran banget! Dia ternyata pernah menjadi pilot pesawat charteran sekitar 3 tahun, tapi udah berhenti sejak tahun lalu. Biasanya di setiap taksi yang saya tumpangi sopir selalu putar lagu Iran, nah dia ini sangat kekinian, playlistnya lagu dance barat yang lagi hits. Di perjalanan kami banyak ngobrol, karena orangnya lumayan terbuka saya akhirnya jadi kepo dan banyak nanya, membuat saya jadi tahu 'the other side of Tehran', selain ngomongin tentang maraknya operasi plastik memungilkan hidung tentunya. Beberapa kali saya terperangah mendengar ocehanya.

Tujuan turis datang ke Iran rata-rata tertarik dengan kekayaan sejarah, landscape yang variatif, keragaman budaya dan juga wisata rohani. Iran adalah negara penganut Syiah terbesar, terdapat banyak tempat suci dan makam para Imam yang dijadikan tujuan ziarah pemeluk Syiah dari seluruh dunia. Sejarah Persia yang sudah berumur lebih dari 2500 tahun dengan dinasti yang silih berganti telah mewariskan kontribusi penting bagi peradaban dunia. Masjid-masjid besar dengan arsitektur indah, istana-istana megah, dan bangunan bernilai sejarah tinggi, menjadi saksi kemegahan masa lalu yang masih terpelihara hingga sekarang.

Yang paling bikin mata segar itu adalah banyak taman-taman hijau luas dengan kolam air mancur di beberapa sudut kota. Keluarga Iran memanfaatkanya untuk piknik. Adalah pemandangan lazim melihat keluarga Iran menggelar tikar dan duduk bercengkrama di taman atau di area publik lainya, sekedar lunch atau dinner bahkan ada yang membawa kompor portabel untuk memasak. Kuliner Iran yang lezat-lezat dan sehat membuat kita kadang was-was dengan lingkar pinggang. Ditambah lagi orang-orang Iran yang ramah dan rupawan bikin mata segar dan iler berjatuhan hahaha ooopss! Iran juga sangat bersih, jarang saya melihat onggokan sampah apalagi sampah plastik yang bertebaran di jalan. Supeerr sekalii...!

Ketika berjalan di bazaar atau tempat wisata mereka tak segan untuk mengucapkan salam dan menanyakan dari negara mana kita berasal. Di beberapa lokasi orang-orang Iran akan terkagum mengetahui kita sengaja datang jauh-jauh kesana untuk melancong, sementara yang mereka tahu negaranya masih diembargo dan lebih banyak diberitakan negatif oleh media luar negeri sehingga menyebabkan orang takut untuk datang. "Hello my friend, welcome to Iran!" Begitulah sapaan yang biasa saya dengar. Selanjutnya mereka akan menanyakan bagaimana pendapat kita tentang Iran. Bisa-bisa akan berakhir dengan ajakan untuk berkunjung ke rumah untuk minum teh atau jamuan makan. Begitulah keramahtamahan khas Iran.

Bahasa nasional yang digunakan di Iran adalah bahasa Farsi, tulisanya menggunakan aksara Arab namun pengucapanya tidak sama dengan bahasa Arab. Menurut pendengaran kuping saya, bahasa Farsi seperti perkawinan bahasa Arab dengan bahasa Turky. Dan ada beberapa propinsi di Iran yang mempunyai bahasa daerahnya sendiri, kurang lebih sama lah seperti kita di Indonesia. Golongan muda terpelajar di Iran rata-rata bisa berbahasa Inggris

Ada dresscode yang harus dipatuhi jika kita keluar rumah. Untuk pria harus memakai celana panjang, bisa dipadukan dengan tshirt atau kemeja. Sedangkan untuk wanita wajib berpakaian yang menutup kaki dan lengan serta menutup rambut, tidak harus jilbab, kebanyakan perempuan muda disana cuma memakai selembar kain yang nemplok di kepala, rambutnya masih kelihatan. Ibu-ibu biasanya lebih banyak memakai chadoor atau pakaian jubah yang berwarna hitam. Pria dan wanita yang bukan muhrim atau belum menikah dilarang bepergian berdua dan berpegangan tangan. Ada polisi shariah yang mengawasi masyarakat, kalau melanggar tentu saja akan kena sangsi. Di metro pun gerbong laki-laki dan perempuan dipisah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun