Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Supir - Let There Be Love

(PPTBG) Pensiunan Penyanyi The Bee Gees

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pinggul

14 Agustus 2021   14:07 Diperbarui: 14 Agustus 2021   14:15 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Imaged by pixabay.com

Apakah saya tidak akan melakukannya lagi? Saban malam sejak entah kapan saya rasakan, terlebih di muka cermin, pertanyaan itu kembali mengusik. Ketika mahluk mungil itu tersunyi di tilamnya, saya membolak-balik pinggul saya. 

Terlihat tonjolan di lekukan pinggang saya. Saya pikir itu seperti batang pohon yang terbelah. Saya mengusapnya ke atas lalu ke bawah untuk merasakan lekukan yang terbentuk. 

Saya pikir saya bisa mengembalikannya lagi, tapi itu ketika malaikat kecil tengah tertidur. Ini beberapa kali, yang terjadi lagi, ketika princess itu terjaga dari mimpinya dan memanggil saya perempuan kehidupannya, serta merta yang barusan itu akan terhapus tanpa bekas.

Saya akan mengambil berat badannya dan menempatkannya pada lekukan ini, lalu kami akan tampak seperti pohon yang terbelah di pertigaan. Dari bayangan, memang seperti sepasang kekasih yang bersandar pada waltz, dengan sensasi dansa yang merindu.

Itu hampir sepanjang hari kehidupan awannya, sampai dia pulang kembali ke dalam mimpinya, sekaligus mengembalikan saya kepada lekukan pinggul saya ke dalam cermin. Saya kembali berada dalam jam-jam bimbang. Apakah saya mesti melepaskannya?

Papa tidak pernah tahu? Jelas! Saya menutupnya rapat-rapat. Ini jauh dari kelelakian, kupikir ini sangat keperempuanan. Biasanya di ujung pekan papa bergantian memangkunya, tapi papa memiliki tangan dan pinggul yang kokoh, lagian dia tidak melakukannya selama yang saya lakukan. 

Hanya hari-hari akhir pekan saja dan sesekali pada tengah malam lelaki itu bersedia memanggulnya saat si kecil ngelilir dan merajuk. Selebihnya adalah waktu saya, yang bisa merasakan pertambahan beratnya, bahkan hari demi hari saking seringnya kami berpasangan. Dia sudah mengerti lekukan di pingang saya untuk langsung menempatinya dengan nyaman, menjadikan lekukan itu bertambah besar, seperti palung.

Hanya saja saya sedikit resah ketika berpikir tentang ketertarikan lelaki, meskipun papa tidak menampilkan tanda kearah demikian, bahkan saya meyakini ini bukan apa-apa buatnya, bahkan sekedar memikirkannya. Tetapi tidak terlalu mudah bagi saya untuk menelannya, itu tidak hitam putih, itu terkadang bisa menjadi sederhana dan berubah menjadi njelimet, ataupun sebaliknya.

Di dalam rumah, di dalam ruang tidur, kami serasi dan berdekatan saat tidur, namun hidup bukan kamar di malam bercahaya remang. Hidup akan mulai membesar begitu matahari menampakkan guratnya fajar, lalu memulai hari baru yang bisa membuat saya melow, seperti akhir-akhir ini. 

Ternyata hidup begitu luas dari sekedar rumah kami. Dan, ah! Si kecil itu, yang mata bundarnya seperti orang suci dan lengannya seperti malaikat mungil, kembali menggugurkan rencana saya. Lalu membuat kebanggaan yang semakin mempertajam kemauanku untuk melepaskannya dari pinggang saya.
***
Malam ini ada pesta dansa, sayang! Kata papa sepulang sore. Jika sudah begini saya seperti mendengar kabar buruk, kepala saya mendadak pening, meski saya ragu, apakah ini sungguhan atau pura-pura. Tapi beberapa kali ini berulang saya menjadi sepi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun