Mohon tunggu...
bernid may canigia
bernid may canigia Mohon Tunggu... Mahasiswa - Ordinary people

YOLO

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Makam Keramat Ema Dato, Saksi Selamat dari Ganasnya Letusan Gunung Krakatau

8 Oktober 2021   17:19 Diperbarui: 9 Oktober 2021   14:41 290 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Bangunan berunsur China -- Bali dengan cat dinding didominasi oleh warna merah dan kuning yang berada di daerah Tanjung Kait ini masih terawat dengan baik. 

Dikelilingi oleh pohon kelapa dan daun-daun yang rindang serta posisi bangunan yang menghadap langsung kearah laut pesisir Tanjung Kait menjadi objek alam yang sangat indah untuk tempat healing dan bersantai.

Bangunan tersebut dikenal dengan sebutan Klenteng Ema Dato Kosambi. Bagi orang Tionghoa, kelenteng bukan hanya tempat menyembah dewa-dewi. 

Kebanyakan kelenteng dibangun untuk menghormati tokoh tertentu, yang akhirnya dianggap sebagai patron profesi atau kaum tertentu, seperti Guan Gong yang terkenal karena keberanian dan kesetiaannya.

Oleh karena itu, kelenteng dianggap sebagai salah satu tempat keramat untuk sembahyang. Hampir semua kelenteng memiliki altar khusus untuk dayang lokal daerah mereka, seperti Empe Banten, Empe Dato, Neng Dewi, dan lainnya.

Di dalam bangunan yang hanya memiliki satu lantai ini menyimpan 4 pusara yang dikeramatkan yaitu, Ema Dato Kosambi, Encim, Empe, dan Pocoh Kampung beserta karuhunnya yaituMamang Compreng dan juga Altar Dewa Bumi dan TIAN (baca, Ti'en) atau Tuhan. 

Konon,dahulu makam ini tidak terkena dampak dari meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang memicu tsunami dengan ketinggian 12 kaki. Kejadian itu menjadi buah bibir dikalangan masyarakat pada saat itu hingga terciptanya sebuah lagu "Ketapang BanjirKosambi Karam".

Dokpri
Dokpri

Dengan rasa penasaran, saya mencari tahu tentang siapa itu Ema Dato dan yang lainnya. Tidak ada yang tahu secara pasti mengenai Ema Dato, tapi dari cerita yang sudah beredar di kalangan masyarakat setempat Ema Dato dikenal sebagai Lou Bu Cia. 

Dia merupakan seorang tabib dari China yang merantau mengarungi laut bersama pocoh kampung dan para pedagang yang lain. Hingga akhirnya Ema Datopun menetap di Tanjung Kait sampai akhir hayatnya, beliau meninggal pada tahun 1748. Sedangkan untuk Empe dan Encim beliau merupakan seorang tabib yang berasal dari Pulau Bali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Selengkapnya
Lihat Travel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan