Mohon tunggu...
Anjar Anastasia
Anjar Anastasia Mohon Tunggu... Penulis - ... karena menulis adalah berbagi hidup ...

saya perempuan dan senang menulis, menulis apa saja maka lebih senang disebut "penulis" daripada "novelis" berharap tulisan saya tetap boleh dinikmati masyarakat pembaca sepanjang masa FB/Youtube : Anjar Anastasia IG /Twitter : berajasenja

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dengan Hati kepada Pasien Covid

10 Juni 2021   18:13 Diperbarui: 10 Juni 2021   18:28 120
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lalu ada lagi cerita bahwa semua orang terdekat serta mengenalnya sudah berkumpul di ruang ICU untuk berdoa karena kondisi kritisnya. Bahkan diberitakan sebuah biara kosong karena semua penghuninya ke rumah sakit. Padahal seorang pekarya biara yang saya kenal malah cerita, di biara penghuninya nggak boleh kemana-mana sebagai antisipasi semua kondisi.

Yang sempat membuat saya geleng-geleng kepala ketika suatu pagi sudah dikirimi berita dari seorang teman yang bermaksud bertanya . Berita yang entah sudah berapa kali dikirim ulang itu menyatakan bahwa Pastor yang dimaksud sudah meninggal dunia. Lengkap dengan waktu dan sementara ada dimana.

Tentu saja saya tidak percaya. Langsung saya cek kepada yang lebih paham. Ternyata orang yang lebih paham itu malah baru tahu ada berita itu. Pastor yang dimaksud masih ada di ruang ICU. Memang sekitar seminggu kemudian beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Namun, semua rentetan berita sebelumnya tetap membuat saya dan teman-teman yang tahu merasa gemas.

Hingga meninggalnya pun, spekulasi penyebab meninggalnya sampai dihubungkan soal vaksin pun masih berseliweran. Duh...

Cerita terakhir adalah cerita yang dialami seorang adik yang saya kenal baik. Kebetulan kami sudah sangat dekat lama, kalau ada apa-apa cerita. Beberapa hari sebelum ia dinyatakan positif sempat bersama saya sebentar.

Sejak awal dia merasa tidak enak badan, saya berusaha untuk menemani meski hanya lewat chat. Menyarankan dia untuk memeriksakan diri serta terbuka dengan keluarganya. Saya juga mengerti tentang ketakutan dan kekuatirannya. Saya hati-hati sekali untuk menyarankan beberapa hal.

Ketika hasilnya positif, saya orang pertama yang diberitahu. Meski nadanya tetap riang, saya tahu dia memendam kekuatiran terutama harus bagaimana lagi sementara keluarganya ada yang malah memberi saran yang membuatnya makin panik. Maka kami bersama mencoba cari cara termudah dan bisa dijangkau dengan aman olehnya.

Di pihak lain, saya pun berusaha menenangkan diri sendiri. Biar saya merasa aman, apalagi sudah komplit divaksin, tetap saja rasa cemas itu muncul. Namun, saya pun harus terbuka kepada bos dan beberapa orang yang berhubungan. Kepada bos saya detail menerangkan kondisi. Namun, kepada orang-orang yang tidak berhubungan langsung dengan keadaan ini saya hanya memberitahu akan menjalani isoman karena ada rekan yang positif dan saya sempat bertemu.

Dari sini banyak pertanyaan dimulai. Bukan untuk diri saya sendiri saja, tetapi kepada adik yang positif tersebut. Bahkan ada yang sama sekali tidak kenal, bertanya dengan atas nama "bukan zamannya lagi menyembunyikan yang terkena covid" atau "siapa tahu dia butuh bantuan".

Atas semua alasan itu agar saya lebih detail cerita, saya hanya jawab bahwa anak itu sudah mendapat tempat isoman yang terjamin dan saya akan tes swab (yang ternyata hasilnya negative). Ada yang berhenti bertanya, ada yang masih berusaha dengan segala alasan untuk mengetahui anak yang dimaksud.

Sebenarnya, saya tidak ingin menyembunyikan. Tetapi, mengingat dari awal dia cukup panik dan kami berdua juga butuh waktu untuk menenangkan diri atas kondisi ini, saya memutuskan untuk tidak bicara banyak dulu tentang dia terutama. Kalau seiring waktu ketahuan nama dan cerita, tentu saya akan jawab. Secukupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun