Mohon tunggu...
said abdullah
said abdullah Mohon Tunggu... Bankir - Politisi

Senang Membaca dan Menulis

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

APBN 2019 di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

7 Desember 2019   19:50 Diperbarui: 10 Desember 2019   13:47 153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tidak stabilnya harga barang-barang komoditas dipasar internasional juga memberikan dampak bagi produksi (lifting) dan harga minyak nasional (ICP). Sampai dengan akhir Oktober 2019, lifting minyak nasional baru mencapai 744.700 barel per hari (bph) dari target APBN 2019 yang mencapai 775.000 bph. 

Begitupula realisasi lifting gas baru mencapai 1.050.000 setara barel per hari dari target 1.250.000. Harga minyak nasional, per 30 oktober harga ICP mencapai 62,00 US$ per barel, sedangkan target APBN 2019 70 US$ per barel. 

Tidak tercapainya lifting migas tentu akan berdampak terhadap penerimaan PPn Migas dan PNBP dalam realisasi penerimaan APBN 2019.

Melambatnya perekonomian global telah memberikan dampak yang signifikan terhadap penerimaan nasional, khususnya sektor perpajakan dan PNBP. Hal ini terlihat dari penerimaan sektor perpajaan sampai dengan bulan oktober 2019, baru mencapai Rp. 1.173,89 triliun atau sekitr 65,71% dari target sebesar Rp 1.786,38 triliun dalam APBN 2019. 

Diperkirakan realisasi pendapatan pajak hingga akhir 2019, diprediksi hanya akan mencapai 85 persen. Sampai dengan akhir tahun, exstra effort Direktorat Jenderal Pajak (DJP), kemungkinan besar tidak akan tercapai secara optimal. Bahkan akan  terdapat shortfall pajak sekitar 150 triliun. Begitupula dengan PNBP, sampai dengan 31 Oktober 2019 realisasi PNBP mencapai Rp 333,29 triliun atau 88,10 persen dari target APBN 2019 sebesar 378,3 triliun. 

Melihat kinerja sektor perpajakan yang tidak akan mencapai target penerimaan, langsung memberikan dampak terhadap defisit anggaran. Sampai dengan akhir Oktober 2019, realisasi defisit anggaran telah mencapai angka Rp 289,1 triliun atau sekitar 1,80 persen dari PDB. 

Angka tersebut sudah mendekati target APBN 2019 di mana defisit dipatok pada angka Rp 296 triliun yang setara dengan 1,84% dari PDB. Kami memprediksi, sampai dengan akhir tahun 2019, angka defisit akan berada pada kisaran 2,0-2,2 persen dari PDB. 

Konsekuensi yang harus dihadapi adalah realisasi pembiayaan utang mencapai Rp 384,52 triliun atau 107,03 persen dari target APBN 2019 sebesar Rp 359,25 triliun. Adapun keseimbangan primer juga mengalami peningkatan menjadi Rp 68,42 triliun dari target APBN 2019 sebesar Rp 20,1 triliun.

Pelajaran Dari APBN 2019  

Prediksi Presiden Joko Widodod bahwa Winter is Coming telah menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh banyak negara di dunia, termasuk Indonesia sendiri. 

Kondisi ekonomi global yang terkena "winter" sepanjang tahun 2019, seharusnya sudah bisa diantisipasi oleh banyak negara sehingga tidak terjatuh kedalam jurang resesi ekonomi yang dalam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun