Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Dosen - 🌱

Menulis untuk berbagi pada yang memerlukan. Bersyukur atas dua juta tayangan di Kompasiana karena sahabat semua :)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Diskriminasi Tidak Ada di Indonesia... tapi Boong" (Tiga Cara Sikapi Diskriminasi di Indonesia)

12 Juni 2020   05:59 Diperbarui: 12 Juni 2020   06:15 197
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi diskriminasi dari pexels.com

- Seorang pemeluk agama Hindu bersekolah di Yogyakarta, yang masyarakatnya mayoritas pemeluk agama Islam. Ia menjadi minoritas di Yogyakarta.

- Seorang pemeluk agama Islam bekerja di Flores, yang masyarakatnya sebagian besar memeluk kristianitas. Ia menjadi minoritas di Flores.

Bahkan di kalangan pemeluk satu agama pun, bisa jadi seseorang menjadi minoritas. Tanpa perlu menyebut nama, kiranya kita paham akan adanya kelompok-kelompok kecil yang memiliki pandangan dan praktik ritual keagamaan yang (sedikit) berbeda dengan pandangan dan praktik ritual keagamaan arus utama. 

Masalah muncul ketika label pemeluk agama A hendak disematkan pada seluruh komponen pemeluk agama, yang di dalamnya memuat pula kelompok-kelompok kecil tersebut. Sering kali, kelompok yang dominan tidak mudah menerima kelompok minoritas. 

Dalam ulasan Setara Institute, terjadi diskriminasi terhadap kelompok umat beragama dalam relasi intra maupun antar agama.

Kilas Balik Jejak-Jejak Diskriminasi

Diskriminasi di Indonesia dilakukan oleh aneka pelaku, mulai dari aktor negara sampai sipil. 

Beberapa kilas balik jejak-jejak diskriminasi:

1) Peraturan Bersama 2 Menteri dijadikan alasan untuk menghambat pendirian rumah ibadah kelompok minoritas. Situasi seperti ini dengan mudah kita temukan di Aceh, Sulawesi Utara, Bali dan Papua.

Salah satu contoh adalah penolakan warga atas keberadaan GKI Yasmin di Bogor, meski telah mengantongi izin.

2) Seorang warga ditolak sebuah kampung di Bantul karena ia tidak seagama dengan mayoritas penduduk kampung. Bupati Bantul sampai harus turun tangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun