Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... BAMS, lebih senang DIAJARI oleh PUISI daripada DIAJARI oleh SAJAK; kalau puisi ngajarinya serius sekali, sedangkan dengan sajak malah diajak tertawa terbahak-bahak ngakak! ©

========================================== BAMS, hidup dan mencari NAFKAH sebagai Dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Pernah BELAJAR di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. BAMS, lebih senang DIAJARI oleh PUISI daripada DIAJARI oleh SAJAK; kalau puisi ngajarinya serius sekali, sedangkan dengan sajak malah diajak tertawa terbahak-bahak ngakak! ========================================== KEPADA SEMUA TEMAN, yang telah memberikan KERAMAHAN KOMEN dan PENILAIAN, saya mengucapkan SANGAT BERTERIMAKASIH. 🙏🤝🙏 ========================================== KEPADA ADMIN KOMPASIANA, yang telah dengan SANGAT BAIK dalam MENGELOLA dan menyediakan TEMPAT BERBAGI LITERASI, saya mengucapkan SALAM SALUT dan SANGAT BERTERIMAKASIH. 🙏🤝🙏 ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Monolog 15: Agama

9 Juni 2021   02:10 Diperbarui: 9 Juni 2021   02:12 96 19 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Monolog 15: Agama
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

Monolog 15: Agama

Fia, apa pandanganmu tentang agama ?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat kemanusiaanmu? Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat asal dan tujuanmu?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat asal dan tujuan perbuatanmu ?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat penciptaanmu ?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat jiwamu ?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat kehidupanmu ?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat kematianmu ?
Apakah dengan engkau beragama, engkau telah memahami hakekat penyembahanmu?

Anakku, sederet pertanyaan ayahmu itu, masih akan berderet-deret lagi. Setelah engkau
mampu menjawabnya, cobalah engkau ganti kata "memahami" itu dengan kata "merasakan".
Lalu berikutnya, kau ganti lagi dengan kata " menghidupi ". Dan seterusnya, hingga engkau menemukan apa itu hakekat agama.
Disini, ayahmu hanya memberikan garis besarnya saja, bahwa agama itu adalah bagaimana engkau memperlakukan hakekat dirimu. Bahwa agama itu adalah bagaimana engkau memperlakukan perjumpaanmu, memperlakukan semestamu. Dan bahwa agama itu adalah bagaimana engkau memperlakukan kesunyian dan kasunyatanmu. Dan bahwa agama itu adalah dirimu; bukan yang engkau katakan, serta bukan pula yang engkau pamerkan kepada lingkunganmu. Sedangkan kejujuran, keadilan, dan hukum sebab-akibat dari hakekat perbuatanmu itulah kualitas agamamu, kualitas dirimu, kualitas semestamu.

Anakku, ketahuilah bahwa agama bukanlah suatu titik, namun suatu gelombang, suatu
proses real menuju yang maha etik, maha mengharukan dan maha sunyi, maha kosong, maha suwung, suwung dari pamrih, suwung dari kebiadaban.

Fia, anakku, sayang, cobalah renungi puisi ayahmu di bawah ini:
 
sepisepisepi !
 
sepi di langit sepi di bumi sepi di rumahMu
sepi di gunung sepi di laut sepi di pulau
sepi di rumput sepi di bunga sepi di danau
sepi bercakap sepi berpeluk sepi menikam
sampai dalam, dalam laguku
sepi malam sepi kupu-kupu terbang
menghilang
kuhalau sepiku sambil memunguti
sepiMu

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x