Mohon tunggu...
Belfin P.S.
Belfin P.S. Mohon Tunggu... Lainnya - Pecinta Kompas dan Penulis yang Bahagia

Pecinta Kompas, penulis bebas yang bahagia. IG: @belfinpaians FB: belfin paian siahaan

Selanjutnya

Tutup

Film

"Ngeri-Ngeri Sedap": Bukan Negeri Tanpa Sebab

18 Juni 2022   23:49 Diperbarui: 18 Juni 2022   23:54 340 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Di sepanjang hidup saya, ini kali kedua saya menitikkan air mata saat menonton film. Bukan karena saya melankolis atau cengeng, tapi karena kandungan film "Ngeri-Ngeri Sedap" ini yang mengandung "bawang", membuat penonton trenyuh, terharu bahkan menangis dalam bisu seperti saya. Dada saya terasa sesak. Benak saya dibawa berlari ribuan kilomoter ke kedalaman masa lalu yang kelam dan suram. Kami, para laki-laki Batak, haram hukumnya untuk menangis karena menangis adalah simbol kelemahan dan kekalahan. Tapi kali ini, air mata saya tak terbendung karena adegan di film ini pernah saya alami. Selain itu, saya menangis terharu karena pada akhirnya, pemberontakan yang pernah saya lakukan ternyata juga dialami orang lain dan berujung pada happy ending, seperti yang yang saya alami. 

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang membuat saya belum puas. Saya tidak mendapati adanya permohonan maaf yang diucapkan langsung oleh si bapak kepada istri dan anak-anaknya. Harus saya akui, bahasa (Batak) belum (tidak) mengenal kata "maaf" sehingga berat bagi kami (laki-laki) untuk mengucapkanya karena gengsi dan harga diri. Hingga sampai saat ini pun, saya belum menemukan terjemahan atau padanan kata "maaf" dalam bahasa Batak, tidak seperti bahasa Inggris, 'sorry', atau bahasa Jawa, 'sepura'. Tapi ketidakpuasaan ini terbayarkan oleh perilaku tokoh bapak (Pak Domu) yang berubah. Setidaknya itu adalah bahasa lain dari permohonan maaf atas rasa bersalahnya kepada istri dan anak-anaknya. 

Bagi saya, film ini sangat pragmatis. Kedekatannya dengan konteks yang dialami para perantau dan para orang tua yang sangat merindukan kepulangan anaknya adalah betul terjadi. Saya bisa mengatakan kalau cerita di film ini adalah true story, bukan lagi cerita fiktif yang dibuat untuk tujuan komersil semata. Saya mengalaminya, begitu juga orang lain. Ada banyak kisah yang mirip dan dialami oleh banyak perantau Batak (khususnya laki-laki) yang enggan untuk kembali ke kampung halaman karena dua hal: adat dan hubungan yang tidak harmonis dengan bapak. Meskipun harus diakui bahwa para perantau selalu dalam berada dalam dilema ini: kasihan kepada ibu atau malas berhadapan dengan adat dan bapak yang masih kolot. Ujung-ujungnya, lebih banyak yang pulang karena rindu kepada ibu, lalu mencoba mengalah sejenak untuk kepentingan adat dan kemauan bapak. 

Film ini setidaknya membuka tabir problematika yang terjadi dalam tradisi keluarga Batak. Pertama, dominasi patriarki membuat posisi laki-laki selalu diuntungkan, baik dari segi marga, urusan adat, rumah tangga, pendidikan anak, bahkan dalam pengambilan keputusan. Di film ini, laki-laki yang direpresentasikan oleh tokoh bapak digambarkan egois, tidak mau mendengarkan, suka menghabiskan waktu di lapo (warung tuak), dan sebagai sosok pengambil keputusan, termasuk dalam menyutradarai sandiwara untuk berpura-pura bercerai dengan istrinya supaya ketiga anaknya mau mudik. Namun di sisi lain, ia juga digambarkan sebagai sosok yang cerdas, bertanggung jawab kepada keluarga dan anak-anaknya, setia pada adat, dan mau berubah. Sementara itu, perempuan digambarkan sebaliknya: penurut, setia, "pelayan" keluarga, dan tunduk kepada laki-laki.

Kedua,  posisi anak perempuan yang dikorbankan. Dalam hal ini, Sarma seolah dijadikan tumbal oleh dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan dan gagalnya peran laki-laki di kampung. Cita-citanya untuk bersekolah di Bali harus pupus karena opini bapak yang mengatakan bahwa memiliki pekerjaan yang pasti seperti PNS lebih menjanjikan dan memiliki masa depan yang lebih baik. Dan memang, menjadi PNS di kampung halaman adalah sebuah prestise bagi keluarga, pencapaian yang diingin-inginkan setiap anak dan orang tua di kampung untuk menjaga martabat keluarga. Di sisi lain, konteks ini juga menyiratkan makna lain bahwa perempuan sebaiknya tinggal di kampung, tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, apalagi sampai merantau, cukup laki-laki saja. Kehadiran anak perempuan di kampung diperlukan untuk mengurus kedua orang tuanya. Ironisnya lagi, masa depan Sarma untuk memilih pasangan hidup juga harus terkungkung oleh adat dan keputusan si bapak. Ia yang jatuh cinta dengan Noel terpaksa putus hanya karena Noel adalah seorang pria Jawa dan tidak direstui oleh si bapak. Dalam hal ini, Sarma tidak memiliki pilihan selain tinggal dengan kedua orang tuanya, menjadi PNS, dan berharap menemukan jodoh dari orang Batak. Agaknya, kasih sayang yang berlebihan kepada anak perempuannya ini menjadi dilema tersendiri bagi si bapak dan Sarma. Satu-satunya pilihan yang harus dikorbankan adalah menahan Sarma untuk tidak merantau dan "memaksanya" menjadi penyelamat keluarga saat peran laki-laki tidak hadir di kampung. 

Ketiga, paradigma dan cara berpikir yang masih konservatif. Hal ini ditunjukkan oleh cara berpikir si bapak yang masih terkungkung oleh adat dan cara didikan lama. Contohnya terbukti dari larangan menikah dengan perempuan atau laki-laki di luar suku Batak, pekerjaan yang menjanjikan dan pasti (misalnya PNS atau hakim/jaksa). Semua ini terjadi karena besarnya tekanan sosial untuk tetap mempertahankan nama baik keluarga di mata adat dan masyarakat. 

Keempat, hubungan anak laki-laki dan bapak yang kurang harmonis. Kurangnya afeksi yang ditunjukkan oleh bapak kepada anak-laki-lakinya membuat hubungan mereka menjadi kaku. Minimnya kasih sayang yang dirasakan ketiga anaknya membuat hubungan di antara ketiga anak itu pun menjadi kurang harmonis dan cenderung egois. Bukti minimnya afeksi ini terlihat pada adegan bertelepon. Si ibu selalu memainkan peran untuk berkomunikasi dengan ketiga anaknya, sementara si bapak hanya menguntit dan nimbrung di belakang si ibu dan enggan menyampaikannya secara langsung. Padahal, si bapak bisa saja bertelepon dan mengutarakan isi hatinya secara langsung (saya juga mengalami hal ini dan seringkali benci melakukannya karena pada akhirnya, saya bisa mendengar suara bapak yang mengomando si Mama untuk berbicara). Namun karena gengsi, ia meminta istrinya melakukan bagian komunikasi itu. Sebaliknya, afeksi ini justru didapatkan oleh Sarma, si anak perempuan. Tokoh si bapak lebih mampu menunjukkan kasih sayangnya kepada anak perempuannya ketimbang anak laki-lakinya. Didikan ini di satu sisi memberikan hal yang positif kepada anak laki-lakinya karena mereka memperlakukan perempuan dengan penuh kasih sayang, sama seperti perlakuan ketiga anak itu kepada ibunya. Mereka menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar kepada ibunya ketimbang kepada si bapak. Hal ini juga yang mendorong mereka untuk mudik karena lebih perhatian kepada ibunya. Namun, hubungan yang tidak harmonis dengan bapak ini juga menjadi salah satu motif utama yang membuat ketiga anak itu enggan untuk mudik. 

Kelima, peran ibu yang hebat, tapi tidak berdaya. Di film ini, peran ibu dalam keluarga memang luar biasa. Ia sangat berperan besar dalam membesarkan anak-anaknya, setia mendampingi mereka, dan menjadi teladan yang menginspirasi anak-anaknya. Ia pun dirindukan, dicintai, dan dibanggakan. Namun, ia tidak memiliki kuasa dalam pengambilan keputusan yang selalu didominasi suaminya. Ia hanya berperan sebagai pengeksekusi keputusan walaupun itu sangat memberatkan hatinya, terutama ketika harus merelakan anak laki-lakinya merantau dan bersekolah di luar kota. Pada praktiknya, hal ini mungkin terjadi karena secara struktur, baik dalam keluarga maupun adat, posisi perempuan kurang begitu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. Laki-laki sebagai tulang punggung keluarga dianggap lebih baik dalam memutuskan segala sesuatu. 

Terlepas dari terkuaknya problematika yang dialami oleh keluarga Batak tersebut, agaknya film ini mencoba untuk memberikan refleksi diri kepada penontonnya, khususnya masyarakat Batak yang mengalami peristiwa yang sama. Seperti yang saya katakan sebelumnya, 99 persen adegan yang terdapat dalam film ini saya rasakan, termasuk ketika memutuskan untuk menikah dengan wanita Jawa (bagian ini sudah seperti perang saudara saja, bikin emosi dan perang dingin). Refleksi diri ini tidak lagi sebagai perenungan semata, tetapi sebuah jalan yang ditawarkan untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan manusia itu telah berubah. Bagi saya pribadi, setidaknya ada beberapa hikmat yang dapat dipelajari dari film ini. 

Pertama, kita harus mengubah diri sendiri untuk mengubahkan orang lain. Film ini sangat kreatif mengolah konsep ini menjadi sebuah pelajaran berharga, khususnya kepada orang-orang yang sulit menerima perubahan. Dalam hal ini, tokoh si bapak yang awalnya bersikeras mempertahankan adat dan keyakinannya kepada anak-anaknya, pada akhirnya merenungkan masukan dari anak-anak dan istrinya (setelah ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya). Ada sebuah momen yang membuat ia menyadari bahwa sekelilingnya telah berubah dan hanya ia sendiri yang belum berubah. Ketika ia memaksakan kondisinya kepada anak-anaknya, hanya konflik yang terjadi. Akhirnya, ia membuka pikirannya dan mencoba menyelidikinya satu per satu. Asumsi-asumsi negatif yang selama ini memenjarakan pikirannya ternyata sudah tidak berlaku lagi. Misalnya, wanita Sunda tidaklah buruk seperti yang ada di pikirannya selama ini. Pekerjaan melawak juga membanggakan dan bisa membuat orang lain bahagia. Mengabdi kepada masyarakat juga sangat memberkati. Nah, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mengubah diri sendiri dan tidak kaku seperti yang dikatakan oleh ibunya sendiri, "Cara didikan lama itu hanya berlaku untuk orang di sini (kampung). Menjadi orang tua itu tidak pernah ada tamatnya. Harus belajar seumur hidup". Artinya, menjadi orang tua juga harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Kedua, mau mendengarkan dan tidak egois. Mungkin karena posisi laki-laki dianggap penting dan utama (baik dalam keluarga dan adat), ada kencenderungan yang membuat mereka sulit mendengarkan orang lain, terutama pendapat perempuan. Hal ini semakin diperkuat karena dominasi mereka dalam pengambilan keputusan. Karena suara mereka diperhitungkan sehingga cenderung merasa dirinya adalah benar. Alhasil, laki-laki menjadi lebih egois karena memperjuangkan diri mereka sendiri, sementara perempuan cenderung mengikuti keputusan pihak laki-laki. Dalam film ini, kelemahan ini menjadi satu hal yang sangat dikritisi seperti yang terdapat di klimaks cerita saat Sarma mengungkapkan isi hatinya yang selama ini terbungkam dan tidak pernah didengarkan. Pengakuan Sarma ini juga menjadi tamparan keras buat ketiga saudara laki-lakinya, termasuk bapaknya. Bagi saya pribadi, saya mengakui dan mengamini bagian ini karena seringkali anak perempuan diperlakukan tidak adil seperti ini. Mereka harus menuruti keputusan orang tua dan merelakan impiannya demi mendahulukan kepentingan saudara laki-lakinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan